Rabu, 18 Desember 2013

Contoh Cerpen

Posted by Unknown on 22.58 with No comments


SEBELUM SEMBAHYANG

Matahari mulai merundukkan sinarnya di ufuk barat. Mulai terlihat awan yang memerah, sedikit terhiasi dengan awan muram. Terlihat sebuah bangunan yang megah dan agung, berdiri kokoh bersanding dengan hamparan petak sawah dan perkampungan warga. Terdengar suara kentongan dan beduk, disusul sang penyeru mulai mengumandangkan suaranya untuk mengajak para warga agar segera menunaikan ibadah di saat senja.
Saat itu suasana perkampungan masih sepi. Tak terlihat bayangan di jalanan kampung. Siluet-siluet yang tampak dibalik tirai rumah-rumah. Saat semua warga sibuk menyiapkan diri untuk pergi ke Masjid, tampak sekelompok pemuda yang kurang kerjaan sedang nongkrong di sebuah gang yang sepi. Mereka sedang santai berbincang-bincang tentang adzan yang berkumandang begitu kerasnya.
“Adzan! Adzan! Wah baru kali ini aku dengar istilah itu. Kok, hampir sama, ya? Adzan! Edan!” ujar Copet I dengan memasang tampang bodoh.
Mendengar ucapan tersebut Copet IV mengingatkan bahwa yang diucapkan temannya itu telah melecehkan adzan. Tetapi dengan bodohnya, Copet I mulai mengeluarkan lawakannya tentang kata adzan dan kata edan. Dengan lagaknya yang sombong, si Copet I mengaku bahwa dia pernah tinggal di asrama. Jadilah dia bahan bercandaan teman-temannya. Copet II, Copet III, dan Copet IV terus meledeki Copet I sebagai orang gila jebolan dari Pakem.
“Bangsat! Bangsat! Bangsat! Kenapa kalian terus tertawa? Sedari tadi kalian mengataiku gila. Sekarang hilanglah kesabaran saya. Aku tidak terima, aku tidak terima. Ha, kenapa kalian bengong? Aku marah tahu! Marah!” teriak Copet I dengan penuh amarah.
Teman-temannya pun kaget melihat kemarahan Copet I yang semakin menjadi. Padahal mereka hanya berniat bercanda. Semakin lama kemarahan Copet I semakin menjadi. Dia menantang berkelahi dengan 3 temannya itu. Copet II, Copet III, dan Copet IV panik bukan kepalang melihat tingkah si Copet I yang semakin tidak jelas. Perasaan ketakuan yang mulai memuncak, mereka memilih diam dan mundur. Saat itu pula Copet I tertawa terbahak-bahak. Temannya sangat terkejut dan tererheran-heran melihat tingkah Copet I. Mereka menyangka bahwa Copet I menjadi orang gila sungguhan.
“Wah, kenapa sekarang kalian menjadi manusia-manusia tolol? Kenapa sekarang kalian mudah sekali ditipu?” ucap Copet I sambil meledek teman-temannya.
Rupanya Copet I hanya berpura-pura menjadi marah agar temannya ketakutan. Akibat dari ulah Copet I, Copet IV sampai terkencing-kencing di celana. Semakin menjadi bercandaan mereka melihat celana Copet IV yang basah. Copet II mengatakan bahwa Copet I cocok menjadi pemain sandiwara. Aksi yang ditunjukkan Copet I benar-benar total dan membuat temannya ketakutan bukan kepalang. Ditengah-tengah mereka bercanda, tiba-tiba datang seorang wanita cantik berkerudung sambil membawa bungkusan sajadah dan mukena untuk Shalat. Dengan sergap Copet IV mencegat wanita itu. Wanitamuslim itu berhenti dan menatap komplotan itu satu persatu.
“Wah, tatapannya maut, sih. Keder juga aku.” Copet II mulai merayu si wanita muslim.
“Kalau aku justru malah jatuh cinta! Ohhhhh...bidadariku, inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?” Copet II juga mulai mengelurkan jurus merayunya.
Mendengar rayuan para copet, wanita muslim itu akan melanjutkan perjalanannya. Tetapi dia kembali dihadang oleh Copet IV. Si wanita muslim itu melawan dan memasang kuda-kuda. Bersiap untuk berkelahi dengan para pencopet. Melihat aksi wanita muslim itu, Copet IV mulai mendekati wanita muslim itu dan mulai mencolek badannya. Tetapi tak sampai mencolek, tangan Copet IV di tangkap dan di plintir oleh wanita muslim. Tak Cuma itu, wanita muslim juga menendang Copet IV sampai dia tersungkur ke tanah. Melihat aksi si wanita muslim itu Copet IV terkejut. Melihat Copet IV yang merintih kesakitan, Copet II malah meledeknya.
