Rabu, 18 Desember 2013

Keterampilan Berbicara

Posted by Unknown on 21.34 with 2 comments


BAB 1
FAKTOR-FAKTOR PENUNJANG KEEFEKTIFAN BERBICARA
Kemampuan berbicara adalah kemmpuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan informasi dengan efektif, sebaiknya pembicara betul-betul memahami isi pembicaraannya, di samping juga harus dapat mengevaluasi efek komuniksinya terhadap pendengar.
1.1          FAKTOR-FAKTOR KEBAHASAAN SEBAGAI PENUNJANG KEEFEKTIFAN BERBICARA
1.            Ketepatan Ucapan
                Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat, dapat mengalihkan perhatian pendengar. Misalnya, pengucapan e yang kurang tepat, bebas diucapkan bebas, sebaliknya derap diucapkan derap. Tidak jarang kita dengar orang mengucapkan kata-kata yang tidak jelas suku katanya. Misalnya, pemrintah atau pemerintah. Sebaliknya ada pula pembicara menambahkan bunyi-bunyi tertentu di belakang suku kata atau di belakang kata.
                Bunyi-bunyi konsonan dan vokal bahasa Indonesia yang masih murni kemudian diberi tambahan bunyi tertentu sehingga kedengarannya seperti bunyi vokal atau konsonan suatu bahasa barat. Misalnya kata dapat diucapkan dapateh.. pengucapan bunyi-bunyi bahasa dianggap cacat kalau menyimpang terlalu jauh dari ragam lisan biasa, sehingga terlalu menarik perhatian, mengganggu komunikasi, atau pemakainya dianggap aneh.
2.            Penempatan Tekanan, Nada, Sendi, dan Durasi yang Sesuai
                Kesesuaian tekanan, nada, sendi dan durasi akan merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara. Tekanan suara biasanya jatuh pada suku kata terakhir atau kedua dari belakang, kemudian kita tempatkan pada suku kata pertama.
3.            Pilihan Kata (Diksi)
                Pilhan kata hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Kata-kata populer tentu akan lebih efektif daripada kata-kata yang muluk-muluk, dan kata-kata yang berasal dari bahasa asing. Hendaknya dipilih kata-kata yang konkrit sehingga mudah dipahami pendengar. Kata-kata konkret yang menunjukkan aktivitas akan lebih mudah dipahami pembicara. Namun, pilihan kata itu tentu harus kita sesuaikan dengan pokok pembicaraan dan dengan siapa kita berbicara (pendengar). Pendengar akan lebih tertarik dan senang mendengarkan kalau pembicara berbicar dengan jelas dalam bahasa yang dikuasainya.
4.            Ketepatan Sasaran Pembicaraan
                Hal ini menyangkut pemakaian kalimat. Pembicara yang menggunakan kalimat efektif akan memudahkan pendengar menangkap pembicaraannya. Kalimat efektif mempunyai ciri-ciri keutuhan, perpautan, pemusatan perhatian, dan kehematan. Ciri keutuhan akan terlihat jika setiap kata betul-betul merupakan bagian yang padu dari sebuah kalimat. Pemusatan perhatian pada bagian yang terpenting dalam kalimat dapat dicapai dengan menempatkan bagian tersebut pada awal atau akhir kalimat, sehingga bagian ini mendapat tekanan waktu berbicara. Selain itu, kalimat efektif juga harus hemat dalam pemakaian kata, sehingga tidak ada kata-kata yang tidak berfungsi.
1.2          FAKTOR-FAKTOR NONKEBAHASAAN SEBAGAI PENUNJANG KEEFEKTIFAN BERBICARA
                Yang termasuk faktor nokebahasaan ialah:
1.       Sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku.
2.       Pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara.
3.       Kesediaan menghargai pendapat orang lain.
4.       Gerak-gerik dan mimik yang tepat.
5.       Kenyaringan juga sangat ditentukan.
6.       Kelancaran.
7.       Relevansi/penalaran.
8.       Penguasaan topik.

BAB 2
BERBICARA DALAM SITUASI FORMAL
2.1          HUBUNGAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN KEMAMPUAN BERBAHASA YANG LAIN
2.1.1      Berbicara: Komunikasi Dua Arah
Berbicara dan mendengarkan merupakan kegiatan komunikasi dua arah. Keefektifan berbicara tidak hanya ditentukan oleh si pembicara, tetapi juga oleh para pendengar. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan persendian.
Keefektifan berbicara juga ditunjang oleh sikap pendengar. Dalam mendengarkan kadang-kadang timbul fakto pengganggu, misalnya sikap, gaya pembicara, ciri-ciri jasmani yang kurang menarik, gerakan-gerakan yang mengganggu, dan sebagainya.
Selain itu, sikap terbuka terutama sikap menerima dengan senang gagasan atau penalaran yang lebih baik dai pembicara sehingga memungkinkan pendengar memperbaiki, mempersegar, atau mengganti gagasannya, perlu pula dipupuk. Seseorang pembicara harus mampu memilih dan menyajikan pokok persoalan sedemikian rupa, sehingga bukan hanya pembicara yang tertarik, tetapi juga pendengar. Janganlah memilih pokok pembicaraan yang sangat pribadi sifatnya.
Kita dapat melihat faktor-faktor yang menentukan keefektifan berbicara, yaitu pembicara, pendengar, dan pokok pembicaraan yang dipilih. Selain itu, faktor bahasa tentu juga sangat menentukan.
2.1.2      Hubungan Kemampuan Berbicara dengan Kemampuan Menulis
                Seorang pembicara yang baik, umumnya memerlukan persiapan tertulis. Sering seorang yang akan berbicara secara resmi, baik itu bentuk pidato, diskusi, atau seminar, memerlukan persiapan tertulis.
                Sebaliknya pendengar yang baik juga merasa perlu membuat catatan-catatan tertentu, terutama kalau ia ingin mengemukakan tanggapan terhadap pokok pembicaraan dan gagasan-gagasan utama dari si pembicara tersebut.
2.2          PERSIAPAN PEMBICARAAN FORMAL
                Untuk dapat menjadi pemicara yang baik, seorang pembicra harus mempersiapkan diri sebaik mungkin.  Persiapan ini menyangkut persiapan pokok pembicaraan yang akan dipilih dlm hal-hal yang berhubungan dengan kelengkapan bahan pembicaraan tersebut.
2.2.1      Memilih Topik Pemicaraan
                Dalam memili topik terutama dalam pembicaraan ilmiah, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangakn :
1.       Topik yang dipilh hendaknya menarik untuk dibicarakan. Topik ini akan lebih menarik bila:
a.       Merupakan masalah yang menyangkut persoalan bersama
b.      Merupakan jalan keluar dari suatu persoalan yang tengah dihadapi
c.       Mengandung konflik pendapat
d.      Tidak melampaui daya tangkap pendengar, sebaliknya tidak terlalu mudah untuk daya tangkap intelektual pendengar
e.      Masalah yang dibicarakan hendaknya dapat diselesaikan dalam waktu yang disediakan
2.       Topik jangan terlalu luas an jangan pula terlalu sempit. Topik yang terbatas akan memudahkan kita mencari informasi, sehingga masalah dapat betul-betul dikuasai dan hal ini akan menumbuhkan kepercayaan pada diri pembicara.
3.       Topik yang dibahas hendaknya ada manfaatnya bagi pendengar, baik untuk menambah ilmu pengetahuan atau yang berkaitan dengan profesi.
4.       Topik yang dipilih hendaknya sudah diketahui serba sedikit serta ada kemungkinan mendapatkan bahan.
5.       Janganlah mengambil topik yang sama sekali tidak diketahui. Bicarakanlah topik yng diketahui dengan baik, sehingga merangsang pendengar.
2.2.2      Menentukan Tujuan, Bahan, dan Kerangka
1.            Menentukan Tujuan
                Perumusan tujuan ini akan memberikan gambaran atau perencanaan menyeluruh yang akan mengarahkan pembicara dalam menentukan atau memilih materi yang sesuai. Tujuan ini dapat dinyatakan dalam dua cara. Jika pembicara ingin mengembangkan gagasam yang merupakan tema dari seluruh pembicaraan, tujuan ini dinyatakan dalam bentuk tesis. Agar efektif, suatu tesis hendaknya terbatas, utuh, dan tepat. Jika kita tidak bermaksud mengembangkan gagasan secara dominan, tujuan itu dapat dinyatakan dalam bentuk pernyataan maksud.


