• Enter Slide 1 Title Here

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and find this content. Replace it your own description.

  • Enter Slide 2 Title Here

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and find this content. Replace it your own description.

  • Enter Slide 3 Title Here

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and find this content. Replace it your own description.

  • Enter Slide 4 Title Here

    This is slide 4 description. Go to Edit HTML and find this content. Replace it your own description.

  • Enter Slide 5 Title Here

    This is slide 5 description. Go to Edit HTML and find this content. Replace it your own description.

  • Enter Slide 6 Title Here

    This is slide 6 description. Go to Edit HTML and find this content. Replace it your own description.

Rabu, 18 Desember 2013

Contoh Features

Posted by Unknown on 23.26 with No comments

Tips

Posted by Unknown on 23.15 with No comments


Tips menjadi seorang moderator yang baik
1)      Percaya Diri
2)      Pelajari Materi
3)      Perhatikan Cara Bicara saat melihat moderator
4)      Persiapkan catatan
5)      Cara Bicara saat menjadi moderator
6)      Mempersiapkan penampilan
7)      Memperhatikan  Waktu

Chairil Anwar

Posted by Unknown on 23.05 with No comments
Yang Terampas Dan Yang Putus
Chairil Anwar

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku


1949



Contoh Cerpen

Posted by Unknown on 22.58 with No comments


SEBELUM SEMBAHYANG

Matahari mulai merundukkan sinarnya di ufuk barat. Mulai terlihat awan yang memerah, sedikit terhiasi dengan awan muram. Terlihat sebuah bangunan yang megah dan agung, berdiri kokoh bersanding dengan hamparan petak sawah dan perkampungan warga. Terdengar suara kentongan dan beduk, disusul sang penyeru mulai mengumandangkan suaranya untuk mengajak para warga agar segera menunaikan ibadah di saat senja.
Saat itu suasana perkampungan masih sepi. Tak terlihat bayangan di jalanan kampung. Siluet-siluet yang tampak dibalik tirai rumah-rumah. Saat semua warga sibuk menyiapkan diri untuk pergi ke Masjid, tampak sekelompok pemuda yang kurang kerjaan sedang nongkrong di sebuah gang yang sepi. Mereka sedang santai berbincang-bincang tentang adzan yang berkumandang begitu kerasnya.
“Adzan! Adzan! Wah baru kali ini aku dengar istilah itu. Kok, hampir sama, ya? Adzan! Edan!” ujar Copet I dengan memasang tampang bodoh.
Mendengar ucapan tersebut Copet IV mengingatkan bahwa yang diucapkan temannya itu telah melecehkan adzan. Tetapi dengan bodohnya, Copet I mulai mengeluarkan lawakannya tentang kata adzan dan kata edan. Dengan lagaknya yang sombong, si Copet I mengaku bahwa dia pernah tinggal di asrama. Jadilah dia bahan bercandaan teman-temannya. Copet II, Copet III, dan Copet IV terus meledeki Copet I sebagai orang gila jebolan dari Pakem.
“Bangsat! Bangsat! Bangsat! Kenapa kalian terus tertawa? Sedari tadi kalian mengataiku gila. Sekarang hilanglah kesabaran saya. Aku tidak terima, aku tidak terima. Ha, kenapa kalian bengong? Aku marah tahu! Marah!” teriak Copet I dengan penuh amarah.
