Rabu, 18 Desember 2013
Contoh Features
Posted by Unknown on 23.26 with No comments
Tips
Posted by Unknown on 23.15 with No comments
Tips
menjadi seorang moderator yang baik
1)
Percaya Diri
2)
Pelajari Materi
3)
Perhatikan Cara Bicara saat melihat
moderator
4)
Persiapkan catatan
5)
Cara Bicara saat menjadi moderator
6)
Mempersiapkan penampilan
7)
Memperhatikan Waktu
Chairil Anwar
Posted by Unknown on 23.05 with No comments
Yang Terampas Dan Yang Putus
Chairil Anwar
kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
1949
Contoh Cerpen
Posted by Unknown on 22.58 with No comments
SEBELUM
SEMBAHYANG
Matahari
mulai merundukkan sinarnya di ufuk barat. Mulai terlihat awan yang memerah,
sedikit terhiasi dengan awan muram. Terlihat sebuah bangunan yang megah dan
agung, berdiri kokoh bersanding dengan hamparan petak sawah dan perkampungan
warga. Terdengar suara kentongan dan beduk, disusul sang penyeru mulai
mengumandangkan suaranya untuk mengajak para warga agar segera menunaikan
ibadah di saat senja.
Saat
itu suasana perkampungan masih sepi. Tak terlihat bayangan di jalanan kampung.
Siluet-siluet yang tampak dibalik tirai rumah-rumah. Saat semua warga sibuk
menyiapkan diri untuk pergi ke Masjid, tampak sekelompok pemuda yang kurang
kerjaan sedang nongkrong di sebuah gang yang sepi. Mereka sedang santai
berbincang-bincang tentang adzan yang berkumandang begitu kerasnya.
“Adzan!
Adzan! Wah baru kali ini aku dengar istilah itu. Kok, hampir sama, ya? Adzan!
Edan!” ujar Copet I dengan memasang tampang bodoh.
Mendengar
ucapan tersebut Copet IV mengingatkan bahwa yang diucapkan temannya itu telah
melecehkan adzan. Tetapi dengan bodohnya, Copet I mulai mengeluarkan lawakannya
tentang kata adzan dan kata edan. Dengan lagaknya yang sombong, si Copet I
mengaku bahwa dia pernah tinggal di asrama. Jadilah dia bahan bercandaan
teman-temannya. Copet II, Copet III, dan Copet IV terus meledeki Copet I
sebagai orang gila jebolan dari Pakem.
“Bangsat!
Bangsat! Bangsat! Kenapa kalian terus tertawa? Sedari tadi kalian mengataiku
gila. Sekarang hilanglah kesabaran saya. Aku tidak terima, aku tidak terima.
Ha, kenapa kalian bengong? Aku marah tahu! Marah!” teriak Copet I dengan penuh
amarah.
Teman-temannya
pun kaget melihat kemarahan Copet I yang semakin menjadi. Padahal mereka hanya
berniat bercanda. Semakin lama kemarahan Copet I semakin menjadi. Dia menantang
berkelahi dengan 3 temannya itu. Copet II, Copet III, dan Copet IV panik bukan
kepalang melihat tingkah si Copet I yang semakin tidak jelas. Perasaan ketakuan
yang mulai memuncak, mereka memilih diam dan mundur. Saat itu pula Copet I
tertawa terbahak-bahak. Temannya sangat terkejut dan tererheran-heran melihat
tingkah Copet I. Mereka menyangka bahwa Copet I menjadi orang gila sungguhan.
“Wah,
kenapa sekarang kalian menjadi manusia-manusia tolol? Kenapa sekarang kalian
mudah sekali ditipu?” ucap Copet I sambil meledek teman-temannya.
Rupanya
Copet I hanya berpura-pura menjadi marah agar temannya ketakutan. Akibat dari
ulah Copet I, Copet IV sampai terkencing-kencing di celana. Semakin menjadi
bercandaan mereka melihat celana Copet IV yang basah. Copet II mengatakan bahwa
Copet I cocok menjadi pemain sandiwara. Aksi yang ditunjukkan Copet I
benar-benar total dan membuat temannya ketakutan bukan kepalang.