2.            Pengumpulan Bahan
                Yang dimaksud dengan bahan ialah semua informasi atau data yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Sebagian besar dari bahan penulisan ini dapat diperoleh dari dua sumber utama yaitu inferensi dan pengalaman. Inferensi ialah kesimpulan atau nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman. Sedangkan pengalaman ialah semua pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi indrawi.
3.            Kartu Informasi
                Kartu informasi ini sebaiknya dibuat dari kertas yang agak tebal. Ukurannya tergantung pada pertimbangan kita, biasanya 10x 15, atau 8x 12 cm. Dalam kartu ini dicantumkan informasi dan sumber informasi. Kalau sumbernya buku, cantumkan pengarang, judul buku, data penerbit, halaman, kutipan , atau catatan.
4.            Menyusun Kerangka
                Menyusun kerangka berarti memecahkan topik ke dalam subtopik dan mungkin selanjutnya ke dalam subtopik yang lebih kecil. Kerangka ini menjadi pedoman bagi kita dalam berbicara, sehingga kita dapat berbicara secara sistematis.
2.3          RAMBU-RAMBU DALAM BERBICARA
1.       Menguasai masalah yang dibicarakan
2.       Mulai berbicara kalau situasi sudah mengizinkan
3.       Pengarahan yang tepat akan dapat memancing perhatian pendengar
4.       Berbicara harus jelas dan tidak terlalu cepat
5.       Pandangan mata dan gerak-gerik yang membantu
6.       Pembicara sopan, hormat, dan meliatkan rasa persaudaraan
7.       Dalam komunikasi dua arah, mulailah berbicara jika sudah dipersilahkan
8.       Kenyaringan suara
9.       Pendengar akan lebih terkesan kalau ia dapat menyaksikan pembicara sepenuhnya
2.4          MASALAH LAFAL STANDAR
                Lafal yang dianggap pantas dicontoh, dapat diberikan dan dinyatakan dengan resmi sebagai lafal standar bahasa Indonesia. Beberapa pendapat pernah dikemukakan tentang lafal standar ini. Soenarjati Djajanegara mengemukakan empat pilian, yaitu:
a.       Memilih salah satu lafal bahasa daerah berdasarkan pertimbangan historis, politik, dan sosial
b.      Mengambl lafal Melayu sebagai asal bahasa Indonesia, sebagai dasar
c.       Memilih lafal pejabat tinggi pemerintah dan kaum cendikiawan sebagai teladan
d.      Memilih lafal resmi yang paling sedikit pengaruh lafal daerahnya
Lukman Hakim juga mengemukakan pilihan-pilihannya, yaitu:
a.       Mencontoh penutur yang mempunyai kesadaran berbahasa yang tinggi
b.      Enutur bahasa Indonesia yang bahasa ibunya bukan bahasa daerah, bukan pula dialek bahasa daerah
c.       Penutur yang berasal dari bahasa daerah tetapi pengaruh bahasa daerah itu tidak tampak lagi
d.      Penyiar TVRI
Banyak manfaat yang diperoleh dengan menguasai lafal standar ini, antara lain:
a.       Komunikasi akan lebih efektif, karena gangguan yang mungkin timbul karena lafal yng berbeda-beda dapat dihindari.
b.      Pendengar tidk bersikap positif terhadap pembicara yang menggunakan lafal standar, terutama dalam komunikasi yang tidak bertatap muka.
c.       Dapat memperkokoh persatuan karena dengan adanya lafal standar dapat memperkecil perbedaan.
d.      Dapat menumbuhkan kesadaran berbahasa atau kebanggaan berbahasa karena kemampuan menghasilkan yang baik dan benar.