Teman-temannya pun kaget melihat kemarahan Copet I yang semakin menjadi. Padahal mereka hanya berniat bercanda. Semakin lama kemarahan Copet I semakin menjadi. Dia menantang berkelahi dengan 3 temannya itu. Copet II, Copet III, dan Copet IV panik bukan kepalang melihat tingkah si Copet I yang semakin tidak jelas. Perasaan ketakuan yang mulai memuncak, mereka memilih diam dan mundur. Saat itu pula Copet I tertawa terbahak-bahak. Temannya sangat terkejut dan tererheran-heran melihat tingkah Copet I. Mereka menyangka bahwa Copet I menjadi orang gila sungguhan.
“Wah, kenapa sekarang kalian menjadi manusia-manusia tolol? Kenapa sekarang kalian mudah sekali ditipu?” ucap Copet I sambil meledek teman-temannya.
Rupanya Copet I hanya berpura-pura menjadi marah agar temannya ketakutan. Akibat dari ulah Copet I, Copet IV sampai terkencing-kencing di celana. Semakin menjadi bercandaan mereka melihat celana Copet IV yang basah. Copet II mengatakan bahwa Copet I cocok menjadi pemain sandiwara. Aksi yang ditunjukkan Copet I benar-benar total dan membuat temannya ketakutan bukan kepalang. Ditengah-tengah mereka bercanda, tiba-tiba datang seorang wanita cantik berkerudung sambil membawa bungkusan sajadah dan mukena untuk Shalat. Dengan sergap Copet IV mencegat wanita itu. Wanitamuslim itu berhenti dan menatap komplotan itu satu persatu.
“Wah, tatapannya maut, sih. Keder juga aku.” Copet II mulai merayu si wanita muslim.
“Kalau aku justru malah jatuh cinta! Ohhhhh...bidadariku, inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?” Copet II juga mulai mengelurkan jurus merayunya.
Mendengar rayuan para copet, wanita muslim itu akan melanjutkan perjalanannya. Tetapi dia kembali dihadang oleh Copet IV. Si wanita muslim itu melawan dan memasang kuda-kuda. Bersiap untuk berkelahi dengan para pencopet. Melihat aksi wanita muslim itu, Copet IV mulai mendekati wanita muslim itu dan mulai mencolek badannya. Tetapi tak sampai mencolek, tangan Copet IV di tangkap dan di plintir oleh wanita muslim. Tak Cuma itu, wanita muslim juga menendang Copet IV sampai dia tersungkur ke tanah. Melihat aksi si wanita muslim itu Copet IV terkejut. Melihat Copet IV yang merintih kesakitan, Copet II malah meledeknya.
“Ha...ha...ha...sungguh pemandangan yang lucu. Empat ekor serigala kelaparan mencoba memangsa kelinci tak berdaya. Sungguh tak seimbang.” Ucap seorang Kiai
“Guru!” seru wanita muslim melihat sang guru datang.
“Minggirlah, Zubbaidah, mereka bukan lawanmu. Dan mereka memang patut diberi pelajaran.” Ujar Kiai untuk melindungi Zubbaidah dari para copet tersebut.
Copet I mulai mengancam dan mengajak Kiai untuk berkelahi. Kiai pun meladeni ajak si Copet I. Terjadilah perkelahian. Kiai dikerubuti oleh para copet, tapi Kiai tetap menang melawan para copet.
“Aduh, waduh bingung. Aku kapok, Pak Kiai, kapok!” seru Copet III
“Waduh kepalaku benjut. Ampun!” Copet IV mengadu kesakitan
“Seluruh tubuhku rasanya ngilu semuanya. Jangan, Pak Kiai, saya jangan dipukuli lagi.” Rintih Copet II yang kesakitan
“Saya juga kapok, Pak Kiai.” Seru Copet I mengaku kalah
