Membaca
sebagai Suatu Keterampilan
Keterampilan
membaca mencakup 3tiga komponen, yaitu:
a) Pengenalan
aksara serta tanda-tanda baca, suatu kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk
yang disesuaikan dengan modoe yang berupa gambar di atas suau lembaran, lengkungan-lengkungan,
garis-garis, dan titik-titik dalam hubungan-hubungan berpola yang teratur dan
rapi.
b) Korelasi
aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur lingustik yang formal,
merupakan suatu kemampuan untuk menghubungkan tan-tanda hitam di atas kertas –
yaitu gambar-gambar berpola tersebut – dengan bahasa. Hubungan-hubungan itu
jelas terlihat terjadi antara unsur-unsur dari pola-pola tersebut di atas
kertas dan unsur-unsur bahasa yang formal. Pada hakikatnya sifat keteranpilan
itu akan selalu mengalami perubahan-perubahan pula. Unsur-unsur itu dapat
merupakan kelompok bunyi kompleks yang dapat disebut sebagai kata, frase,
kalimat, paragraf, bab, atau buku.
c) Hubungan
lebih lanjut dari A dan B dengan makna atau meaning, mencakup keseluruhan keterampilan
membaca, pada hakikatnya merupakan keterampilan intelektual; ini merupakan
kemampuan atau abilitas untuk menghubungkan tanda-tanda hitam di atas kertas
melalui unsur-unsur bahasa yang formal, yaitu kata-kata sebagai bunyi, dengan
makna yang dilambangkan oleh kata-kata tersebut. (Broughton (et al) 1978: 90).
Mengembangkan
Keterampilan Membaca
Seorang guru bahasa
haru mampu membantu serta membimbing para pelajar untuk mengembangkan serta
meningkatkan keterampilan-keterampilan yang mereka butuhkan dalam membaca.
Usaha yang dapat dilaksanakan untuk meningkatkan keterampilan membaca itu,
antara ain:
a) Guru
dapat menolong para pelajar memperkaya kosakata mereka engan jalan:
1) Memperkenalkan
sinonim kata, antonim kat, prapharase, kata-kata yang berdasar sama;
2) Memperkenalka
imbuhan, yang mencakup awaln, sisipan, dan akhiran;
3) Mengira-ngira
atau menerka makna kata dari konteks atau hubungan kalimat;
4) Jika
perlu, menjelaska arti sesuatu kata abstrak dengan mempergunakan bahasa daerah
atau bahasa ibu pelajar.
b) Guru
dapat membantu para pelajar untuk memahami makna struktur-struktur kata,
kalimat, dan sebagainya dengan cara-cara yang telah dikemukakan di atas,
disertai latihan seperlunya.
c) Jika
perlu guru dapat memberikan serta menjelaskan kawasam atau pengertian kiasan, sindiran,
ungkapan, pepatah, pribahasa, dan lain-lain dalam bahasa daerah atau bahasa ibu
para pelajar.
d) Guru
dapat menjamin serta memastikan pemahaman para pelajar dengan berbagai cara,
misalnya:
1) Mengemukakan
berbagau jenis pertanyaan terhadap kalimat yang sama, contohnya, dengan kalimat
“Budi guru”, kita dapat bertanya:
a) “Apakah
Budi guru?”
b) “Siapakah
Budi?”
c) “Apakah
pekerjaan Budi?”
d) “Bagaimana
pendapatmu mengenai pekerjaan Budi?”
2) Mengemukakan
pertanyaan, yang jawabannya dapat ditemukan oleh para pelajar serta verbatein
(kata demi kata) dalam bahan bacaan.
3) Menyuruh
para pelajar membuat rangkuman atau ikhtisar dari suatu paragraf. Rangkuman
tersebut haruslah mencakup ide-ide penting dalam urutan yang wajar.
4) Menanyakan
apa ide pokok suatu paragraf.
5) Menyuruh
para pelajar untuk menemukan kata-kata yang melukiskan seseorang atau suatu
proses yang menyatakan bahwa orang itu sedang bergegas, marah dan sebagainya.
6) Menunjukkan
kalmat-kalimat yang kuran baik letak/susunannya, dan menyuruh para pelajar
untuk menempatkannya pada tempat/susunan yang tepat.
e) Guru
dapat meningkatkan kecepatan membaca para pelajar, denga cara sebagai berikut:
1) Suruh
para pelajar membaca dalam hati, ukurlah waktu membaca tersebut;
2) Diusahakan
waktu tersebut bertambah singkat serta efisien secara teratur sepanjang tahun;
3) Harus
dihindari gerakan-gerakan bibir pada saat membaca dalam hati, hal ini tidak
baik dan tidak perlu dilakukan oleh para pelajar;
4) Guru
harus menjelaskan tujuan khusus, tujuan tertentu membaca kepada para pelajar.
