BAB 1
FAKTOR-FAKTOR PENUNJANG KEEFEKTIFAN BERBICARA
Kemampuan
berbicara adalah kemmpuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan
kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan
perasaan. Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat
menyampaikan informasi dengan efektif, sebaiknya pembicara betul-betul memahami
isi pembicaraannya, di samping juga harus dapat mengevaluasi efek komuniksinya
terhadap pendengar.
1.1 FAKTOR-FAKTOR
KEBAHASAAN SEBAGAI PENUNJANG KEEFEKTIFAN BERBICARA
1. Ketepatan Ucapan
Seorang
pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat.
Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat, dapat mengalihkan perhatian
pendengar. Misalnya, pengucapan e yang
kurang tepat, bebas diucapkan bebas, sebaliknya derap diucapkan derap.
Tidak jarang kita dengar orang mengucapkan kata-kata yang tidak jelas suku
katanya. Misalnya, pemrintah atau pemerintah. Sebaliknya ada pula
pembicara menambahkan bunyi-bunyi tertentu di belakang suku kata atau di
belakang kata.
Bunyi-bunyi
konsonan dan vokal bahasa Indonesia yang masih murni kemudian diberi tambahan
bunyi tertentu sehingga kedengarannya seperti bunyi vokal atau konsonan suatu
bahasa barat. Misalnya kata dapat diucapkan
dapateh.. pengucapan bunyi-bunyi
bahasa dianggap cacat kalau menyimpang terlalu jauh dari ragam lisan biasa,
sehingga terlalu menarik perhatian, mengganggu komunikasi, atau pemakainya
dianggap aneh.
2. Penempatan Tekanan, Nada, Sendi, dan Durasi yang Sesuai
Kesesuaian
tekanan, nada, sendi dan durasi akan merupakan daya tarik tersendiri dalam
berbicara. Tekanan suara biasanya jatuh pada suku kata terakhir atau kedua dari
belakang, kemudian kita tempatkan pada suku kata pertama.
3. Pilihan Kata (Diksi)
Pilhan
kata hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti
oleh pendengar yang menjadi sasaran. Kata-kata populer tentu akan lebih efektif
daripada kata-kata yang muluk-muluk, dan kata-kata yang berasal dari bahasa
asing. Hendaknya dipilih kata-kata yang konkrit sehingga mudah dipahami
pendengar. Kata-kata konkret yang menunjukkan aktivitas akan lebih mudah
dipahami pembicara. Namun, pilihan kata itu tentu harus kita sesuaikan dengan
pokok pembicaraan dan dengan siapa kita berbicara (pendengar). Pendengar akan
lebih tertarik dan senang mendengarkan kalau pembicara berbicar dengan jelas
dalam bahasa yang dikuasainya.
4. Ketepatan Sasaran Pembicaraan
Hal
ini menyangkut pemakaian kalimat. Pembicara yang menggunakan kalimat efektif
akan memudahkan pendengar menangkap pembicaraannya. Kalimat efektif mempunyai
ciri-ciri keutuhan, perpautan, pemusatan perhatian, dan kehematan. Ciri
keutuhan akan terlihat jika setiap kata betul-betul merupakan bagian yang padu
dari sebuah kalimat. Pemusatan perhatian pada bagian yang terpenting dalam
kalimat dapat dicapai dengan menempatkan bagian tersebut pada awal atau akhir
kalimat, sehingga bagian ini mendapat tekanan waktu berbicara. Selain itu,
kalimat efektif juga harus hemat dalam pemakaian kata, sehingga tidak ada
kata-kata yang tidak berfungsi.
1.2 FAKTOR-FAKTOR
NONKEBAHASAAN SEBAGAI PENUNJANG KEEFEKTIFAN BERBICARA
Yang
termasuk faktor nokebahasaan ialah:
1. Sikap
yang wajar, tenang, dan tidak kaku.
2. Pandangan
harus diarahkan kepada lawan bicara.
3. Kesediaan
menghargai pendapat orang lain.
4. Gerak-gerik
dan mimik yang tepat.
5. Kenyaringan
juga sangat ditentukan.
6. Kelancaran.
7. Relevansi/penalaran.
8. Penguasaan
topik.