“Ha...ha...ha...sungguh pemandangan yang lucu. Empat ekor serigala kelaparan mencoba memangsa kelinci tak berdaya. Sungguh tak seimbang.” Ucap seorang Kiai
“Guru!” seru wanita muslim melihat sang guru datang.
“Minggirlah, Zubbaidah, mereka bukan lawanmu. Dan mereka memang patut diberi pelajaran.” Ujar Kiai untuk melindungi Zubbaidah dari para copet tersebut.
Copet I mulai mengancam dan mengajak Kiai untuk berkelahi. Kiai pun meladeni ajak si Copet I. Terjadilah perkelahian. Kiai dikerubuti oleh para copet, tapi Kiai tetap menang melawan para copet.
“Aduh, waduh bingung. Aku kapok, Pak Kiai, kapok!” seru Copet III
“Waduh kepalaku benjut. Ampun!” Copet IV mengadu kesakitan
“Seluruh tubuhku rasanya ngilu semuanya. Jangan, Pak Kiai, saya jangan dipukuli lagi.” Rintih Copet II yang kesakitan
“Saya juga kapok, Pak Kiai.” Seru Copet I mengaku kalah
Mendengar rintihan para copet, Kiai mulai meyakinkan para copet bahwa mereka benar-benar kapok dengan kelakuannya.
“Yakin - ainul - yakin, Pak Kiai.” Ucap Copet II meyakinkan Pak Kiai
“Alllaaaa! Pakai yakin “ainul yakin” segala” Pak Kiai tak percaya dengan omongan si Copet II
“Lho, diam-diam saya dulu pernah jadi santri di pondok, Pak Kiai.” Copet II mulai membuka masa lalunya
Dan ternyata Copet II pernah merasakan pendidikan di dalam pondok. Tetapi dia lari dari pondok karena mencuri lampu petromaks. Copet I dahulunya juga seorang laki-laki yang rajin pergi ke Masjid, apalagi saat bulan Ramadhan dia rajin teraweh di Masjid, tetapi dia sering mencuri sandal para jama’at. Sedangka Copet III adalah keturunan seorang Modin. Kakek buyutnya sering memimpin kenduri. Tapi sayang, dia dilahirkan dalam rumah tangga yang kacau balau. Bapaknya seorang tukang kepruk dan ibunya seorang pelacur jalanan.
“Astagfirullah! Manusia memang tidak akan mengetahui apa yang akan menjadi rencana-rencana Allah. Tuhan memang mengemudi kita semua. Tetapi jika kalian terjerumus ke jurang yang penuh onak dan cadas, jangan kalian salahkan Tuhan. Sebab kalian telah turuti bujukan syaitan nirajim!” ceramah Pak Kiai
Semua orang mulai bengong. Lalu bersama-sama mengangkat tangan, seperti gaya orang mendoa “Amin” dalam kenduri.
“Pada mulanya kalian ini adalah fitrah. Namun orang tuamu telah salah dalam menjuruskan kalian. Di samping kalian sendiri yang salah dalam memilih teman bergaul. Saya tidak akan berkata penjang lebar. Hanya saya akan menawarkan pada kalian. Jika kalian ingin meluruskan jalan kalian, saya sanggup memberi petunjuk. Jika tidak, toh itu urusan kalian juga. Aku akan segera meneruskan perjalanan.” Nasihat Pak Kiai
Para Copet tersebut mulai kebingunan, apakah mereka akan mengikuti nasehat Pak Kiai atau tidak. Dan akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti nasehat Pak Kiai. Mereka sadar bahwa Tuhan tidak akan tidak akan mengubah nasib seseorang jika orang itu sendiri tidak mau mengubah. Mereka juga mulai merasa bosan menjadi brandalan yang kerjaannya sebagai pencopet.
”Tapi gimana? Saya ini beragama Katholik, Pak Kiai. Pakde saya ada yang jadi pastur. Saya sejak lahir telah dikukuhkan sebagai umat Kristiani, saya telah dibaptis. Nama saya Fransiscus Xaverius Boiman.” Copet IV kebingungan menentukan jalan hidupnya
“Oh, begitu! Jika demikian pulanglah kamu ke haribaan agamamu. Minta ampunlah pada orang tuamu. Segera bertaubatlah kepada Allah dengan mengaku dosa lewat pastur. Dan jalankan kehidupan Liturgi yang telah lama kau lupakan. Rajin-rajinlah ke gereja, sesudah mengaku dosa pada pasturnya.” Nasehat Pak Kiai
Terdengar suara Iqomah yang menandakan akan segera dimulainya shalat. Pak Kiai, Copet I, Copet II, Copet III, dan Zubbaidah bergegas menuju Masjid. Mereka pergi untuk Shalat meskipun sedikit terlambat. Sebelum berpisah, Copet IV mengtakan bahwa dia akan rajin pergi ke Gereja setiap hari Minggu untuk meluruskan jalan hidupnya. Akirnya mereka berpisah dan para copet tersebut menjalani hidupnya di jalan yang lurus. Mereka telah inyaf dan berhenti menjadi brandalan.

0 komentar:

Posting Komentar