Ditengah-tengah mereka bercanda, tiba-tiba datang seorang wanita cantik
berkerudung sambil membawa bungkusan sajadah dan mukena untuk Shalat. Dengan sergap
Copet IV mencegat wanita itu. Wanitamuslim itu berhenti dan menatap komplotan
itu satu persatu.
“Wah,
tatapannya maut, sih. Keder juga aku.” Copet II mulai merayu si wanita muslim.
“Kalau
aku justru malah jatuh cinta! Ohhhhh...bidadariku, inikah yang dinamakan cinta
pada pandangan pertama?” Copet II juga mulai mengelurkan jurus merayunya.
Mendengar
rayuan para copet, wanita muslim itu akan melanjutkan perjalanannya. Tetapi dia
kembali dihadang oleh Copet IV. Si wanita muslim itu melawan dan memasang
kuda-kuda. Bersiap untuk berkelahi dengan para pencopet. Melihat aksi wanita
muslim itu, Copet IV mulai mendekati wanita muslim itu dan mulai mencolek
badannya. Tetapi tak sampai mencolek, tangan Copet IV di tangkap dan di plintir
oleh wanita muslim. Tak Cuma itu, wanita muslim juga menendang Copet IV sampai
dia tersungkur ke tanah. Melihat aksi si wanita muslim itu Copet IV terkejut.
Melihat Copet IV yang merintih kesakitan, Copet II malah meledeknya.
“Ha...ha...ha...sungguh
pemandangan yang lucu. Empat ekor serigala kelaparan mencoba memangsa kelinci
tak berdaya. Sungguh tak seimbang.” Ucap seorang Kiai
“Guru!”
seru wanita muslim melihat sang guru datang.
“Minggirlah,
Zubbaidah, mereka bukan lawanmu. Dan mereka memang patut diberi pelajaran.”
Ujar Kiai untuk melindungi Zubbaidah dari para copet tersebut.
Copet
I mulai mengancam dan mengajak Kiai untuk berkelahi. Kiai pun meladeni ajak si
Copet I. Terjadilah perkelahian. Kiai dikerubuti oleh para copet, tapi Kiai
tetap menang melawan para copet.
“Aduh,
waduh bingung. Aku kapok, Pak Kiai, kapok!” seru Copet III
“Waduh
kepalaku benjut. Ampun!” Copet IV mengadu kesakitan
“Seluruh
tubuhku rasanya ngilu semuanya. Jangan, Pak Kiai, saya jangan dipukuli lagi.”
Rintih Copet II yang kesakitan
“Saya
juga kapok, Pak Kiai.” Seru Copet I mengaku kalah
Mendengar
rintihan para copet, Kiai mulai meyakinkan para copet bahwa mereka benar-benar
kapok dengan kelakuannya.
“Yakin
- ainul - yakin, Pak Kiai.” Ucap Copet II meyakinkan Pak Kiai
“Alllaaaa!
Pakai yakin “ainul yakin” segala” Pak Kiai tak percaya dengan omongan si Copet
II
“Lho,
diam-diam saya dulu pernah jadi santri di pondok, Pak Kiai.” Copet II mulai
membuka masa lalunya
Dan
ternyata Copet II pernah merasakan pendidikan di dalam pondok. Tetapi dia lari
dari pondok karena mencuri lampu petromaks. Copet I dahulunya juga seorang
laki-laki yang rajin pergi ke Masjid, apalagi saat bulan Ramadhan dia rajin
teraweh di Masjid, tetapi dia sering mencuri sandal para jama’at. Sedangka
Copet III adalah keturunan seorang Modin. Kakek buyutnya sering memimpin
kenduri. Tapi sayang, dia dilahirkan dalam rumah tangga yang kacau balau.