BAB 3
DISKUSI KELOMPOK : SALAH SATU RAGAM KEGIATAN BERBICARA
3.1          MANFAAT, MACAM-MACAM, DAN KEUNGGULAN DISKUSI KELOMPOK
3.1.1      Manfaat dan Macam-Macam Diskusi
                Diskusi pada dasarnya suatu bentuk tukar pikiran yang teratur dan terarah, baik dalam kelompok kecil atau besar, dengan tujuan untuk mendapatkan suatu pengertian, kesepakatan, dan keputusan bersama mengenai suatu masalah. D engan demikian bertukar pikiran baru dapat dikatakan berdiskusi apabila :
a.       Ada masalah yang dibicarakan
b.      Ada seseorang yang bertindak sebagai pemimpin diskusi
c.       Ada peserta sebagai anggota diskusi
d.      Setiap anggota mengemukakan pendapatnya dengan teratur
e.      Kalau ada kesimpulan atau keputusan hal itu disetujui semua anggota
1.            Diskusi Panel
                Diskusi panel pada prinsipnya melibatkan beberapa penelis yang mempunyai keahlian dalam bidang masing-masing dan berkesepakatan mengutarakan pendapat dan pandangannya mengenai suatu masalah untuk kepentingan pendengar. Panel dipimpin oleh seorang moderator. Berhasil atau tidaknya panel sangat tergantung kepaa kelincahan moderator.
2.            Simposium
                Simposium hampir sama dengan panel, hanya lebih bersifat formal. Pemrasaran harus menyampaikan makalah mengenai suatu masalah yng disorot dari sudut keahlian masing-masing. Para peserta/pendengarlah yang lebih aktif berpartisipasi. Dalam simposium tidak diambil suatu keputusan, tetapi hanya untuk mendapat perbandingan tentang suatu masalah.
3.            Seminar
                Seminar merupakan suatu pertemuan untuk membahas suatu masalah tertentu dengan prasaran dan tanggapan melalui suatu diskusi untuk mendapatkan suatu keputusan bersama mengenai masalah tersebut. Seminar harus diakhiri dengan kesimpulan atau keputusan-keputusan baik berbentuk usul, saran, resolusi, atau rekomendasi.
                Secara garis besarnya, seminar dilaksanakan sebagai berikut :
a.       Dimualai dengan mendengarkan pandangan umum tentang suatu masalah
b.      Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok
c.       Kelompok-kelompok bersidang kembali untuk mensahakan kesimpulan komisi (sidang pleno)
d.      Hasil dirumuskan dalam bentuk usul, saran, resolusi, dan sebagainya yang dianggap perlu
4.            Lokakarya
                Biasanya lokakarya ini diikuti oleh sekelompok orang yang bergerak dalam lingkungan kera yang sejenis atau seprofesi. Lokakarya biasanya diadkan bila :
a.       Ingin mengevaluasi suatu proyek yang sudah dilaksnakan
b.      Ingin mengadakan pembaharuan sesuai dengan kebutuhan dsn tuntutan masyarakat
c.       Untuk bertukar pengalaman dengan tujuan lebih meningkatkan kemampuan kerja
5.            Brainstroming
                Brainstroming adalah aktivitas dari sekelompok orang yang memptoduksi/menciptakan gagasan yang baru sebanyak-banyaknya. Brainstroming ini dipakai apabila :
a.       Ingin menentukan informasi macam apa yang diperlukan dan bagaimana mendapatkan informasi tersebut
b.      Ingin menentukan kriteria yang tept untuk menguji tepat tidaknya sebuah gagasan
c.       Ingin menentukan gagasan yang mana yang mungkin dilakukan
d.      Ingin mengetahui bagaimana keputusan setepat-tepatnya.
Dalam hal ini dibutuhkan keterampilan moderator. Karena brainstroming mengundang pemecahan masala dengan banyak kemungkinan, dalam bentuk ini diperlukan pula seorang notulis untuk merekam jalannya diskusi dan mencatat gagasan-gagasan yang timbul.
3.1.2      Keunggulan Diskusi Kelompok
                Selain untuk mencapai efektifitas berbicara, diskusi kelompok juga dpat menghilangkan kejenuhan yang diakibatkan oleh suasana yang terus-menerus sama dalam ata pelajaran lain, sehingga bentuk ini dapat menumbuhkan motivasi, seperti sudah dijelaskan sebelumya.
                Diskusi kelompok dapat pula memancing kreatifitas beripiki siswa/mahasiswa. Dengan diskusi kelompok dapat pula diciptakan iklim yang memudahkan penerimaan bahan pelajaran serta dapat meningkatkan taraf berpikir siswa/mahasiswa.
                Peserta diskusi dapat menguji rgumentasi yang melandasi gagasan sendiri tau gagasan orang lain. Peserta dapat bertukar pikiran secara konstruktif dan kolektif untuk menganalisis data yang fundamental. Dengan demikian diskusi merupakan wadah keunggulan bersama.
                Berdasarkan uraian di atas, sebagai latihan permulaan dalam berbicara diskusi memiliki banyak keunggulan, antara lain :
a.       Diskusi lebih banyak melatih siswa/mahasiswa berpikir secara logis, karena dalam diskusi ada proses adu argumentasi
b.      Argumentasi yang diekmukakan mendapat penilaian dari anggota lain, sehingga hal ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir dalam memecakan suatu masalah
c.       Umpan balik dapat diterima secara langsung, sehingga hal ini dapat memperbaiki cara berbicara si pembicara, baik yang menyangkut faktor kebahasaan ataupun nonkebahasaan
d.      Peserta yang pasif dapat dirangsang supaya aktif berbicara oleh modertor atau peserta yang lain
e.      Para peserta diskusi turut memberika saham, turut mempertimbangkan gagasan yang berbeda-beda dan turut  merumuskan persetujuan bersam tanpa emosi untuk menang sendiri
3.2          PERSIAPAN DISKUSI KELOMPOK
                Jumlah anggota setiap kelompok jangan terlalu besar, cukup tujuh atau sembilan orang. Dengan demikian kesempatan berbicara bagi setiap individu lebih banyak. Jangan hendakny satu kelompok itu hanya terdiri dai siswa/mahasiswa yang pemalu atau yang belum bisa mengemukakan pendapat, tetapi jangan pula sebaliknya terdiri dari siswa/mahasiswa yang suka berbicara.
3.2.1      Memilih Topik untuk Diskusi
                Setelah kelompok terbentuk barulah dilakukan persiapan-persiapan berikut :
1.       Setiap kelompok menunjuk salah seorang anggotanya menjadi pemimpin diskusi atau moderator dan seorang lagi sebagai notulis.
2.       Menentukan topik yang akan didiskusikan. Dalam hal ini ada dua kemungkinan. Yang pertama, dalam diskusi spontan yang tidak memerlukan persiapan, topil pembicaraan biasanya hal-hal yang sedang hangat dibicarakan dalm masyarakat. Kedua diskusi yang memerluka persiapn. Dalam memilih topik, harus diperhatikan syarat-syarat sebuah topik, syarat-syarat sebuah topik :
a.       Tidak terlalu asing bagi peserta diskusi, rtinya sudah diketahui serba sedikit dan ada kemungkinan untuk memperoleh bahan.
b.      Menarik untuk didiskusikan. Topik yang  menarik apabila :
ü  Merupakan masalah yang menyangkut persoalan bersama
ü  Merupakan jalan keluar dari suatu persoalan yang tengah dihadapi
ü  Mengandung konflik pendapat
ü  Tidak melampaui daya tangkap pendengar, sebaliknya tidak terlalu mudah untuk daya tangkap intelektual pendengar
ü  Masalah yang dibicarakan hendaknya dapat diselesaikan dalam waktu yang disediakan
c.       Topik jangan terlalu luas.
d.      Topik hendaknya bermanfaat untuk didiskusikan sehingga dapat menumbukan minat para peserta.
e.      Kemudian topik yang dipiih disetujui oleh semua anggota diskusi. Dalam hal ini sebaiknya dimusyawarahkan.
3.       Merumuskan tujuan yabg hendak dicapai sesuai dengan topik yang dipilih. Penentuan tujuan ini sangat penting karena akan menentukan bahan yang dibutuhkan dan bagaimana pula kerangkanya.
4.       Langkah selanjutnya adalah pengumpulan bahan. Setiap anggota harus aktif mencari bahan.
5.       Langkah selanjutnya adalah menyusun kerangka. Kerangka merupakan topik yang dipecah menjadi subtopik.
Selain posisi tempat duduk, dalam berdiskusi penerangan juga hendaknya diperhatikan. Begitu pula masalah kebersihan, pengaturan udara, sehingga peserta merasa aman dan nyaman berdiskusi.
3.2.3      Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Berdiskusi
                Suksesnya sebuah diskusi sangat tergantung kepada kemimpinan moderator. Tugas seorang pemimpin diskusi tau moderator ialah :
1.       Menjelaskan tujuan dan maksud diskusi.
2.       Menjamin kelangsungan diskusi secara teratur dan tertib.
3.       Memberikan stimulasi anjuran, ajakan, agar setiap peserta betul-betul mengambil bagian dalam diskusi tersebut.
4.       Menyimpulkan dan merumuskan setiap pembicaraan dan kemudian membuat kesimpulan atas persetujuan dan kesepakatan bersama.
5.       Menyiapkan laporan.
Moderator atau pemimpin diskusi dituntut hal-hal berikut :
1.       Mempunyai perhatian yang penuh terhadap topik diskusi;
2.       Mempunyai pengetahuan yang luas tentang topik diskusi;
3.       Seorang pemimpin diskusi hendaknya berwibawa dan tidak memihak.
4.       Pemimpin diskusi harus dapat memberikan pengarahan dengan tepat dan berpegang teguh kepada metode-metode dan teknik-teknik diskusi.
5.       Seorang pemimpin diskusi harus bersikap demokratis, artinya tidak memihak dan dapat menumbuhkan gairah peserta untuk menyelesaikan diskusi.
6.       Seorang pemimpin diskusi harus mempunyai pandangan yang tajam tentang topik pembicaraan sehingga mengetahui kemana arah pembicaraan.
7.       Harus dapat merangsang diskusi jika terjadi kemacetan.
8.       Pemimpin diskusi yang baik akan menghindari sifat mengkritik dan berusaha membantu anggotanya untuk mengatasi rasa takut dengan memberikan sugesti atau penghargaan, jika perlu menumbuhkan kebanggaan egonya.
9.       Seorang pemimpin diskusi dapat memperingatkan anggotanya jika menyimpang dari pokok persoalan.
10.   Membatasi anggotanya yang terlalu banyak berbicara dan memberikan sugesti kepada anggota yang tidak mau berbicara.
Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut, seorang pemimpin diskusi dituntut :
a.       Berkepribadian
b.      Mempunyai sensitifitas/kepekaan yang tinggi
c.       Bersimpati kepada orang lain
d.      Tidak memihak
e.      Mempunyai rasa humor
f.        Berkemampuan mengambil keputusan dan intelegen
g.       Mempunyai bakat bicara dan mendengarkan
h.      Bersikap ramah, sopan, dan terbuka