Mendengar rintihan para copet, Kiai mulai meyakinkan para copet bahwa mereka benar-benar kapok dengan kelakuannya.
“Yakin - ainul - yakin, Pak Kiai.” Ucap Copet II meyakinkan Pak Kiai
“Alllaaaa! Pakai yakin “ainul yakin” segala” Pak Kiai tak percaya dengan omongan si Copet II
“Lho, diam-diam saya dulu pernah jadi santri di pondok, Pak Kiai.” Copet II mulai membuka masa lalunya
Dan ternyata Copet II pernah merasakan pendidikan di dalam pondok. Tetapi dia lari dari pondok karena mencuri lampu petromaks. Copet I dahulunya juga seorang laki-laki yang rajin pergi ke Masjid, apalagi saat bulan Ramadhan dia rajin teraweh di Masjid, tetapi dia sering mencuri sandal para jama’at. Sedangka Copet III adalah keturunan seorang Modin. Kakek buyutnya sering memimpin kenduri. Tapi sayang, dia dilahirkan dalam rumah tangga yang kacau balau. Bapaknya seorang tukang kepruk dan ibunya seorang pelacur jalanan.
“Astagfirullah! Manusia memang tidak akan mengetahui apa yang akan menjadi rencana-rencana Allah. Tuhan memang mengemudi kita semua. Tetapi jika kalian terjerumus ke jurang yang penuh onak dan cadas, jangan kalian salahkan Tuhan. Sebab kalian telah turuti bujukan syaitan nirajim!” ceramah Pak Kiai
Semua orang mulai bengong. Lalu bersama-sama mengangkat tangan, seperti gaya orang mendoa “Amin” dalam kenduri.
“Pada mulanya kalian ini adalah fitrah. Namun orang tuamu telah salah dalam menjuruskan kalian. Di samping kalian sendiri yang salah dalam memilih teman bergaul. Saya tidak akan berkata penjang lebar. Hanya saya akan menawarkan pada kalian. Jika kalian ingin meluruskan jalan kalian, saya sanggup memberi petunjuk. Jika tidak, toh itu urusan kalian juga. Aku akan segera meneruskan perjalanan.” Nasihat Pak Kiai
Para Copet tersebut mulai kebingunan, apakah mereka akan mengikuti nasehat Pak Kiai atau tidak. Dan akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti nasehat Pak Kiai. Mereka sadar bahwa Tuhan tidak akan tidak akan mengubah nasib seseorang jika orang itu sendiri tidak mau mengubah. Mereka juga mulai merasa bosan menjadi brandalan yang kerjaannya sebagai pencopet.
”Tapi gimana? Saya ini beragama Katholik, Pak Kiai. Pakde saya ada yang jadi pastur. Saya sejak lahir telah dikukuhkan sebagai umat Kristiani, saya telah dibaptis. Nama saya Fransiscus Xaverius Boiman.” Copet IV kebingungan menentukan jalan hidupnya
“Oh, begitu! Jika demikian pulanglah kamu ke haribaan agamamu. Minta ampunlah pada orang tuamu. Segera bertaubatlah kepada Allah dengan mengaku dosa lewat pastur. Dan jalankan kehidupan Liturgi yang telah lama kau lupakan. Rajin-rajinlah ke gereja, sesudah mengaku dosa pada pasturnya.” Nasehat Pak Kiai
Terdengar suara Iqomah yang menandakan akan segera dimulainya shalat. Pak Kiai, Copet I, Copet II, Copet III, dan Zubbaidah bergegas menuju Masjid. Mereka pergi untuk Shalat meskipun sedikit terlambat. Sebelum berpisah, Copet IV mengtakan bahwa dia akan rajin pergi ke Gereja setiap hari Minggu untuk meluruskan jalan hidupnya. Akirnya mereka berpisah dan para copet tersebut menjalani hidupnya di jalan yang lurus. Mereka telah inyaf dan berhenti menjadi brandalan.