Bapaknya seorang tukang kepruk dan ibunya seorang pelacur jalanan.
“Astagfirullah!
Manusia memang tidak akan mengetahui apa yang akan menjadi rencana-rencana
Allah. Tuhan memang mengemudi kita semua. Tetapi jika kalian terjerumus ke
jurang yang penuh onak dan cadas, jangan kalian salahkan Tuhan. Sebab kalian
telah turuti bujukan syaitan nirajim!” ceramah Pak Kiai
Semua
orang mulai bengong. Lalu bersama-sama mengangkat tangan, seperti gaya orang
mendoa “Amin” dalam kenduri.
“Pada
mulanya kalian ini adalah fitrah. Namun orang tuamu telah salah dalam
menjuruskan kalian. Di samping kalian sendiri yang salah dalam memilih teman
bergaul. Saya tidak akan berkata penjang lebar. Hanya saya akan menawarkan pada
kalian. Jika kalian ingin meluruskan jalan kalian, saya sanggup memberi
petunjuk. Jika tidak, toh itu urusan kalian juga. Aku akan segera meneruskan
perjalanan.” Nasihat Pak Kiai
Para
Copet tersebut mulai kebingunan, apakah mereka akan mengikuti nasehat Pak Kiai
atau tidak. Dan akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti nasehat Pak Kiai.
Mereka sadar bahwa Tuhan tidak akan tidak akan mengubah nasib seseorang jika
orang itu sendiri tidak mau mengubah. Mereka juga mulai merasa bosan menjadi
brandalan yang kerjaannya sebagai pencopet.
”Tapi
gimana? Saya ini beragama Katholik, Pak Kiai. Pakde saya ada yang jadi pastur.
Saya sejak lahir telah dikukuhkan sebagai umat Kristiani, saya telah dibaptis.
Nama saya Fransiscus Xaverius Boiman.” Copet IV kebingungan menentukan jalan
hidupnya
“Oh,
begitu! Jika demikian pulanglah kamu ke haribaan agamamu. Minta ampunlah pada
orang tuamu. Segera bertaubatlah kepada Allah dengan mengaku dosa lewat pastur.
Dan jalankan kehidupan Liturgi yang telah lama kau lupakan. Rajin-rajinlah ke
gereja, sesudah mengaku dosa pada pasturnya.” Nasehat Pak Kiai
Terdengar
suara Iqomah yang menandakan akan segera dimulainya shalat. Pak Kiai, Copet I,
Copet II, Copet III, dan Zubbaidah bergegas menuju Masjid. Mereka pergi untuk
Shalat meskipun sedikit terlambat. Sebelum berpisah, Copet IV mengtakan bahwa
dia akan rajin pergi ke Gereja setiap hari Minggu untuk meluruskan jalan
hidupnya. Akirnya mereka berpisah dan para copet tersebut menjalani hidupnya di
jalan yang lurus. Mereka telah inyaf dan berhenti menjadi brandalan.
Lanjutan Membaca
Posted by Unknown on 22.29 with 2 comments
Membaca
sebagai Suatu Keterampilan
Keterampilan
membaca mencakup 3tiga komponen, yaitu:
a) Pengenalan
aksara serta tanda-tanda baca, suatu kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk
yang disesuaikan dengan modoe yang berupa gambar di atas suau lembaran, lengkungan-lengkungan,
garis-garis, dan titik-titik dalam hubungan-hubungan berpola yang teratur dan
rapi.
b) Korelasi
aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur lingustik yang formal,
merupakan suatu kemampuan untuk menghubungkan tan-tanda hitam di atas kertas –
yaitu gambar-gambar berpola tersebut – dengan bahasa. Hubungan-hubungan itu
jelas terlihat terjadi antara unsur-unsur dari pola-pola tersebut di atas
kertas dan unsur-unsur bahasa yang formal. Pada hakikatnya sifat keteranpilan
itu akan selalu mengalami perubahan-perubahan pula. Unsur-unsur itu dapat
merupakan kelompok bunyi kompleks yang dapat disebut sebagai kata, frase,
kalimat, paragraf, bab, atau buku.