 


Anggota hanya sebagai pendengar

















 





                                                Pemimpin bertanya dan anggota menjawab








 





                                                Pemimpin bertanya dan anggota menjawab


 



Untuk dapat menjadi peserta yang baik harus diperhatikan hal-hal berikut :
1.       Menguasai masalah yang didiskusikan.
2.       Mendengarkan setiap pembicaraan dengan penuh perhatian.
3.       Menunjukkan solidaritas dan partisipasi yang tinggi. Sikap emosional dan berprasangka tidak baik harus dihindari.
4.       Dapat menangkap dan mencatat gagasan utama dan gagasan penunjang dari si pembicara.
5.       Dapat membuat beberapa usul dan sugesti, dan meminta pendapat dan informasi sebanyak mungkin.
6.       Mengajukan keberataan terhadap pendapat orang lain dengan mengemukakan argumentasi yang lebih menyakinkan.
7.       Ikut menyimpulkan hasil diskusi.
Untuk dapat menjadi pembicara yang baik, harus pula memperhatikan hal-hal berikut :
1.       Siswa/mahasiswa dibagi dalam kelompok-kelompok dan setiap kelompok melakukan persiapan diskusi.
2.       Kelompok tertentu berdiskusi dalam waktu tertentu (10 atau 15 menit)
3.       Guru menentukan komponen-komponen yang diamati atau yang dikomentari.
4.       Kelompok tertentu berdiskusi selama 10 atau 15 menit dan kelompok yang lain dan guru aktif mengamati komponen-komponen yang telah disepakati.









































 






















































































































































































































 








                                = anggota diskusi
                                = moderator
                                = guru
                = kelompok pengamat

5.       Selesai berdiskusi, para pengamat menyampaikan komentarnya. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan dua cara :
a.       Tiap kelompok mengemukakan komentarnya tentang pembicara yang dimatinya melalui juru bicaranya. Anggota yang ain dapat melengkapinya. Guru berperan membetulkan komentar tiap kelompok ini, karena belum tentu komentar mereka tepat.
b.      Setiap anggota (peserta) diskusi bergabung ke dalam kelompok pengamatnya. Mereka pun asyik berdiskusi tentang cara berbicara pembicara atau diskusi yan diamati.
6.       Peserta diskusi bergabung dengan para pengamatnya. Para pengamat memberika umpan balik tentang cara berbicara temannya. Dalam kelompok ini para siswa pun berlatih mengemukakan pendapat
7.       Kalau semua kelompok telah mendapatkan giliran berdiskusi dengan cara yang sama, maka dilanjutkan dengan kesempatan berdiskusi yang kedua. Supaya siswa/mahasiswa tidak bosan, carilah variasi yang lain dari bentuk diskusi yang pertama.
8.       Hasil pengamatan siswa/mahasiswa yang dibuat dalam tabel penilaian sebaiknya dikumpulkan guru/dosen dan kemudian diperiksa (diniai)


