Semoga Ayah Ibuku Tidak Korupsi...
Minggu, 17
Maret 2013 | 09:11 WIB
WAWAN H
PRABOWO

Mural menjadi salah satu media
kampanye untuk melawan maraknya praktik korupsi di negeri ini. Salah satu karya
mural antikorupsi tersebut bisa ditemui di bawah Jembatan Layang Jalan Jenderal
Gatot Subroto, Sabtu (16/3).
KOMPAS.com - Rakyat mengungkapkan rasa jijik
mereka atas menggilanya kejahatan korupsi lewat mural di tembok-tembok kota. Di
ruang pamer, perupa ”berperang” melawan korupsi dengan menampilkan sosok
celeng, alias babi hutan, sebagai metafora keserakahan para pengisap harta
rakyat.
"Ya Tuhan, Semoga Ayah Ibuku
Tidak Korupsi...”, itulah harapan dan doa warga yang tertulis pada pilar beton
penyangga jembatan layang yang melintas di Jalan Gatot Subroto, Jakarta
Selatan. Di samping tulisan itu tergambar seorang ibu berdoa dengan tangan
menengadah.
Di tiang penyangga lain, masih di
kolong jembatan layang yang sama, ada mural atau lukisan dinding bergambar
perempuan dengan air mata menitik bertuliskan, ”Aku Tak Sudi Bersuamikan
Koruptor...”.
Gambar itu terbuat dari kertas
berwarna putih dan ditempelkan di dinding beton. Kondisinya usang dan berimpit
dengan gambar-gambar lain. Namun, mural ini tampak cukup menohok mata.
Kata-katanya tertulis dengan huruf berwarna merah tegas.
Mural-mural di kolong jembatan
layang itu terletak sekitar 300 meter dari gerbang Gedung Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia yang berpagar besi menjulang. Kolong jembatan itu
menjadi tempat berteduh warga pejalan kaki atau pengendara motor kala hujan
turun.
Kita simak mural lain di tembok
jembatan layang arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan. Di sana, ada mural
bergambar wajah dengan ujung jari telunjuk yang ditempel di depan bibir. Wajah
itu seakan memberi isyarat peringatan. Lalu ada tulisan, ”Ssstt... Ingat...!!!
Masih Ada Korupsi...”.
Cobalah tengok ke terowongan Cawang,
Jakarta Timur. Pada dinding kiri ujung terowongan yang mengarah ke Cililitan
terpampang mural yang menggambarkan meja makan. Di atasnya ada mangkuk berisi
buah-buahan dan gelas minum. Meja itu dikitari sosok berdasi berkepala setan,
tikus, babi, dan celeng. Pada sudut kanan bawahnya terbaca pesan, ”Hati-hati
dalam Memilih”.
Lawan
Begitulah mural-mural bertebaran di
sudut-sudut kota Jakarta dengan muatan ekspresi yang hampir sama, yaitu melawan
korupsi! Tak mudah melawan korupsi dengan cara mural. Komunitas Street Serrum
yang cukup gencar berperang melawan korupsi dengan senjata mural harus pintar-pintar
bermain kucing-kucingan dengan polisi atau petugas dari kelurahan.
Komunitas Serrum lahir tahun 2006
sebagai wadah para mahasiswa bereksplorasi dengan menjajal berbagai medium
karya seni rupa. Arief ”Arman” Rachman (32), salah satu pegiatnya, menuturkan,
nama ”Serrum” sebenarnya pelesetan dari bahasa Inggris, share room, yang
bermakna berbagi ruang. Dalam hal ini berbagi ruang penyampai unek-unek rakyat.
Namun, tidak mudah berbagi ruang
dengan pihak yang mungkin mendukung korupsi. Nyatanya, banyak mural antikorupsi
kerap berumur pendek. Bahkan, banyak yang hanya berumur jam-jaman. Para pegiat
street art sudah hafal, ada daerah-daerah keramat untuk mural dan grafiti.
Underpass Dukuh Atas itu salah satu tempat paling ”keramat”, grafiti atau mural
apa pun biasanya akan dibersihkan dalam satu-dua hari.
MG Pringgotono (32) alias MG,
anggota Serrum, hafal jenis mural, grafiti, atau poster ”keramat” yang tak
bakal berumur panjang. Tiap kali membuat mural, grafiti, dan poster antikorupsi
yang menyebut nama tokoh, misalnya seorang terpidana korupsi, pasti karya itu
bakal lenyap dalam hitungan jam.