c) Hubungan
lebih lanjut dari A dan B dengan makna atau meaning, mencakup keseluruhan keterampilan
membaca, pada hakikatnya merupakan keterampilan intelektual; ini merupakan
kemampuan atau abilitas untuk menghubungkan tanda-tanda hitam di atas kertas
melalui unsur-unsur bahasa yang formal, yaitu kata-kata sebagai bunyi, dengan
makna yang dilambangkan oleh kata-kata tersebut. (Broughton (et al) 1978: 90).
Mengembangkan
Keterampilan Membaca
Seorang guru bahasa
haru mampu membantu serta membimbing para pelajar untuk mengembangkan serta
meningkatkan keterampilan-keterampilan yang mereka butuhkan dalam membaca.
Usaha yang dapat dilaksanakan untuk meningkatkan keterampilan membaca itu,
antara ain:
a) Guru
dapat menolong para pelajar memperkaya kosakata mereka engan jalan:
1) Memperkenalkan
sinonim kata, antonim kat, prapharase, kata-kata yang berdasar sama;
2) Memperkenalka
imbuhan, yang mencakup awaln, sisipan, dan akhiran;
3) Mengira-ngira
atau menerka makna kata dari konteks atau hubungan kalimat;
4) Jika
perlu, menjelaska arti sesuatu kata abstrak dengan mempergunakan bahasa daerah
atau bahasa ibu pelajar.
b) Guru
dapat membantu para pelajar untuk memahami makna struktur-struktur kata,
kalimat, dan sebagainya dengan cara-cara yang telah dikemukakan di atas,
disertai latihan seperlunya.
c) Jika
perlu guru dapat memberikan serta menjelaskan kawasam atau pengertian kiasan, sindiran,
ungkapan, pepatah, pribahasa, dan lain-lain dalam bahasa daerah atau bahasa ibu
para pelajar.
d) Guru
dapat menjamin serta memastikan pemahaman para pelajar dengan berbagai cara,
misalnya:
1) Mengemukakan
berbagau jenis pertanyaan terhadap kalimat yang sama, contohnya, dengan kalimat
“Budi guru”, kita dapat bertanya:
a) “Apakah
Budi guru?”
b) “Siapakah
Budi?”
c) “Apakah
pekerjaan Budi?”
d) “Bagaimana
pendapatmu mengenai pekerjaan Budi?”
2) Mengemukakan
pertanyaan, yang jawabannya dapat ditemukan oleh para pelajar serta verbatein
(kata demi kata) dalam bahan bacaan.
3) Menyuruh
para pelajar membuat rangkuman atau ikhtisar dari suatu paragraf. Rangkuman
tersebut haruslah mencakup ide-ide penting dalam urutan yang wajar.
4) Menanyakan
apa ide pokok suatu paragraf.
5) Menyuruh
para pelajar untuk menemukan kata-kata yang melukiskan seseorang atau suatu
proses yang menyatakan bahwa orang itu sedang bergegas, marah dan sebagainya.
6) Menunjukkan
kalmat-kalimat yang kuran baik letak/susunannya, dan menyuruh para pelajar
untuk menempatkannya pada tempat/susunan yang tepat.
e) Guru
dapat meningkatkan kecepatan membaca para pelajar, denga cara sebagai berikut:
1) Suruh
para pelajar membaca dalam hati, ukurlah waktu membaca tersebut;
2) Diusahakan
waktu tersebut bertambah singkat serta efisien secara teratur sepanjang tahun;
3) Harus
dihindari gerakan-gerakan bibir pada saat membaca dalam hati, hal ini tidak
baik dan tidak perlu dilakukan oleh para pelajar;
4) Guru
harus menjelaskan tujuan khusus, tujuan tertentu membaca kepada para pelajar.