BAB 4
PIDATO DAN CERAMAH
4.1          PIDATO
                Pidato merupakan suatu hal yang sangat penting dan baik pada waktu sekarang maupun pada waktu yang akan datang, karena pidato merupakan penyampaian dan penanaman pikiran, informasi, atau gagasan dari pembicara kepada khalayak ramai. Agar dapat berpidato dengan baik ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, antara lain
1.       Mempunyai tekad dan keyakinan bahwa si pembicara mampu meyakinkan orang lain. Dengan demikian tekad yang bulat akan tumbuh keberanian dan sikap pecaya dii sehingga ia tidak akan ragu-ragu mengucapkan pidatonya;
2.       Memiliki pengetahuan yang luas, sehingga si pembicara dapat menguasai materi dengan baik. Untik ini si pembicara sebaiknya banyak membaca dan mendengarkan pembicaraan yang baik;
3.       Memiliki perbendaharaan yang luas, sehingga si pembicara mampu mengungkapkan pidato dengan lancar dan meyakinkan;
4.       Melakukan latihan yang intensif. Berpidato memerlukan latihan, apalagi dihadapan massa.
4.1.1      Tata Krama Berpidato
                Berhasil atau tidaknya pidato ini juga ditentukan oleh tata krama dalam berpidato. Perhatikanlah tata krama berpidato di bawah ini :
1.       Jika berpidato di hadapan umum, hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a.       Berpakaianlah yang rapi dan bersih, tetapi tidak bergaya pamee dengan memakai perhiasan atau pakaian yang berlebihan.
b.      Gunakanlah kata-kata yang sopan dan jangan memperlihatkan keangkihan, atau kepongahan, tetapi dengan rendah hati.
c.       Jika pidato panjang, agar tidak membosankan pendengar hendaknya diselingi humor, namun humor itu harus sopan.
2.       Jika berpidato di depan wanita atau sebagian besar wanita dan yang berpidato pria, perhatikanlah kata-kata yang digunakan, hendaknya jangan sampai menyinggung perasaan.
3.       Jika berpidato di hadapan orang-orang terkemuka, hendaknya mempersiapkan diri dengan sempurna; dengan demikian keyakinan kita akan tumbuh; selain itu kita tidak perlu merasa renda diri.
4.       Jika berpidat di hadapan sesama golongan, kita harus terbuka dan terus terang dan dapat agak santai, namun jangan melupakan tata krama.
5.       ;jika yang mendengarkan pidato kita itu pelajar atau mahasiswa, kita harus meyakinkan mereka dengan argumentasi-argumentasi yang logis.
6.       Jika berpidato di depan pemeluk suatu agama, kita harus menjaga jangan sampai ada satu ucapan pun yang menyinggung martabat suatu agama.
7.       Jika yang mendengarkan pidato kita itu masyarakat desa, gunakanlah kata-kata atau kaimat yang sederhana, sehingga pidato kita itu mudah dimengerti.

4.1.2      Posisi Berpidato
                Komunikasi akan lebih efektif jika si pembicara dapat dilihat oleh pendengar. Usahakan berdiri pada tempt tertentu, sehingga dapat dilihat oleh seluruh pendengar. Ada juga pidato yang diucapkan di hadapan pendengar yang sama-sama duduk di lantai, misalnya pertemuan-pertemuan di desa. Yang berpidato harus dapat menyesuaikan diri dengan situasi.
4.1.3      Sistematika Berpidato
                Secara gatis besar sistematika berpidato adalah sebagai berikut :
1.       Mengucapkan salam pembuka dan menyapa para hadirin ;
2.       Menyampaikan pendhuluan yang biasanya dilahirkan dalam bentuk ucapan terima kasih, atau ungkapan kegembiraan, atau rasa syukur ;
3.       Menyampaikan isi pidato, yang diucapkan dengan jelas dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan degan gaya bahasa yang menarik ;
4.       Menyampaikan kesimpulan dari isi pidato, supaya mudah diingat oleh pendengar ;
5.       Menyampaikan harapan yang berisi anjuran atau ajakan kepada pendengar untuk melaksanakan isi pidato ;
6.       Menyampaikan salam penutup.
4.1.4      Faktor Penunjang Keefektifan Berpidato
                Agar pidato sukses, di samping dapat menguasai masa, masih diperlukan hal-hal berikut :
1.       Pembicara dituntut seseorang yang bermoral. Jika pembicara tidak bermoral dengan baik dan diketahui oleh pendengar, maka pendengar akan mencemooh. Pe,bicara yang bermoral baik dan jujur akan sangat berkesan bagi pendengar.
2.       Pembicara hendaknya sehat jasmani dan rohani, sehingga penampilannya dapat bersemangat, gagah, dn simpatik.
3.       Sarana yang diperlukan endaknya cukup menunjang, misalnya publikasi; jika pidato disampaika di hadapan massa, pengeras suara yang memadai, waktu da tempat yang sesuai.
4.       Jika berpidato di hadapan masa, harus diperhatikan: volume suara, tingkat pengetahuan massa, keadaan sosial, kebiasaan, adat-istiadat, dan agama, wktu berbicara yang tidak begitu lama, pembicara arus bersabar dan menyesuaikan gayanya dengan  massa.
4.1.5      Persiapan Pidato
                Menurut Dr. Gorys Keraf ada tujuh langkah yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan pidato yang baik, yaitu:
1.       Menentukan topik dan tujuan;
2.       Menganalisis pendengar dan situasi
3.       Memilih dan menyempitkan topik;
4.       Mengumpulkan bahan;
5.       Membuat kerangka uraian;
6.       Menguraikan secara mendetail;
7.       Melatih dengan suara nyaring.
Ketujuh langkah tersebut dapat diringkas menjadi tiga langkah yang tetap, yaitu: meneliti masalah (1, 2, dan 3), menyusun uraian (4, 5, dan 6), dan mengadakan latihan (7).
4.1.5.1   Menentukan Topik dan Tujuan
                Dalam hal penentuan pokok atau topik pembicaraan yang akan disampaikan dalam pidato perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.       Topik yang dipilih hendaknya serba sedikit sudah diketahui, dan ada kemungkinan untuk memperoleh lebih banyak keterangan atau informasi untuk melengkapinya.
2.       Persoalan yang disampaikan hendaknya menarik perhatian bagi para pembicara sendiri.
3.       Persoalan yang dibicarakan hendaknya juga menarik perhatian pendengar. Suatu topik dapat menarik perhatian pendengar, karen:
a.       ;topik itu mengenai persoalan para penddengar sendiri;
b.      Merupakan suatu jalan keluar dari suatu persoalan yang tengah dihadapi;
c.       Merupakan persoalan yang tengah ramai dibicarakan dalam masyarakat, atau persoalan yang jarang terjadi;
d.      Persoalan yang dibawakan merupakan konflik pendapat.
4.       Tingkat kesulitan persoalan yang akan dibahas hendaknya disesuaikan dengan tingkat kemampuan pendengar.
5.       Persoalan yang disampaikan hendaknya dapat diselesaikan dalam waktu yang disediakan.
Selain topik, perlu diperhatikan pula judul pidato. Judul adalah semacam slogan yang menampilkan topik dalam bentuk yang menarik. Judul yang baik hendaknya bersifat relevan, provokatif, dan singkat.
Tujuan Pembicaraan
                Tujuan pembicaraan tergantung dari keadaan dan keinginan pembicara. Tujuan pembicaraan tersebut dapat dibedakan atas tujuan umum dan tujuan khusus.
Tujuan Umum
Tujuan umum beserta reaksi-reaksi umum yang terdapat dalam suatu uraian dapat dibedakan atas:
Tujuan Umum
Reaksi yang diinginkan
Sifat dan Jenis Uraian
1.       Mendorong
Membangkitkan emosi; inspirasi
Persuasif
2.       Meyakinkan
Persesuaian pendapat, intelektual, keyakinan
Persuasif
3.       Bertindak/berbuat
Tindakan atau pebuatan tertentu dari pendengar
Persuasif
4.       Memberitahukan
Pengertian yang tepat mengenai suatu hal
Instruktif
5.       Menyenangkan
Minat dan kegembiraan
Reaktif