”Jadi, ada lokasi ’angker’, yang
pasti membersihkan grafiti, mural, atau poster apa pun dalam hitungan hari.
Dan, selalu ada isu ’keramat’ yang selalu dibersihkan entah oleh siapa dalam
hitungan hari, bahkan jam,” kata MG.
Namun, mereka tidak pernah jeri dan
terus bergerilya melakukan ”perang kota”. ”Kami memilih melakukan pendidikan
publik di ruang publik, lewat propaganda publik,” ujar MG.
Perang celeng
Bendera perang terhadap korupsi juga
dikibarkan oleh pelukis Aris Budiono Sadjad dengan menggelar pameran bertajuk
”Perang Suci Melawan Korupsi”, 14-23 Maret 2013, di Bentara Budaya Jakarta
(BBJ). Pameran yang menggelar 23 lukisan ini dibuka oleh Direktur Pendidikan
dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dedi A Rachim,
Kamis (14/3).
Aris geram melihat perilaku para
koruptor yang tidak menampakkan penyesalan. Karena itu, ia menggunakan celeng
sebagai metafor kerakusan dan kebebalan. ”Kalau tikus itu mudah dikalahkan dan
penakut, nah kalau celeng, tetap merasa gagah walau korupsi,” kata Aris.
Dalam lukisan ”Empat Cakil Rakyat”,
Aris menggambar empat butha cakil (raksasa kecil yang rakus) sedang menunggang
empat ekor celeng. Keempat celeng bertaring panjang dengan mata mendelik dan
mulut merah. Jelas sekali ciri-ciri sebagai ”hama” yang rakus itu siap memangsa
apa saja.
Di lukisan lain dengan penuh ironi
Aris melukis ”Corruptor Family Gathering”. Di kanvas tampak sejumlah kalangan
sedang berpesta pora, bersenang-senang, berenang, main musik, dan segala
aktivitas hiburan lainnya. Hal yang aneh, seluruh pelaku pesta pora itu
berwajah celeng. Begitulah, kata Aris, sifat celeng. ”Selalu gagah, tak pernah
takut, malah diperlakukan seperti selebritas. Semua itu, kan, kini terjadi di
hadapan kita?” kata Aris.
Kita kini seolah hidup di negeri
penuh koruptor. Pemutarbalikan fakta jadi hal biasa, perasaan tidak bersalah
jadi pemandangan sehari-hari. ”Dan itu memuakkan sekali, sudah seharusnya
dilawan,” kata Aris.
KPK merasa mendapat kawan dalam
berperang melawan para ”celeng” pemangsa harta rakyat. ”Ibaratnya kami sedang
berperang sendirian di tengah gurun pasir, dan tiba-tiba ada sumber air. Ini
menyejukkan kami. Ternyata, KPK punya teman-teman seniman,” kata Dedi dalam
pembukaan pameran di BBJ.
Provokasi kesadaran batin
Seniman yang beraksi dengan mural
dan grafiti di tembok-tembok kota tentunya juga kawan- kawan KPK. Budayawan
Mudji Sutrisno SJ menyebut seniman seperti mereka sebagai penjaga kehidupan yang
tetap mau menjaga kelangsungan hidup bermartabat.
Apakah suara rakyat yang terucap di
tembok-tembok kota itu didengar orang?
”Kentungan harus dipukul terus untuk
mengingatkan jaga malam saat waktu jaga, atau bahaya-bahaya, maling, kebakaran
yang akan menghancurkan masyarakat. Anjing harus terus menggonggong lantaran
proses membaca tulisan-tulisan di mural yang antikorupsi masih tetap menemukan
bacaannya untuk kita,” kata Mudji.
Mudji melihat suara-suara di tembok
kota tetap diperlukan. Yang berbahaya adalah kalau apatisme dan kebisuan, cuek,
tidak acuh sudah menjadi sikap lalu tidak ada sama sekali reaksi atau
tulisan-tulisan mural lagi. Bila sampai tahap ini, demokrasi dan hidup bersama
berada dalam lampu merah. ”Selama seniman nurani masih terus nulis tajam dan
kritis antikorupsi di mural-mural, itu berarti masih ada dinamika hidup di
masyarakat kita,” kata Mudji.
