Rabu, 18 Desember 2013

Lanjutan Membaca

Posted by Unknown on 22.29 with 2 comments


Membaca sebagai Suatu Keterampilan
Keterampilan membaca mencakup 3tiga komponen, yaitu:
a)      Pengenalan aksara serta tanda-tanda baca, suatu kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk yang disesuaikan dengan modoe yang berupa gambar di atas suau lembaran, lengkungan-lengkungan, garis-garis, dan titik-titik dalam hubungan-hubungan berpola yang teratur dan rapi.
b)      Korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur lingustik yang formal, merupakan suatu kemampuan untuk menghubungkan tan-tanda hitam di atas kertas – yaitu gambar-gambar berpola tersebut – dengan bahasa. Hubungan-hubungan itu jelas terlihat terjadi antara unsur-unsur dari pola-pola tersebut di atas kertas dan unsur-unsur bahasa yang formal. Pada hakikatnya sifat keteranpilan itu akan selalu mengalami perubahan-perubahan pula. Unsur-unsur itu dapat merupakan kelompok bunyi kompleks yang dapat disebut sebagai kata, frase, kalimat, paragraf, bab, atau buku.
c)      Hubungan lebih lanjut dari A dan B dengan makna atau meaning, mencakup keseluruhan keterampilan membaca, pada hakikatnya merupakan keterampilan intelektual; ini merupakan kemampuan atau abilitas untuk menghubungkan tanda-tanda hitam di atas kertas melalui unsur-unsur bahasa yang formal, yaitu kata-kata sebagai bunyi, dengan makna yang dilambangkan oleh kata-kata tersebut. (Broughton (et al) 1978: 90).