Tujuan Khusus
                Tujuan khusus dapat diartikan sebagai suatu tanggapan khusus yang diharapkan dari para pendengar setelah pembicara selesai menyampaikan suatu uraian. Misalnya seorang pembicara akan menyampaikan suatu uraian dengan topik “Cara Belajar yang Efektif”, maka dapatlah dibuat tujuan umum dan tujuan kusus debagai berikut:
Topik                     :               “Cara Belajar Efektif”
Tujuan Umum   :               Mendorong
Tujuan Khusus  :               Untuk menarik sebanyak mungkin agar para pendengar tertarik untuk melaksanakan cara belajar yang efektif.
7.1.5.2   Menganalisis Situasi dan Pendengar
                Menganalisis situasi dan pendengar terlebih dulu jauh sebelum memberikan pidato perlu dilakukan agar pembicaraan dapat mencapai tujuannya.
Menganalisis Situasi
                Dalam menganalisis situasi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.       Maksud pengunjung mendengarkan uraian;
2.       Adat kebiasaan atau tata cara kehidupan pendengar;
3.       Susunan acara;
4.       Tempat pembicaraan berlangsung.
Menganalisis Pendengar
Ada beberapa hal yang dapat dipakai untuk menganalisis pendengar yang akan dihadapi:
a.                  Data-data Umum
Yang perlu diperhatikan dalam data-data umum ini adalah: jumlah pendengar, usia, pekerjaan, pendidikan, dan keanggotaan sosial atau politik.
b.                  Data-data Khusus
Data-data khusu yang perlu mendapat perhatian meliputi:
1.       Pengetahuan pendengar mengenai topik yang dibawakan
2.       Minat dan keinginan pendengar
3.       Sikap pendengar
7.1.5.3   Memilih dan Menyempitkan Topik
                Pemilihan topik hendaknya disesuaikan dengan sifat pertemuan serta data dan informasi tentang situasi pendengar yang akan hadir dalam pertemuan. Persoalan atau topik yang akan disajikan jangan terlalu luas, melainkan harus disempitkan atau dibatasi, disesuaikan dengan waktu yang disediakan.

Contoh
Topik luas                                            : Pengajaran Bahasa Indonesia di SMA
Topik sempit (terbatas)                 : Masalah Pelaksanaan Pengajaran Mengarang di Sma DKI Jaya
4.1.5.4   Mengumpulkan Bahan
                Lebih banyak dan lebih lengkap bahan yang diperleh akan memperlancar pembicara dalam menyusun suatu naskah. Bahan itu dapat diperoleh dari buku, majalah, da surat kabar. Selain itu bahan dapat pula diperoleh dari wawancara dengan orang yang dapat memberi informasi sehubungan dengan persoalan atau topik yang akan dibahas, hasil observasi, penelitian, dan angket.
4.1.5.5   Membuat Kerangka Uraian
                Kerangka uraian yang dibuat itu sebaiknya terperinci dan tersusun baik. Dalam kerangka tersebut persoalan atau topik yang akan dibahas dibag menjadi beberapa bagian atau sub-topik.
4.1.5.6   Menguraikan Secara Detail
                Dalam penyusunan naskah hendaknya dipergunakan kata-kata yang tepat, penggunaan kalimat yang efektif pemakaian istilah-istilah dan gaya bahasa yang dikehendaki sehingga dapat memperjelas uraian.
                Teknik penyusuna askha dibawah ini dapat menjadi pediman:
1.       Dalam pengantar uraian perlu disampaikan suatu orientasi mengenai apa yang akan diuraikan, serta bagaimana usaha untuk menjelaskan tiap bagian itu.
2.       Dalam memasuki materi uraian, pembicara tiap kali harus menekankan bagian-bagian yang penting sebagai sudah dikemukakan pada awal orientasinya.
3.       Padda akhir uraian, pembicara sekali lagi menyampaikan ikhtisar seluruh uraiannya itu, agar para pendengar dapat memperoleh gambaran secara bulat sekali lagi mengenai seluruh persoalan yang baru saja dibicarakan.
4.1.5.7   Melatih dengan Suara Nyaring
                Sebelum menyampaikan suatu uraian di hadapan umum hendaknya pembicara terlebih dahulu melakukan latihan membaca naskah, agar pada waktunya nanti dapat melakukan pidato dengan lancar. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berbicara di hadapan umu, baik berbicara di hadapan suatu kelompok kecil, maupun dalam kelompok besar.
Pembicaraan pada kelompok kecil
1.       Gerak-gerik

2.       Teknik Bicara

3.       Transisi

4.       Alat Peraga

Pembicaraan pada Kelompok Besar
1.       Pembukaan
2.       Kecepatan Berbicara
3.       Artikulasi

4.1.6      Metode Berpidato
                Persiapan yang dilakukan pada waktu menyusun sebuah naskah untuk disampaikan secara lisan dalam bentuk pidato pada umumnya sama dengan persiapan sebuah karangan menulis. Perbedaannya terletak dalam dua hal, yaitu (1) dalam menyampaikan lisan seperti pidato perlu diperhatikan gerak-gerik, sikap, hubungan langsung dengan pendengar, sedangkan dalam karangan tertulis hal itu sama sekali tidak diperhitungkan., (2) dalam penyampaian lisan seperti pidato yidak ada kebebasan bagi pendengar untuk memili mana yang harus didahulukan dan mana yang dapat diabaikan, melainkan pendengar harus memperhatikan seluruh uraian itu, sedangkan dalam karangan tertuis pembaca bebas memilih mana yang dianggapnya paling menarik dan dbacanya terlebih dahulu dan bagian lain dapat dibaca kemudian atau ditunda.
                Ada empat macam metode penyampaian lisan seperti pidato yang perlu diketahui, yaitu:
1.       Metode Impromptu (serta-merta)
Pembicara sebelum berbicara tidak melakukan persiapan sama sekali, melainkan secara serta-merta berbicara berdasarkan pengetahuannya dan kemampuannya. Kesanggupan dan kemampuan penyampaian lisan seperti pidato menurut metode ini sangat berguna dalam keadaan terdesak atau terpaksa, namun kegunaannya terbatas pada waktu yang tidak terduga itu saja
2.       Metode Menghafal
Penyampaian seperti pidato yang disajikan dengan metode ini dipersiapkan dan ditulis secara lengkap lebih dulu, kemudian dihafal kata demi kata. Meodi ini juga sering menyulitkan pembicara untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan reaksi-reaksi pendengar ketika menyampaikan uraiannya.
3.       Metode Naskah
Metode ini sifatnya agak kaku, sebab bila tidak atau kurang melakukan latihan yang cukup, terjadi seolah-olah tidak ada hubungan antara pembicara dengan pendengar. Pembicara harus dapat memberi tekanan dan variasi suara untuk menghidupkan pembicaraannya.
4.       Metode Ekstemporan (tanpa persiapan naskah)
Suatu variasi dari metode ekstemporan ialah pembicara menyiapka sebuah naskah yang lengkap untuk menyampaikan lisan atau pidato, namun dalam pelaksanaan penyampaian lisan atau pidato itu naskah trsebut tidak dibacakan, melainkan hanya berfungsi sebagai catatan. Namun catatan yang sangat banyak atau terinci  akan selalu menggoda pembicara untuk setiap kali ingin melihat catatan-catatan tersebut. Jika terjadi hal demikian, maka ada dua kesan yang dapat disimpulkan, yaitu: (1) pembicara tidak menguasai bahan dan (2) komunikasi langsung dengan para pendengar akan selalu terganggu.