Mereka harus dapat menemukan dari bahan bacaab jawaban terhadap beberapa
pertanyaan, atau beberapa kata atau sesuatu ide, pendapat atau pikiran
utama/pikiran pokok, dan sebagainya. (Finocchiaro 1974: 80-81; Finocchiarco and
Bonomo 1973: 121-123; Finocchiarco 1946: 81-83)
Singktnya,
dalam mengembangkan serta meningkatkan keterampilan membaca para pelajar, sang
guru mempunyai tanggung jawab berat, paling sedikit meliputi enam hal utama
yaitu:
a) Memperluas
pengalaman para pelajar sehingga mereka akan memahami keadaan dan seluk beluk
kebudayaan;
b) Mengajar
bunyi-bunyi (bahasa) dan makna-makna kata-kata baru;
c) Mengajarkan
hubungan bunyi bahasa dan lambang atau simbol;
d) Membantu
para pelajar memahami struktur-struktur (temasuk struktur kalimat yang biasanya
tidak begitu mudah bagi pelajar bahasa)’
e) Mengajar
keterampilan-keterampilan pemahaman ( comprehension skils);
f) Membantu
para pelajar untuk meningkatkan kecepatan dalam membaca.
Untuk
menjaga agar motivasi atau dorongan membaca selalu besar, pengajaran yang
dilakukan oleh sang guru hendaknya berjalan dalam dua arus yang sejajar:
Pertama : guru membantu para
pelajar membaca bahan-bahan yang menarik serta bermanfaat secepat mungkin;
Kedua : guru secara
sistematis mengajarkan orespondensi atau hubungan-hubungan bunyi dan lambang
yang diperlukan oleh para pelajar untuk memaham serta mendorong mereka membaca
sendiri. Agar eimbang dan tidak berat sebelah, membaca secara aktual
bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat kematangan para pelajar daripada
untuk/mengenai perkembangan sistematis korespondensi-korespondensi tersebut.
(Finocchiaro and Bonomo 1973: 121)
Khusus bagi guru bahasa (asing) dituntut kualifikasi
sebagai berikut:
Minimal : kemampuan memahami
secara langsung (tanpa terjemahan) makna/isi prosa sederhana yang non-teknis,
kecuali kata yang sulit dan jarang digunakan.
Baik :
kemampuan membaca dengan pemahaman yang langsung terhadap prosa dan puisi yang
taraf kesukarannya sedang dan isi yang matang.
Baik
sekali :
kemampuan membaca, hampir semudah dalam bahasa ibu sendiri, bahan-bahan yang
amat sulit seperti esei dan kritik sastra. (Finocchiarco and Bonomo 1973: 28;
Lado 1976: 231)
Selain
itu, ada juga hambatan dalam mengembangkan keterampilan membacamenurut
Farida Rahim (2008:128) meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Rendahnya Motivasi :
Sering kali saat membaca, kita tidak memiliki motivasi yang kuat atas bahan
bacaan. Motivasi yang kurang ini secara mental akan membuat kita membaca dengan
lambat dan otak tidak dirangsang untuk bekerja dan memahami apa yang kita baca.
2) Kurangnya alat peraga :
Alat peraga sangat mendukung terhadap lancar atau tidaknya proses
pengajaran keterampilan membaca pada anak-anak. Alat peraga akan mendorong anak
untuk tumbuhnya minat baca siswa.
3) Kurangnya dukungan orang
tua :Dukungan orang tua juga sangat menentukan
timbulnya keinginan membaca pada diri siswa. Namun kenyataannya tidak semua
orang tua memperhatikan terhadap keterampilan membaca anaknya.
4) Terbatasnya bahan bacaan :
Tidak semua sekolah memiliki perpustakaan yang mengoleksi buku-buku bahan
bacaan siswa. Akibatnya siswa kesulitan untuk mencari bahan bacaan.
Langganan:
Postingan (Atom)