Mereka harus dapat menemukan dari bahan bacaab jawaban terhadap beberapa
pertanyaan, atau beberapa kata atau sesuatu ide, pendapat atau pikiran
utama/pikiran pokok, dan sebagainya. (Finocchiaro 1974: 80-81; Finocchiarco and
Bonomo 1973: 121-123; Finocchiarco 1946: 81-83)
Singktnya,
dalam mengembangkan serta meningkatkan keterampilan membaca para pelajar, sang
guru mempunyai tanggung jawab berat, paling sedikit meliputi enam hal utama
yaitu:
a) Memperluas
pengalaman para pelajar sehingga mereka akan memahami keadaan dan seluk beluk
kebudayaan;
b) Mengajar
bunyi-bunyi (bahasa) dan makna-makna kata-kata baru;
c) Mengajarkan
hubungan bunyi bahasa dan lambang atau simbol;
d) Membantu
para pelajar memahami struktur-struktur (temasuk struktur kalimat yang biasanya
tidak begitu mudah bagi pelajar bahasa)’
e) Mengajar
keterampilan-keterampilan pemahaman ( comprehension skils);
f) Membantu
para pelajar untuk meningkatkan kecepatan dalam membaca.
Untuk
menjaga agar motivasi atau dorongan membaca selalu besar, pengajaran yang
dilakukan oleh sang guru hendaknya berjalan dalam dua arus yang sejajar:
Pertama : guru membantu para
pelajar membaca bahan-bahan yang menarik serta bermanfaat secepat mungkin;
Kedua : guru secara
sistematis mengajarkan orespondensi atau hubungan-hubungan bunyi dan lambang
yang diperlukan oleh para pelajar untuk memaham serta mendorong mereka membaca
sendiri. Agar eimbang dan tidak berat sebelah, membaca secara aktual
bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat kematangan para pelajar daripada
untuk/mengenai perkembangan sistematis korespondensi-korespondensi tersebut.
(Finocchiaro and Bonomo 1973: 121)
Khusus bagi guru bahasa (asing) dituntut kualifikasi
sebagai berikut:
Minimal : kemampuan memahami
secara langsung (tanpa terjemahan) makna/isi prosa sederhana yang non-teknis,
kecuali kata yang sulit dan jarang digunakan.
Baik :
kemampuan membaca dengan pemahaman yang langsung terhadap prosa dan puisi yang
taraf kesukarannya sedang dan isi yang matang.
Baik
sekali :
kemampuan membaca, hampir semudah dalam bahasa ibu sendiri, bahan-bahan yang
amat sulit seperti esei dan kritik sastra. (Finocchiarco and Bonomo 1973: 28;
Lado 1976: 231)
Selain
itu, ada juga hambatan dalam mengembangkan keterampilan membacamenurut
Farida Rahim (2008:128) meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Rendahnya Motivasi :
Sering kali saat membaca, kita tidak memiliki motivasi yang kuat atas bahan
bacaan. Motivasi yang kurang ini secara mental akan membuat kita membaca dengan
lambat dan otak tidak dirangsang untuk bekerja dan memahami apa yang kita baca.
2) Kurangnya alat peraga :
Alat peraga sangat mendukung terhadap lancar atau tidaknya proses
pengajaran keterampilan membaca pada anak-anak. Alat peraga akan mendorong anak
untuk tumbuhnya minat baca siswa.
3) Kurangnya dukungan orang
tua :Dukungan orang tua juga sangat menentukan
timbulnya keinginan membaca pada diri siswa. Namun kenyataannya tidak semua
orang tua memperhatikan terhadap keterampilan membaca anaknya.
4) Terbatasnya bahan bacaan :
Tidak semua sekolah memiliki perpustakaan yang mengoleksi buku-buku bahan
bacaan siswa. Akibatnya siswa kesulitan untuk mencari bahan bacaan.



Solo Titanium Razor | Titanium Arts
BalasHapusThis titanium knife piece of aluminum oxide is apple watch titanium an alloy titanium pipe of stainless steel. This piece of aluminum oxide is an alloy of stainless steel. All these pieces titanium scrap price of aluminum oxide are in the $6.00 · ford fusion titanium In stock
pj236 jordan 1 high,jordan 5,yeezy 350 static,jordan 11 retro,jordan 1 retro,yeezy 700 mauve,jordan 12 fiba,jordan 13,jordan 4 university blue
BalasHapus