4.2          CERAMAH
                Ceramah adalah suatu cara penyampaian suatu keterangan atau informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan atau masalah secara lisan. Dalam ceramah ada beberapa hal yang merupakan ciri khas, yaitu:
1.       Ada sesuatu yang dijelaskan atau diinformasikan untuk memperluasn pengetahuan para pendengar, biasanya disampaikan ileh seseorang yang memiliki keahlian atau dianggap ahi dalam bidang atau disiplin ilmu tertentu;
2.       Terdapat komunikasi dua arah antara pembicara dan pedengar, yaitu berupa dialog, tanya jawab, diskusi, dan sebagainya;
3.       Dapat digunakan alat bantu untuk memperjelas uraian, seperti Over Head Projector (OHP), lembar peragaan, gambar, dan sebagainya.

BAB 5
SEMINAR: SALAH SATU RAGAM BERBICARA ILMIAH
5.1          PENGERTIAN SEMINAR
                Seminar adalah suatu pertemuan yang bersifat ilmiah yang membahas suatu masaah tertentu dengan prasaran serta tnggapan melalui suatu diskusi untuk mendapatkan sutu keputusan bersama mengenai masalah tersebut. Tujuan utamanya adalah untuk mencari jalan pemecahan dari suatu masalah. Oleh sebab itu, seminar harus diakhiri dengan kesimpulan atau keputusan-keputusan, baik berupa usul, saran, solusi, maupun rekomendasi.
                Di Perguruan tinggi, khususnya Perguruan Tinggi Negeri dikenal suatu bentuk seminar yang disebut seminar akademik mahasiswa. Seminar akademik mahasiswa aalah pertemuan para mahasiswa untuk mengkomunikasikan dan mendiskusikan hal penelitian institusional atau hasil studi mereka dan mediskusikan masalah-masalah yang hendak diteliti pada penelitian berikutnya.
                Seminar akademik mahasiswa itu secara garis besar memiliki tujuan sebagai berikut:
1.       Saling memberikan andil pertemun yang diperoleh dari penelitian institusiona, dan mengkaitkan dengan pembinaan dan pengembangan institusi.
2.       Melalui pertukaran pengalaman, mengidentifikasi masalah-masalah kelembagaan yang dijumpai dalam penelitian institusi dan mengkajinya dalam kaitannya dengan penelitian dan pengembangan institusi berikutnya.
3.       Mengembangkan rencana dan metodologi penelitian institusional baru, khusunya yang sesuai dengan lingkungan dan kondisi masing-masing institusi.
4.       Mempertimbangkan cara-cara dan sarana-sarana dengan mana pertemuan penelitian istitusional dapat dijadikan masukan dalam usaha pembinaan dan pengembangan institusi
Format Laporan Seminar
         i.            Judul Seminar
       ii.            Tema Seminar
      iii.            Tujuan Seminar
     iv.            Topik atau pokok-pokok permasalahan yang dibahas
       v.            Waktu penyelenggaraan
     vi.            Penyelenggaraan:
(Perguruan Tinggi/Unit Organisasi, Susunan Panitia Pengarah, dan Panitia Penyelenggara)
    vii.            Jumlah Peserta dan Asal Lembaga:
(Daftar Peserta Terlampir)
  viii.            Jadwal Acara:
(Terlampir)
     ix.            Sumber Biaya
(Jumlah biaya keseluruhan dan sumber biaya)
       x.            Hasil-hasil/Kesimpulan dan Rekomendasi
(Terlampir semua makalah dan sambutan penting jika ada)
5.2          PERSIAPAN SEMINAR
                Sebagai pedoman dapat diikuti mekanisme berikut:
1.       Penentuan Topik dan Tujuan
Dalam penentuan topik atau tema tersebut perlu diperhatikan hal-hal sebagai beikut:
a.       Topik hendaknya menari perhatian peserta;
b.      Topik dapat merangsang masyarakat untuk ingin mengetahui sesuatu.
2.       Penentuan Waktu dan Tempat
Waktu seminar sebaiknya dikaitkan dengan perostswa-peristiwa sejarah atau nasioal. Jika seminar itu lebih kecil, penentuan waktu perlu diperhatikan, sehinggan dapat dihadiri oleh para peserta. Mengenai penentuan tempat hendaknya perlu diperhatikan masalah transportasi, kapasitas, dan biaya.
3.       Persiapan Fasilitas
Segala kebutuhan atau fasilitas bagi kelancaran seminar hendaknya dipersiapkan sebaik-baiknya, seperti:
a.       Tempat duduk yang memadai;
b.      Cahaya yang cukup terang dan sirkulasi udara yang menyegarkan alam ruangan;
c.       Alat-alat peraga (visual, audio visual) yang diperlukan;
d.      Ublikasi
Penyelenggaraan seminar tersebut perlu diinformasikan kepada masyarakat atau peserta, terutama mengeai:
a.       Tujuan seminar diselenggarakan;
b.      Tema atau topik masalah yang akan diseminarkan;
c.       Persyaratan para peserta;
d.      Pendaftaran peserta, dan
e.      Peserta yang bersedia menjadi pemrasaran.