Mengembangkan Keterampilan Membaca
Seorang guru bahasa haru mampu membantu serta membimbing para pelajar untuk mengembangkan serta meningkatkan keterampilan-keterampilan yang mereka butuhkan dalam membaca. Usaha yang dapat dilaksanakan untuk meningkatkan keterampilan membaca itu, antara ain:
a)      Guru dapat menolong para pelajar memperkaya kosakata mereka engan jalan:
1)      Memperkenalkan sinonim kata, antonim kat, prapharase, kata-kata yang berdasar sama;
2)      Memperkenalka imbuhan, yang mencakup awaln, sisipan, dan akhiran;
3)      Mengira-ngira atau menerka makna kata dari konteks atau hubungan kalimat;
4)      Jika perlu, menjelaska arti sesuatu kata abstrak dengan mempergunakan bahasa daerah atau bahasa ibu pelajar.
b)      Guru dapat membantu para pelajar untuk memahami makna struktur-struktur kata, kalimat, dan sebagainya dengan cara-cara yang telah dikemukakan di atas, disertai latihan seperlunya.
c)      Jika perlu guru dapat memberikan serta menjelaskan kawasam atau pengertian kiasan, sindiran, ungkapan, pepatah, pribahasa, dan lain-lain dalam bahasa daerah atau bahasa ibu para pelajar.
d)     Guru dapat menjamin serta memastikan pemahaman para pelajar dengan berbagai cara, misalnya:
1)      Mengemukakan berbagau jenis pertanyaan terhadap kalimat yang sama, contohnya, dengan kalimat “Budi guru”, kita dapat bertanya:
a)      “Apakah Budi guru?”
b)      “Siapakah Budi?”
c)      “Apakah pekerjaan Budi?”
d)     “Bagaimana pendapatmu mengenai pekerjaan Budi?”
2)      Mengemukakan pertanyaan, yang jawabannya dapat ditemukan oleh para pelajar serta verbatein (kata demi kata) dalam bahan bacaan.
3)      Menyuruh para pelajar membuat rangkuman atau ikhtisar dari suatu paragraf. Rangkuman tersebut haruslah mencakup ide-ide penting dalam urutan yang wajar.
4)      Menanyakan apa ide pokok suatu paragraf.
5)      Menyuruh para pelajar untuk menemukan kata-kata yang melukiskan seseorang atau suatu proses yang menyatakan bahwa orang itu sedang bergegas, marah dan sebagainya.
6)      Menunjukkan kalmat-kalimat yang kuran baik letak/susunannya, dan menyuruh para pelajar untuk menempatkannya pada tempat/susunan yang tepat.
e)      Guru dapat meningkatkan kecepatan membaca para pelajar, denga cara sebagai berikut:
1)      Suruh para pelajar membaca dalam hati, ukurlah waktu membaca tersebut;
2)      Diusahakan waktu tersebut bertambah singkat serta efisien secara teratur sepanjang tahun;
3)      Harus dihindari gerakan-gerakan bibir pada saat membaca dalam hati, hal ini tidak baik dan tidak perlu dilakukan oleh para pelajar;
4)      Guru harus menjelaskan tujuan khusus, tujuan tertentu membaca kepada para pelajar. Mereka harus dapat menemukan dari bahan bacaab jawaban terhadap beberapa pertanyaan, atau beberapa kata atau sesuatu ide, pendapat atau pikiran utama/pikiran pokok, dan sebagainya. (Finocchiaro 1974: 80-81; Finocchiarco and Bonomo 1973: 121-123; Finocchiarco 1946: 81-83)
Singktnya, dalam mengembangkan serta meningkatkan keterampilan membaca para pelajar, sang guru mempunyai tanggung jawab berat, paling sedikit meliputi enam hal utama yaitu:
a)      Memperluas pengalaman para pelajar sehingga mereka akan memahami keadaan dan seluk beluk kebudayaan;
b)      Mengajar bunyi-bunyi (bahasa) dan makna-makna kata-kata baru;
c)      Mengajarkan hubungan bunyi bahasa dan lambang atau simbol;
d)     Membantu para pelajar memahami struktur-struktur (temasuk struktur kalimat yang biasanya tidak begitu mudah bagi pelajar bahasa)’
e)      Mengajar keterampilan-keterampilan pemahaman ( comprehension skils);
f)       Membantu para pelajar untuk meningkatkan kecepatan dalam membaca.
Untuk menjaga agar motivasi atau dorongan membaca selalu besar, pengajaran yang dilakukan oleh sang guru hendaknya berjalan dalam dua arus yang sejajar:
Pertama        : guru membantu para pelajar membaca bahan-bahan yang menarik serta bermanfaat secepat mungkin;
Kedua           : guru secara sistematis mengajarkan orespondensi atau hubungan-hubungan bunyi dan lambang yang diperlukan oleh para pelajar untuk memaham serta mendorong mereka membaca sendiri. Agar eimbang dan tidak berat sebelah, membaca secara aktual bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat kematangan para pelajar daripada untuk/mengenai perkembangan sistematis korespondensi-korespondensi tersebut. (Finocchiaro and Bonomo 1973: 121)
Khusus bagi guru bahasa (asing) dituntut kualifikasi sebagai berikut:
Minimal         : kemampuan memahami secara langsung (tanpa terjemahan) makna/isi prosa sederhana yang non-teknis, kecuali kata yang sulit dan jarang digunakan.
Baik               : kemampuan membaca dengan pemahaman yang langsung terhadap prosa dan puisi yang taraf kesukarannya sedang dan isi yang matang.
Baik sekali     : kemampuan membaca, hampir semudah dalam bahasa ibu sendiri, bahan-bahan yang amat sulit seperti esei dan kritik sastra. (Finocchiarco and Bonomo 1973: 28; Lado 1976: 231)
Selain itu, ada juga hambatan dalam mengembangkan keterampilan membacamenurut Farida Rahim (2008:128) meliputi hal-hal sebagai berikut:
1)      Rendahnya Motivasi                   : Sering kali saat membaca, kita tidak memiliki motivasi yang kuat atas bahan bacaan. Motivasi yang kurang ini secara mental akan membuat kita membaca dengan lambat dan otak tidak dirangsang untuk bekerja dan memahami apa yang kita baca.
2)      Kurangnya alat peraga                : Alat peraga sangat mendukung terhadap lancar atau tidaknya proses pengajaran keterampilan membaca pada anak-anak. Alat peraga akan mendorong anak untuk tumbuhnya minat baca siswa.
3)      Kurangnya dukungan orang tua :Dukungan orang tua juga sangat menentukan timbulnya keinginan membaca pada diri siswa. Namun kenyataannya tidak semua orang tua memperhatikan terhadap keterampilan membaca anaknya.
4)      Terbatasnya bahan bacaan          : Tidak semua sekolah memiliki perpustakaan yang mengoleksi buku-buku bahan bacaan siswa. Akibatnya siswa kesulitan untuk mencari bahan bacaan.


2 komentar:

  1. Solo Titanium Razor | Titanium Arts
    This titanium knife piece of aluminum oxide is apple watch titanium an alloy titanium pipe of stainless steel. This piece of aluminum oxide is an alloy of stainless steel. All these pieces titanium scrap price of aluminum oxide are in the $6.00 · ford fusion titanium ‎In stock

    BalasHapus