Lanjutan Membaca

Posted by Unknown on 22.29 with 2 comments


Membaca sebagai Suatu Keterampilan
Keterampilan membaca mencakup 3tiga komponen, yaitu:
a)      Pengenalan aksara serta tanda-tanda baca, suatu kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk yang disesuaikan dengan modoe yang berupa gambar di atas suau lembaran, lengkungan-lengkungan, garis-garis, dan titik-titik dalam hubungan-hubungan berpola yang teratur dan rapi.
b)      Korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur lingustik yang formal, merupakan suatu kemampuan untuk menghubungkan tan-tanda hitam di atas kertas – yaitu gambar-gambar berpola tersebut – dengan bahasa. Hubungan-hubungan itu jelas terlihat terjadi antara unsur-unsur dari pola-pola tersebut di atas kertas dan unsur-unsur bahasa yang formal. Pada hakikatnya sifat keteranpilan itu akan selalu mengalami perubahan-perubahan pula. Unsur-unsur itu dapat merupakan kelompok bunyi kompleks yang dapat disebut sebagai kata, frase, kalimat, paragraf, bab, atau buku.
c)      Hubungan lebih lanjut dari A dan B dengan makna atau meaning, mencakup keseluruhan keterampilan membaca, pada hakikatnya merupakan keterampilan intelektual; ini merupakan kemampuan atau abilitas untuk menghubungkan tanda-tanda hitam di atas kertas melalui unsur-unsur bahasa yang formal, yaitu kata-kata sebagai bunyi, dengan makna yang dilambangkan oleh kata-kata tersebut. (Broughton (et al) 1978: 90).