5.3          PELAKSANAAN SEMINAR
                Di bawah ini akan diuraikan peranan para fungsionaris:
1.       Perana Pemimpin Seminar (Diskusi)
Gaya kepeminpinan yang mungki akan timbul:
a.       Otoriter
Pemimpin seminar mendominasi seluruh proses diskusi.
b.      Jliberal
Pemimpin seminar membiarkan para peserta mengeluarkan pendapatnya sebebas-bebasnya.
c.       Demokratis
Pemimpin seminar memberikan kesempatan sebanyak mugkin kepada para peserta untuk mengemukakan pendapat-pendapatnya dalam batas-batas tertentu.
d.      Manipulasi diplomasi
Pemimpi diskusi memaksakan secara halu pendapat-pendapatnya untuk disetujui oleh para peserta.
                Dalam memipin seminar, pemimpin seminar mempunyai tugas sebagai berikut:
a.       Menjeaskan tujuan dan maksud semibar (diskusi);
b.      Menjamin kelansungan seminar secara teratur dan tertib;
c.       Memberikan stimula, anjuran, ajakan, agar setiap peserta betul-betul berperanserta dalam diskusi tersebut;
d.      Menyimpulkan dan merumuskan setiap pembicaraan dan kemudian membuat kesimpulan atas persetujuan dan kesepakatan bersama;
e.      Menyiapkan laporan
Pemimpin seminar seminar yang baik adalah yang memiliki kriteria sebagai berikut:
a.       Mampu berpikir jelas dan cepat
b.      Bersikap tidak kaku (luwes)
c.       Mempunyai kesanggupan menganalisis
d.      Berpandangan onjektif
e.      Tidak boleh berprasangka
f.        Bersikap sabar
g.       Cerdik dalam menangani masalag yang timbul pada peserta
h.      Mempunyai keseimbangan dan pengendalian diri
i.         Mempunyai rasa humor
2.       Peranan Seketaris
Seketaris seminar mempunyai tugas:
a.       Mencatat hasil-hasil seminar yang dicpai;
b.      Mencatat proses atau prosedur seminar yang berlangsung;
c.       Membantu pemimpin seminar menyimpulkan dan merumuska hasil seminar.
3.       Peranan Peserta
Untuk dapat menjai peserta yang baik hendaknya diperhatikan hal-hal berikut:
a.       Menguasai masalah yang diseminarkan
b.      Mendengarkan pembicaraan dengan penuh perhatian
c.       Menunjukkan rasa solidaritas dan partisipasi
d.      Sapat menangkap gagasan utama dan memahami gagasan penunjang pembicaraan seseorang.
e.      Dapat membuat usul dan sugesti.
f.        Dapat meminta pendapat dan informasi sebanyak mungkin.
g.       Dapat mengajukan pertnyataan dan dapat meminta dasar pendirian seseorang.
h.      Jika mengajukan keberatan dapat mengajukan contoh dan argumentasi.
i.         Ikut menyimpulkan hasil seminar.

BAB 6
PENILAIAN KEMAMPUAN BERBICARA
6.1          FAKTOR-FAKTOR YANG DINILAI
                Faktor-faktor yang dinilai dalam keefektifan berbicara:
1.       Faktor kebahasaan, yang mencakup:
a.       Pengucapan vokal
b.      Pengucapan konsonan
c.       Penempatan tekanan
d.      Penempatan persendian
e.      Penggunaan nada/irama
f.        Piliham kata
g.       Pilihan ungkapan
h.      Variasi kata
i.         Tata bentukan
j.        Struktur kalimat
k.       Ragam kalimat
2.       Faktor nonkebahasaan mencakup:
a.       Keberanian dan semangat
b.      Kelancaran
c.       Pandangan mata
d.      Gerak-gerik dan mimik
e.      Keterbukaan
f.        Penalaran
g.       Penguasaan topik






FAKTOR NONKEBAHASAAN
Penguasaan topik

Penalaran

Keterbukaan

Gerak-gerik

Pandangan

Kenyaringan suara

Kelancaran

Keberanian/semangat

FAKTOR KEBAHASAAN
Ragam kalimat

Struktur kalimat

Tata bentuk

Variasi kata

pilihan
Ungka-pan

Kata

Nada/iraama

Penempatan
Persendian

Tekanan

Pengucapan
Konsonan

Vokal

Nama

No.

6.2          CARA PENILAIAN
1.       Pengisian kolom-kolom pada tabel penilaian tidak perlu dilakukan sekaligus, tetapi bertahap. Dengan latihan yang berulang-ulang akhirnya semua komponen dalam tabel akan terisi.
2.       Mulailah dengan faktor yang lebih mudah. Misalnya faktor keberanian. Kalau faktor keberanian sudah dimiliki, kita agak mudah melatih faktor-faktor yang lain.
3.       Sewaktu seseorang atau sekelompok siswa/mahasiswa berbicara, yang lain diberi tugas sebagai pengamat.
4.       Setelah siswa/mahasoswa selesai berbicara, siswa/mahasiswa yang bertugas sebagai pengamat mengemukakan komentarnya. Tentu saja guru sangat berperan karena komentar dari siswa/mahasiswa belum tentu tepat. Dalam hal ini yang harus diperhatikan guru/dosen adalah:
a.       Kalau siswa berbicara sebagai individual, yang lain berperan sebagai pengamat.
b.      Kalau siswa/mahasiswa berbicara dalam kelompok, siswa/mahasiswa yang lain dapat melakukan pengamatan secara individual. Caranya:
-          Sekelompok siswa/mahasiswa berdiskusi
-          Siswa/mahasiswa yang lain juga dibagi dalam kelompok-kelompok sebanyak siswa yang berdiskusi. Tiap kelompok mengamati seorang pembicara, sehingga seorang pembicara mendapat umpan balik dari beberapa orang.
-          Selesai berbicara pengamat mengemukakan komentarnya.







































 














































































































































 









                                Keterangan gambar:
                                = pembicara
                                = pengamat
                                = pengajar
c.       Tiap kelompok pengamat menunjuka salah seorang anggotanya untuk mengmukakan komentarnya. Anggota ain dapat melengkapi kekurangannya. Guru berperan menilai ketepatan komentar setiap kelompok.
d.      Selesai berbicara, setiap pembicara bergabung dengan kelompok pengamatnya. Mereka berdiskusi tentang cara berbicara pembicara. Pengamat memberikan informasi bergantian dan pembicara mendengarkan dengan baik. Perhatika gambar di bawah ini






























































































































 







                Keterangan gambar:
                                = pembicara
                                = pengamat
                                = pengajar
                Secara garis besarnya pelaksanaan penilaian ini dapat digambarkan seperti berikut:
1.       Guru/dosen memberi tugas kepada siswa/mahasiswa untuk melakukan kegiatan berbicara, dalam waktu tertentu.
2.       Guru/dosen menentukan faktor-faktor yang dinilai atau diamati.
3.       Siswa/mahasiswa yang tidak mendapat giliran berbicara, diberikan tugas mengamati berdasarkan pedoman penilaian, baik secara individual maupun kelompok.
4.       Guru/dosen dan siswa/mahasiswa aktif mengamati dan mengisi tabel penilaian dengan komentar.
5.       Selesai kegiatan berbicara, para pengamat mengemukakan komentarnya. Dalam hal ini guru/dosen memperhatikan komentar siswa/mahasiswa dan membetulkam komentar yang kurang tepat.
6.       Setelah itu kegiatan berbicara diulang kembali untuk melihat perubahan berbicara pembicara setelah mendapat umpan balik.










2 komentar: