SEBELUM
SEMBAHYANG
Matahari
mulai merundukkan sinarnya di ufuk barat. Mulai terlihat awan yang memerah,
sedikit terhiasi dengan awan muram. Terlihat sebuah bangunan yang megah dan
agung, berdiri kokoh bersanding dengan hamparan petak sawah dan perkampungan
warga. Terdengar suara kentongan dan beduk, disusul sang penyeru mulai
mengumandangkan suaranya untuk mengajak para warga agar segera menunaikan
ibadah di saat senja.
Saat
itu suasana perkampungan masih sepi. Tak terlihat bayangan di jalanan kampung.
Siluet-siluet yang tampak dibalik tirai rumah-rumah. Saat semua warga sibuk
menyiapkan diri untuk pergi ke Masjid, tampak sekelompok pemuda yang kurang
kerjaan sedang nongkrong di sebuah gang yang sepi. Mereka sedang santai
berbincang-bincang tentang adzan yang berkumandang begitu kerasnya.
“Adzan!
Adzan! Wah baru kali ini aku dengar istilah itu. Kok, hampir sama, ya? Adzan!
Edan!” ujar Copet I dengan memasang tampang bodoh.
Mendengar
ucapan tersebut Copet IV mengingatkan bahwa yang diucapkan temannya itu telah
melecehkan adzan. Tetapi dengan bodohnya, Copet I mulai mengeluarkan lawakannya
tentang kata adzan dan kata edan. Dengan lagaknya yang sombong, si Copet I
mengaku bahwa dia pernah tinggal di asrama. Jadilah dia bahan bercandaan
teman-temannya. Copet II, Copet III, dan Copet IV terus meledeki Copet I
sebagai orang gila jebolan dari Pakem.
“Bangsat!
Bangsat! Bangsat! Kenapa kalian terus tertawa? Sedari tadi kalian mengataiku
gila. Sekarang hilanglah kesabaran saya. Aku tidak terima, aku tidak terima.
Ha, kenapa kalian bengong? Aku marah tahu! Marah!” teriak Copet I dengan penuh
amarah.
Teman-temannya
pun kaget melihat kemarahan Copet I yang semakin menjadi. Padahal mereka hanya
berniat bercanda. Semakin lama kemarahan Copet I semakin menjadi. Dia menantang
berkelahi dengan 3 temannya itu. Copet II, Copet III, dan Copet IV panik bukan
kepalang melihat tingkah si Copet I yang semakin tidak jelas. Perasaan ketakuan
yang mulai memuncak, mereka memilih diam dan mundur. Saat itu pula Copet I
tertawa terbahak-bahak. Temannya sangat terkejut dan tererheran-heran melihat
tingkah Copet I. Mereka menyangka bahwa Copet I menjadi orang gila sungguhan.
“Wah,
kenapa sekarang kalian menjadi manusia-manusia tolol? Kenapa sekarang kalian
mudah sekali ditipu?” ucap Copet I sambil meledek teman-temannya.
Rupanya
Copet I hanya berpura-pura menjadi marah agar temannya ketakutan. Akibat dari
ulah Copet I, Copet IV sampai terkencing-kencing di celana. Semakin menjadi
bercandaan mereka melihat celana Copet IV yang basah. Copet II mengatakan bahwa
Copet I cocok menjadi pemain sandiwara. Aksi yang ditunjukkan Copet I
benar-benar total dan membuat temannya ketakutan bukan kepalang.
Ditengah-tengah mereka bercanda, tiba-tiba datang seorang wanita cantik
berkerudung sambil membawa bungkusan sajadah dan mukena untuk Shalat. Dengan sergap
Copet IV mencegat wanita itu. Wanitamuslim itu berhenti dan menatap komplotan
itu satu persatu.
“Wah,
tatapannya maut, sih. Keder juga aku.” Copet II mulai merayu si wanita muslim.
“Kalau
aku justru malah jatuh cinta! Ohhhhh...bidadariku, inikah yang dinamakan cinta
pada pandangan pertama?” Copet II juga mulai mengelurkan jurus merayunya.
Mendengar
rayuan para copet, wanita muslim itu akan melanjutkan perjalanannya. Tetapi dia
kembali dihadang oleh Copet IV. Si wanita muslim itu melawan dan memasang
kuda-kuda. Bersiap untuk berkelahi dengan para pencopet. Melihat aksi wanita
muslim itu, Copet IV mulai mendekati wanita muslim itu dan mulai mencolek
badannya. Tetapi tak sampai mencolek, tangan Copet IV di tangkap dan di plintir
oleh wanita muslim. Tak Cuma itu, wanita muslim juga menendang Copet IV sampai
dia tersungkur ke tanah. Melihat aksi si wanita muslim itu Copet IV terkejut.
Melihat Copet IV yang merintih kesakitan, Copet II malah meledeknya.
“Ha...ha...ha...sungguh
pemandangan yang lucu. Empat ekor serigala kelaparan mencoba memangsa kelinci
tak berdaya. Sungguh tak seimbang.” Ucap seorang Kiai
“Guru!”
seru wanita muslim melihat sang guru datang.