Mengembangkan Keterampilan Membaca
Seorang guru bahasa haru mampu membantu serta membimbing para pelajar untuk mengembangkan serta meningkatkan keterampilan-keterampilan yang mereka butuhkan dalam membaca. Usaha yang dapat dilaksanakan untuk meningkatkan keterampilan membaca itu, antara ain:
a)      Guru dapat menolong para pelajar memperkaya kosakata mereka engan jalan:
1)      Memperkenalkan sinonim kata, antonim kat, prapharase, kata-kata yang berdasar sama;
2)      Memperkenalka imbuhan, yang mencakup awaln, sisipan, dan akhiran;
3)      Mengira-ngira atau menerka makna kata dari konteks atau hubungan kalimat;
4)      Jika perlu, menjelaska arti sesuatu kata abstrak dengan mempergunakan bahasa daerah atau bahasa ibu pelajar.
b)      Guru dapat membantu para pelajar untuk memahami makna struktur-struktur kata, kalimat, dan sebagainya dengan cara-cara yang telah dikemukakan di atas, disertai latihan seperlunya.
c)      Jika perlu guru dapat memberikan serta menjelaskan kawasam atau pengertian kiasan, sindiran, ungkapan, pepatah, pribahasa, dan lain-lain dalam bahasa daerah atau bahasa ibu para pelajar.
d)     Guru dapat menjamin serta memastikan pemahaman para pelajar dengan berbagai cara, misalnya:
1)      Mengemukakan berbagau jenis pertanyaan terhadap kalimat yang sama, contohnya, dengan kalimat “Budi guru”, kita dapat bertanya:
a)      “Apakah Budi guru?”
b)      “Siapakah Budi?”
c)      “Apakah pekerjaan Budi?”
d)     “Bagaimana pendapatmu mengenai pekerjaan Budi?”
2)      Mengemukakan pertanyaan, yang jawabannya dapat ditemukan oleh para pelajar serta verbatein (kata demi kata) dalam bahan bacaan.
3)      Menyuruh para pelajar membuat rangkuman atau ikhtisar dari suatu paragraf. Rangkuman tersebut haruslah mencakup ide-ide penting dalam urutan yang wajar.
4)      Menanyakan apa ide pokok suatu paragraf.
5)      Menyuruh para pelajar untuk menemukan kata-kata yang melukiskan seseorang atau suatu proses yang menyatakan bahwa orang itu sedang bergegas, marah dan sebagainya.
6)      Menunjukkan kalmat-kalimat yang kuran baik letak/susunannya, dan menyuruh para pelajar untuk menempatkannya pada tempat/susunan yang tepat.
e)      Guru dapat meningkatkan kecepatan membaca para pelajar, denga cara sebagai berikut:
1)      Suruh para pelajar membaca dalam hati, ukurlah waktu membaca tersebut;
2)      Diusahakan waktu tersebut bertambah singkat serta efisien secara teratur sepanjang tahun;
3)      Harus dihindari gerakan-gerakan bibir pada saat membaca dalam hati, hal ini tidak baik dan tidak perlu dilakukan oleh para pelajar;
4)      Guru harus menjelaskan tujuan khusus, tujuan tertentu membaca kepada para pelajar. Mereka harus dapat menemukan dari bahan bacaab jawaban terhadap beberapa pertanyaan, atau beberapa kata atau sesuatu ide, pendapat atau pikiran utama/pikiran pokok, dan sebagainya. (Finocchiaro 1974: 80-81; Finocchiarco and Bonomo 1973: 121-123; Finocchiarco 1946: 81-83)
Singktnya, dalam mengembangkan serta meningkatkan keterampilan membaca para pelajar, sang guru mempunyai tanggung jawab berat, paling sedikit meliputi enam hal utama yaitu:
a)      Memperluas pengalaman para pelajar sehingga mereka akan memahami keadaan dan seluk beluk kebudayaan;
b)      Mengajar bunyi-bunyi (bahasa) dan makna-makna kata-kata baru;
c)      Mengajarkan hubungan bunyi bahasa dan lambang atau simbol;
d)     Membantu para pelajar memahami struktur-struktur (temasuk struktur kalimat yang biasanya tidak begitu mudah bagi pelajar bahasa)’
e)      Mengajar keterampilan-keterampilan pemahaman ( comprehension skils);
f)       Membantu para pelajar untuk meningkatkan kecepatan dalam membaca.
Untuk menjaga agar motivasi atau dorongan membaca selalu besar, pengajaran yang dilakukan oleh sang guru hendaknya berjalan dalam dua arus yang sejajar:
Pertama        : guru membantu para pelajar membaca bahan-bahan yang menarik serta bermanfaat secepat mungkin;
Kedua           : guru secara sistematis mengajarkan orespondensi atau hubungan-hubungan bunyi dan lambang yang diperlukan oleh para pelajar untuk memaham serta mendorong mereka membaca sendiri. Agar eimbang dan tidak berat sebelah, membaca secara aktual bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat kematangan para pelajar daripada untuk/mengenai perkembangan sistematis korespondensi-korespondensi tersebut. (Finocchiaro and Bonomo 1973: 121)
Khusus bagi guru bahasa (asing) dituntut kualifikasi sebagai berikut:
Minimal         : kemampuan memahami secara langsung (tanpa terjemahan) makna/isi prosa sederhana yang non-teknis, kecuali kata yang sulit dan jarang digunakan.
Baik               : kemampuan membaca dengan pemahaman yang langsung terhadap prosa dan puisi yang taraf kesukarannya sedang dan isi yang matang.
Baik sekali     : kemampuan membaca, hampir semudah dalam bahasa ibu sendiri, bahan-bahan yang amat sulit seperti esei dan kritik sastra. (Finocchiarco and Bonomo 1973: 28; Lado 1976: 231)
Selain itu, ada juga hambatan dalam mengembangkan keterampilan membacamenurut Farida Rahim (2008:128) meliputi hal-hal sebagai berikut:
1)      Rendahnya Motivasi                   : Sering kali saat membaca, kita tidak memiliki motivasi yang kuat atas bahan bacaan. Motivasi yang kurang ini secara mental akan membuat kita membaca dengan lambat dan otak tidak dirangsang untuk bekerja dan memahami apa yang kita baca.
2)      Kurangnya alat peraga                : Alat peraga sangat mendukung terhadap lancar atau tidaknya proses pengajaran keterampilan membaca pada anak-anak. Alat peraga akan mendorong anak untuk tumbuhnya minat baca siswa.
3)      Kurangnya dukungan orang tua :Dukungan orang tua juga sangat menentukan timbulnya keinginan membaca pada diri siswa. Namun kenyataannya tidak semua orang tua memperhatikan terhadap keterampilan membaca anaknya.
4)      Terbatasnya bahan bacaan          : Tidak semua sekolah memiliki perpustakaan yang mengoleksi buku-buku bahan bacaan siswa. Akibatnya siswa kesulitan untuk mencari bahan bacaan.