Bagaimanapun, suara rakyat di
tembok-tembok kota atau di ruang pameran akan tetap mempunyai makna di tengah
kehidupan negeri ini saat ini. Kritikus seni rupa Suwarno Wisetrotomo dalam
katalog pameran ”Perang Suci Melawan Korupsi” mengingatkan bahwa karya seni
memiliki fungsi untuk memprovokasi kesadaran dan batin.
Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain
ISI Yogyakarta itu menandaskan, ”Karya seni melatih kepekaan dan sikap kritis
terhadap segala ketidakadilan atau kezaliman yang menimpa manusia, kemanusiaan,
serta kehidupan.” (AHA/CAN/ROW/XAR)
Sumber :
Kompas
Cetak
Editor :
Inggried
Dwi Wedhaswary
Andy Rubin,
"Si Gila"
di Balik
Android
Penulis:
Wicak Hidayat | Kamis, 14 Maret 2013 | 19.23 WIB
gizmodo.com
KOMPAS.com
— Andrew "Andy" Rubin bolehlah dijuluki "Bapak
Android". Ia merupakan pendiri Android Inc, yang kemudian dibeli Google
dan "meledak" jadi sistem operasi smartphone laris.
Sempat jadi Kepala Sistem Operasi
Android di Google, Andy telah mengundurkan diri dari posisi itu. Meskipun
demikian, ia dikabarkan masih di Google, menjabat posisi yang belum diumumkan.
Salah satu kalimat Rubin tentang Android yang terkenal adalah, "Kami tidak sedang membuat sebuah ponsel Google; kami memungkinkan ribuan orang untuk membuat ponsel Google!"
Kalimat itu seakan menegaskan filosofi di balik ponsel Android. Terbukti, sekarang ada banyak jenis ponsel, tablet, dan bahkan kamera yang menjalankan sistem operasi Android.
Salah satu kalimat Rubin tentang Android yang terkenal adalah, "Kami tidak sedang membuat sebuah ponsel Google; kami memungkinkan ribuan orang untuk membuat ponsel Google!"
Kalimat itu seakan menegaskan filosofi di balik ponsel Android. Terbukti, sekarang ada banyak jenis ponsel, tablet, dan bahkan kamera yang menjalankan sistem operasi Android.
Karier Rubin di Google dimulai sejak
2005, saat Android Inc dilahap oleh Google. Namun, sebelum itu, Rubin ternyata
sudah pernah bersinggungan dengan Apple dan Microsoft, dua raksasa yang
sekarang juga bersaing dengan Google di arena smartphone.
Masuk Apple dari pantai
Sejak kecil, Rubin sudah terbiasa
melihat banyak gadget baru. Ini karena ayahnya, seorang psikolog yang
banting setir ke bisnis direct marketing, menyimpan produk elektronik
yang akan dijualnya di kamar Rubin.
Ia memiliki minat besar pada segala
hal berbau robot. Di Carl Zeiss AG, tempat kali pertama ia bekerja setelah
lulus kuliah, Rubin berada di sebuah divisi robotika, tepatnya pada komunikasi
digital antara jaringan serta perangkat pengukuran dan manufaktur.
Setelah dari Carl Zeiss, ia sempat
bekerja di bidang robot di sebuah perusahaan di Swiss. Karier Rubin di bidang
robotika nampaknya semakin cerah. Namun, hidupnya berubah gara-gara liburan di
Cayman Island tahun 1989.
Saat sedang mengunjungi kepulauan
tropis di Jamaika itu, Rubin tak sengaja bertemu dengan seorang bernama Bill
Caswell. Pria ini sedang tidur di tepi pantai, terusir dari sebuah cottage setelah
bertengkar dengan pacarnya.
Andy menawarkan pria itu tempat
tinggal. Sebagai balas budi, Casswell menawarkannya pekerjaan. Kebetulan, pria
itu bekerja di Apple.
Di Apple, Rubin mengalami masa-masa
yang menyenangkan. Pada saat itu, Apple masih dalam kondisi baik berkat
komputer Macintosh.
Budaya Apple pun menular pada diri
Rubin. Di sana ia sempat melakukan kejahilan seperti memprogram ulang sistem
telepon sehingga ia bisa berpura-pura sebagai sang CEO, John Sculley.
Lelucon seperti itu mungkin akan disukai Steve Jobs, pria yang gemar membuat lelucon lewat telepon. Namun ketika itu adalah periode Apple tanpa Jobs.
Lelucon seperti itu mungkin akan disukai Steve Jobs, pria yang gemar membuat lelucon lewat telepon. Namun ketika itu adalah periode Apple tanpa Jobs.