“Minggirlah,
Zubbaidah, mereka bukan lawanmu. Dan mereka memang patut diberi pelajaran.”
Ujar Kiai untuk melindungi Zubbaidah dari para copet tersebut.
Copet
I mulai mengancam dan mengajak Kiai untuk berkelahi. Kiai pun meladeni ajak si
Copet I. Terjadilah perkelahian. Kiai dikerubuti oleh para copet, tapi Kiai
tetap menang melawan para copet.
“Aduh,
waduh bingung. Aku kapok, Pak Kiai, kapok!” seru Copet III
“Waduh
kepalaku benjut. Ampun!” Copet IV mengadu kesakitan
“Seluruh
tubuhku rasanya ngilu semuanya. Jangan, Pak Kiai, saya jangan dipukuli lagi.”
Rintih Copet II yang kesakitan
“Saya
juga kapok, Pak Kiai.” Seru Copet I mengaku kalah
Mendengar
rintihan para copet, Kiai mulai meyakinkan para copet bahwa mereka benar-benar
kapok dengan kelakuannya.
“Yakin
- ainul - yakin, Pak Kiai.” Ucap Copet II meyakinkan Pak Kiai
“Alllaaaa!
Pakai yakin “ainul yakin” segala” Pak Kiai tak percaya dengan omongan si Copet
II
“Lho,
diam-diam saya dulu pernah jadi santri di pondok, Pak Kiai.” Copet II mulai
membuka masa lalunya
Dan
ternyata Copet II pernah merasakan pendidikan di dalam pondok. Tetapi dia lari
dari pondok karena mencuri lampu petromaks. Copet I dahulunya juga seorang
laki-laki yang rajin pergi ke Masjid, apalagi saat bulan Ramadhan dia rajin
teraweh di Masjid, tetapi dia sering mencuri sandal para jama’at. Sedangka
Copet III adalah keturunan seorang Modin. Kakek buyutnya sering memimpin
kenduri. Tapi sayang, dia dilahirkan dalam rumah tangga yang kacau balau.
Bapaknya seorang tukang kepruk dan ibunya seorang pelacur jalanan.
“Astagfirullah!
Manusia memang tidak akan mengetahui apa yang akan menjadi rencana-rencana
Allah. Tuhan memang mengemudi kita semua. Tetapi jika kalian terjerumus ke
jurang yang penuh onak dan cadas, jangan kalian salahkan Tuhan. Sebab kalian
telah turuti bujukan syaitan nirajim!” ceramah Pak Kiai
Semua
orang mulai bengong. Lalu bersama-sama mengangkat tangan, seperti gaya orang
mendoa “Amin” dalam kenduri.
“Pada
mulanya kalian ini adalah fitrah. Namun orang tuamu telah salah dalam
menjuruskan kalian. Di samping kalian sendiri yang salah dalam memilih teman
bergaul. Saya tidak akan berkata penjang lebar. Hanya saya akan menawarkan pada
kalian. Jika kalian ingin meluruskan jalan kalian, saya sanggup memberi
petunjuk. Jika tidak, toh itu urusan kalian juga. Aku akan segera meneruskan
perjalanan.” Nasihat Pak Kiai
Para
Copet tersebut mulai kebingunan, apakah mereka akan mengikuti nasehat Pak Kiai
atau tidak. Dan akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti nasehat Pak Kiai.
Mereka sadar bahwa Tuhan tidak akan tidak akan mengubah nasib seseorang jika
orang itu sendiri tidak mau mengubah. Mereka juga mulai merasa bosan menjadi
brandalan yang kerjaannya sebagai pencopet.
”Tapi
gimana? Saya ini beragama Katholik, Pak Kiai. Pakde saya ada yang jadi pastur.
Saya sejak lahir telah dikukuhkan sebagai umat Kristiani, saya telah dibaptis.
Nama saya Fransiscus Xaverius Boiman.” Copet IV kebingungan menentukan jalan
hidupnya
“Oh,
begitu! Jika demikian pulanglah kamu ke haribaan agamamu. Minta ampunlah pada
orang tuamu. Segera bertaubatlah kepada Allah dengan mengaku dosa lewat pastur.
Dan jalankan kehidupan Liturgi yang telah lama kau lupakan. Rajin-rajinlah ke
gereja, sesudah mengaku dosa pada pasturnya.” Nasehat Pak Kiai
Terdengar
suara Iqomah yang menandakan akan segera dimulainya shalat. Pak Kiai, Copet I,
Copet II, Copet III, dan Zubbaidah bergegas menuju Masjid. Mereka pergi untuk
Shalat meskipun sedikit terlambat. Sebelum berpisah, Copet IV mengtakan bahwa
dia akan rajin pergi ke Gereja setiap hari Minggu untuk meluruskan jalan
hidupnya. Akirnya mereka berpisah dan para copet tersebut menjalani hidupnya di
jalan yang lurus. Mereka telah inyaf dan berhenti menjadi brandalan.



0 komentar:
Posting Komentar