"Dilempar" ke General
Magic
Dari bagian manufaktur, Rubin pindah
ke bagian riset di Apple. Kemudian, pada 1990, Apple melakukan spin-off untuk
membentuk sebuah perusahaan bernama General Magic dan Rubin ikut di dalamnya.
General Magic berfokus pada
pengembangan perangkat genggam dan komunikasi. Para engineer yang gila
kerja, termasuk Rubin tentunya, berhasil mengembangkan sebuah peranti lunak
bernama Magic Cap.
Sayangnya, Magic Cap tidak mendapat
sambutan dari perusahaan handset dan telekomunikasi. Beberapa yang
menerapkan Magic Cap hanya melakukannya sebentar. General Magic pun akhirnya
hancur.
Beberapa pengembang di General
Magic, bersama beberapa veteran Apple, kemudian mendirikan Artemis Research.
Perusahaan ini mengembangkan sesuatu bernama WebTV, sebuah upaya awal untuk
menggabungkan internet dengan televisi.
"Mampir" ke Microsoft
Rubin bergabung dengan Artemis untuk
ikut mengembangkan WebTV tersebut. Saat Microsoft membeli Artemis, di 1997,
Rubin pun ikut bergabung dengan perusahaan raksasa itu.
Episode gila khas Rubin kembali
terjadi di Microsoft. Rubin membangun sebuah robot yang dilengkapi kamera untuk
mengerjai rekan-rekannya. Gilanya, robot itu terhubung ke internet dan pada
satu insiden sempat dibobol oleh pihak di luar Microsoft.
Pada 1999, Rubin keluar dari WebTV
(dan artinya, ia tak lagi menjadi karyawan Microsoft). Ia kemudian menyewa
sebuah toko di Palo Alto, California, dan menyebut toko itu sebagai
laboratorium.
Di tempat yang penuh dengan berbagai mainan robot koleksi Rubin, lahirlah sebuah ide untuk produk baru. Bersama beberapa rekannya, Rubin kemudian mendirikan Danger Inc.
Di tempat yang penuh dengan berbagai mainan robot koleksi Rubin, lahirlah sebuah ide untuk produk baru. Bersama beberapa rekannya, Rubin kemudian mendirikan Danger Inc.
Sukses awal dengan Sidekick
Sukses diraih Danger melalui sebuah
perangkat bernama Sidekick. Aslinya, perangkat ini dinamai Danger Hiptop.
Namun, di pasaran ia dikenal sebagai T-Mobile Sidekick.
"Kami ingin membuat sebuah perangkat, kira-kira seukuran batang cokelat, dengan harga di bawah 10 dollar AS, dan bisa digunakan untuk men-scan sebuah benda dan mendapatkan informasi soal benda itu dari internet. Lalu, tambahkan perangkat radio dan transmiter, jadilah Sidekick," tutur Rubin soal Sidekick.
"Kami ingin membuat sebuah perangkat, kira-kira seukuran batang cokelat, dengan harga di bawah 10 dollar AS, dan bisa digunakan untuk men-scan sebuah benda dan mendapatkan informasi soal benda itu dari internet. Lalu, tambahkan perangkat radio dan transmiter, jadilah Sidekick," tutur Rubin soal Sidekick.
Saat ini, Sidekick memang sudah
terlihat usang. Namun pada masanya, Sidekick adalah sebuah benda yang ganjil
dengan konsep teknologi yang melampaui zaman.
Perangkat itu, menurut Rubin,
merupakan pengakses data dengan kemampuan telepon. Ketika muncul di pasaran,
Sidekick harus menghadapi kenyataan bahwa PDA sedang kehilangan pasar. Namun,
Rubin menegaskan bahwa Sidekick bukanlah PDA.
"Seharusnya, orang-orang bukan
bertanya apakah ini PDA atau ponsel. Mereka harusnya bertanya, apakah ini
platform untuk pengembang pihak ketiga? Ini adalah hal yang baru. Ini adalah
untuk kali pertama sebuah ponsel dijadikan platform untuk pengembang pihak
ketiga," kata Rubin.
Sekarang, apa yang dikatakan Rubin
bukan hal aneh lagi. Lihat saja Apple dengan jutaan aplikasi pihak ketiga yang
hadir di iPhone.
Hal lain yang dilakukan Danger, yang
pada masa itu belum terpikirkan, adalah menjembatani antara pembuat handset
dan penyedia jaringan. Danger memutuskan untuk berbagi keuntungan dengan
T-Mobile dalam layanan Sidekick.
Dengan demikian, Danger tak
mengandalkan penjualan handset sebagai sumber penghasilan satu-satunya,
tetapi juga dari layanannya. Ini membuat perusahaan pembuat perangkat (Danger)
memiliki tujuan yang sama dengan penjual perangkat (operator telekomunikasi
T-Mobile).
Dicaplok Microsoft
Dicaplok Microsoft
Rubin meninggalkan Danger pada 2004.
Pada 2008, perusahaannya itu dibeli oleh Microsoft.
Sang Raksasa rupanya tertarik untuk memasuki bisnis ponsel dengan lebih agresif lagi. Nilai yang ditawarkan pun tidak tanggung-tanggung. Menurut kabar yang beredar, Microsoft membeli Danger dengan harga 500 juta dollar AS.
Sang Raksasa rupanya tertarik untuk memasuki bisnis ponsel dengan lebih agresif lagi. Nilai yang ditawarkan pun tidak tanggung-tanggung. Menurut kabar yang beredar, Microsoft membeli Danger dengan harga 500 juta dollar AS.
Namun, pembelian Danger oleh
Microsoft ternyata tidak membawa hasil yang berbunga-bunga. Para eksekutif yang
tersisa dari Danger digabungkan oleh Microsoft ke dalam Mobile Communication
Business, dari divisi Entertainment dan Devices.
Kemudian, mereka diminta
mengembangkan sebuah ponsel yang dikenal dengan sebutan Project Pink.
Targetnya, ponsel ini harusnya bisa menjadi pesaing iPhone, BlackBerry, dan
Android.
Gagalnya Project Pink
Gagalnya Project Pink
Menurut ComputerWorld,
Project Pink menderita penyakit klasik di sebuah perusahaan besar. Karena
proyeknya cukup bergengsi, ia diperebutkan oleh beberapa pihak. Lebih parahnya
lagi, perkembangannya makin melenceng dari yang diinginkan.
Contohnya, awalnya ponsel itu akan
dikembangkan dengan basis Java, tetapi kemudian diminta untuk menggunakan
sistem operasi Microsoft. Sayangnya, Windows Phone 7, yang seharusnya bisa
digunakan untuk Project Pink, belum siap.
Walhasil, saat diluncurkan, ponsel
yang akhirnya bernama Microsoft Kin ini menggunakan sistem operasi Windows
untuk ponsel yang "lawas". Sambutan pasar yang dingin pun membuat Kin
akhirnya harus ditutup, hanya beberapa bulan sejak diluncurkan.
Nasib layanan Sidekick, yang diwarisi Microsoft dari Danger, juga tak terlalu baik. Dalam satu insiden, yang masih belum diketahui pasti apa penyebabnya, pelanggan Sidekick tiba-tiba kehilangan semua data mereka.
Nasib layanan Sidekick, yang diwarisi Microsoft dari Danger, juga tak terlalu baik. Dalam satu insiden, yang masih belum diketahui pasti apa penyebabnya, pelanggan Sidekick tiba-tiba kehilangan semua data mereka.
Satu yang perlu diketahui, semua
data pada Sidekick memang disimpan "di awan" (dalam hal ini pada server
yang dikelola Microsoft dan bisa diakses melalui internet). Nah, ketika server
itu mengalami gangguan, semua data pengguna Sidekick pun lenyap.
Memikat pendiri Google
Pada awal 2002, Rubin sempat
memberikan sebuah kuliah di Stanford mengenai pengembangan Sidekick. Pasalnya,
meski penjualan Sidekick di pasaran tak meledak, perangkat itu dinilai cukup
baik dari sisi engineering.
Sebuah kebetulan bahwa Larry Page
dan Sergei Brin, pendiri Google, ikut hadir dalam kuliah tersebut. Selepas
kuliah, Page menemui Rubin untuk melihat Sidekick dari dekat.
Rupanya, Page melihat perangkat itu
menggunakan mesin cari Google. "Keren," ujar Page.
Ini adalah sebuah titik tolak bagi Page untuk sebuah ide yang dalam beberapa tahun kemudian akan terwujud: sebuah ponsel Google.
Ini adalah sebuah titik tolak bagi Page untuk sebuah ide yang dalam beberapa tahun kemudian akan terwujud: sebuah ponsel Google.
Mendirikan Android
Lebih kurang dua tahun setelah itu,
Rubin telah meninggalkan Danger dan mencoba melakukan hal-hal baru. Di
antaranya mencoba memasuki bisnis kamera digital sebelum akhirnya ia mendirikan
Android.
Rubin menginkubasi Android saat ia
menjadi enterpreneur-in-residence bersama perusahaan modal ventura
Redpoint Ventures di 2004. "Android berawal dari satu ide sederhana:
sediakan platform mobile yang tangguh dan terbuka sehingga bisa
mendorong inovasi lebih cepat demi keuntungan pelanggan," ujar Rubin.
Pada Juli 2005, 22 bulan setelah
Android berdiri, perusahaan itu ditelan oleh raksasa Google. Rubin pun memilih
untuk bergabung dengan Google.
Ketika membeli Android Inc, Google
tidak menyebutkan dengan rinci berapa harga yang dibayarkan dan apa yang ingin
dilakukannya dengan perusahaan itu. Bahkan, Google menyebut pembelian itu
sebagai akuisisi terhadap sumber daya manusia dan teknologinya saja.
Selain Andy Rubin, Google memang meraup banyak orang brilian dari Android. Ini termasuk Andy McFadden (pengembang WebTV bersama Rubin, dan juga pengembang Moxi Digital); Richard Miner (mantan Vice President Orange, perusahaan telekomunikasi); serta Chris White (pendiri Android dan perancang interface WebTV).
Selain Andy Rubin, Google memang meraup banyak orang brilian dari Android. Ini termasuk Andy McFadden (pengembang WebTV bersama Rubin, dan juga pengembang Moxi Digital); Richard Miner (mantan Vice President Orange, perusahaan telekomunikasi); serta Chris White (pendiri Android dan perancang interface WebTV).
Revolusi "Robot Hijau"
Bersama Google, Android diberi
kekuatan ekstra. Perusahaan asal Mountain View, California, itu kemudian
membentuk Open Handset Alliance untuk mengembangkan perangkat bagi Android.
"Google tak bisa melakukan segalanya, dan kami tidak perlu. Itulah mengapa kami membentuk Open Handset Alliance dengan lebih dari 34 rekanan," ujar Rubin.
"Google tak bisa melakukan segalanya, dan kami tidak perlu. Itulah mengapa kami membentuk Open Handset Alliance dengan lebih dari 34 rekanan," ujar Rubin.
Perangkat Android yang hadir di
pasaran memang bukan buatan Google. Petarung kelas berat Android termasuk
Motorola, Samsung, dan HTC yang masing-masing melemparkan ponsel Android
andalan mereka ke pasaran.
"Sekadar melemparkan peranti
lunak tidaklah cukup," Rubin menjelaskan. "Anda perlu handset yang
dikembangan untuk peranti lunak ini dan penyedia jaringan yang mau
memasarkannya."
Seperti kata Larry Page, saat mengumumkan mundurnya Rubin dari jabatannya, awalnya banyak orang menganggap Rubin "gila".
Seperti kata Larry Page, saat mengumumkan mundurnya Rubin dari jabatannya, awalnya banyak orang menganggap Rubin "gila".
"Ia percaya, menerapkan standar
dengan memanfaatkan sistem operasi open source akan mendorong inovasi di
industri mobile. Kebanyakan orang saat itu menganggap ia gila. Tapi kami
(pendiri Google, Page dan Brin) sepakat dengan pemikirannya," ujar Page.
Saat ini, kata Page, Android adalah
sistem operasi mobile paling banyak digunakan di dunia. Rekanannya di
dunia mencapai 60-an pemanufaktur, 750 juta perangkat yang telah diaktifkan,
dan 25 miliar unduhan aplikasi di Google Play.
"Pencapaian yang melebihi
ambisi gila kami saat mengembangkan Android pada awalnya," kata Page.
Apakah kiprah "Bapak Android" berikutnya? Page berharap Andy Rubin akan memulai babak baru di Google. Ia pun berharap Rubin akan banyak melontarkan proyek gila lainnya, istilah yang disukai Page: moonshot.
Apakah kiprah "Bapak Android" berikutnya? Page berharap Andy Rubin akan memulai babak baru di Google. Ia pun berharap Rubin akan banyak melontarkan proyek gila lainnya, istilah yang disukai Page: moonshot.
"Andy, more moonshots please!"
kata Page.



0 komentar:
Posting Komentar