BAB 2
BERBICARA DALAM SITUASI FORMAL
2.1 HUBUNGAN KEMAMPUAN
BERBICARA DENGAN KEMAMPUAN BERBAHASA YANG LAIN
2.1.1 Berbicara: Komunikasi Dua Arah
Berbicara dan
mendengarkan merupakan kegiatan komunikasi dua arah. Keefektifan berbicara
tidak hanya ditentukan oleh si pembicara, tetapi juga oleh para pendengar.
Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan
persendian.
Keefektifan
berbicara juga ditunjang oleh sikap pendengar. Dalam mendengarkan kadang-kadang
timbul fakto pengganggu, misalnya sikap, gaya pembicara, ciri-ciri jasmani yang
kurang menarik, gerakan-gerakan yang mengganggu, dan sebagainya.
Selain itu,
sikap terbuka terutama sikap menerima dengan senang gagasan atau penalaran yang
lebih baik dai pembicara sehingga memungkinkan pendengar memperbaiki,
mempersegar, atau mengganti gagasannya, perlu pula dipupuk. Seseorang pembicara
harus mampu memilih dan menyajikan pokok persoalan sedemikian rupa, sehingga
bukan hanya pembicara yang tertarik, tetapi juga pendengar. Janganlah memilih
pokok pembicaraan yang sangat pribadi sifatnya.
Kita dapat
melihat faktor-faktor yang menentukan keefektifan berbicara, yaitu pembicara,
pendengar, dan pokok pembicaraan yang dipilih. Selain itu, faktor bahasa tentu
juga sangat menentukan.
2.1.2 Hubungan Kemampuan Berbicara dengan Kemampuan Menulis
Seorang
pembicara yang baik, umumnya memerlukan persiapan tertulis. Sering seorang yang
akan berbicara secara resmi, baik itu bentuk pidato, diskusi, atau seminar,
memerlukan persiapan tertulis.
Sebaliknya
pendengar yang baik juga merasa perlu membuat catatan-catatan tertentu,
terutama kalau ia ingin mengemukakan tanggapan terhadap pokok pembicaraan dan
gagasan-gagasan utama dari si pembicara tersebut.
2.2 PERSIAPAN PEMBICARAAN FORMAL
Untuk
dapat menjadi pemicara yang baik, seorang pembicra harus mempersiapkan diri
sebaik mungkin. Persiapan ini menyangkut
persiapan pokok pembicaraan yang akan dipilih dlm hal-hal yang berhubungan
dengan kelengkapan bahan pembicaraan tersebut.
2.2.1 Memilih Topik Pemicaraan
Dalam
memili topik terutama dalam pembicaraan ilmiah, ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangakn :
1.
Topik yang dipilh hendaknya menarik untuk
dibicarakan. Topik ini akan lebih menarik bila:
a.
Merupakan masalah yang menyangkut persoalan
bersama
b.
Merupakan jalan keluar dari suatu persoalan yang
tengah dihadapi
c.
Mengandung konflik pendapat
d.
Tidak melampaui daya tangkap pendengar,
sebaliknya tidak terlalu mudah untuk daya tangkap intelektual pendengar
e.
Masalah yang dibicarakan hendaknya dapat
diselesaikan dalam waktu yang disediakan
2.
Topik jangan terlalu luas an jangan pula terlalu
sempit. Topik yang terbatas akan memudahkan kita mencari informasi, sehingga
masalah dapat betul-betul dikuasai dan hal ini akan menumbuhkan kepercayaan
pada diri pembicara.
3.
Topik yang dibahas hendaknya ada manfaatnya bagi
pendengar, baik untuk menambah ilmu pengetahuan atau yang berkaitan dengan
profesi.
4.
Topik yang dipilih hendaknya sudah diketahui
serba sedikit serta ada kemungkinan mendapatkan bahan.
5.
Janganlah mengambil topik yang sama sekali tidak
diketahui. Bicarakanlah topik yng diketahui dengan baik, sehingga merangsang pendengar.
2.2.2 Menentukan Tujuan, Bahan, dan Kerangka
1. Menentukan Tujuan
Perumusan
tujuan ini akan memberikan gambaran atau perencanaan menyeluruh yang akan
mengarahkan pembicara dalam menentukan atau memilih materi yang sesuai. Tujuan
ini dapat dinyatakan dalam dua cara. Jika pembicara ingin mengembangkan gagasam
yang merupakan tema dari seluruh pembicaraan, tujuan ini dinyatakan dalam
bentuk tesis. Agar efektif, suatu
tesis hendaknya terbatas, utuh, dan tepat. Jika kita tidak bermaksud
mengembangkan gagasan secara dominan, tujuan itu dapat dinyatakan dalam bentuk pernyataan maksud.
2. Pengumpulan Bahan
Yang
dimaksud dengan bahan ialah semua informasi atau data yang diperlukan untuk
mencapai tujuan. Sebagian besar dari bahan penulisan ini dapat diperoleh dari
dua sumber utama yaitu inferensi dan pengalaman. Inferensi ialah kesimpulan atau nilai-nilai yang diperoleh dari
pengalaman. Sedangkan pengalaman ialah
semua pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi
indrawi.
3. Kartu Informasi
Kartu
informasi ini sebaiknya dibuat dari kertas yang agak tebal. Ukurannya
tergantung pada pertimbangan kita, biasanya 10x 15, atau 8x 12 cm. Dalam kartu
ini dicantumkan informasi dan sumber informasi. Kalau sumbernya buku, cantumkan
pengarang, judul buku, data penerbit, halaman, kutipan , atau catatan.
4. Menyusun Kerangka
Menyusun
kerangka berarti memecahkan topik ke dalam subtopik dan mungkin selanjutnya ke
dalam subtopik yang lebih kecil. Kerangka ini menjadi pedoman bagi kita dalam
berbicara, sehingga kita dapat berbicara secara sistematis.
2.3 RAMBU-RAMBU DALAM BERBICARA
1. Menguasai
masalah yang dibicarakan
2. Mulai
berbicara kalau situasi sudah mengizinkan
3. Pengarahan
yang tepat akan dapat memancing perhatian pendengar
4. Berbicara
harus jelas dan tidak terlalu cepat
5. Pandangan
mata dan gerak-gerik yang membantu
6. Pembicara
sopan, hormat, dan meliatkan rasa persaudaraan
7. Dalam
komunikasi dua arah, mulailah berbicara jika sudah dipersilahkan
8. Kenyaringan
suara
9. Pendengar
akan lebih terkesan kalau ia dapat menyaksikan pembicara sepenuhnya
2.4 MASALAH LAFAL STANDAR
Lafal
yang dianggap pantas dicontoh, dapat diberikan dan dinyatakan dengan resmi
sebagai lafal standar bahasa Indonesia. Beberapa pendapat pernah dikemukakan
tentang lafal standar ini. Soenarjati Djajanegara mengemukakan empat pilian,
yaitu:
a.
Memilih salah satu lafal bahasa daerah
berdasarkan pertimbangan historis, politik, dan sosial
b.
Mengambl lafal Melayu sebagai asal bahasa
Indonesia, sebagai dasar
c.
Memilih lafal pejabat tinggi pemerintah dan kaum
cendikiawan sebagai teladan
d.
Memilih lafal resmi yang paling sedikit pengaruh
lafal daerahnya
Lukman Hakim
juga mengemukakan pilihan-pilihannya, yaitu:
a.
Mencontoh penutur yang mempunyai kesadaran
berbahasa yang tinggi
b.
Enutur bahasa Indonesia yang bahasa ibunya bukan
bahasa daerah, bukan pula dialek bahasa daerah
c.
Penutur yang berasal dari bahasa daerah tetapi
pengaruh bahasa daerah itu tidak tampak lagi
d.
Penyiar TVRI
Banyak manfaat
yang diperoleh dengan menguasai lafal standar ini, antara lain:
a.
Komunikasi akan lebih efektif, karena gangguan
yang mungkin timbul karena lafal yng berbeda-beda dapat dihindari.
b.
Pendengar tidk bersikap positif terhadap
pembicara yang menggunakan lafal standar, terutama dalam komunikasi yang tidak
bertatap muka.
c.
Dapat memperkokoh persatuan karena dengan adanya
lafal standar dapat memperkecil perbedaan.
d.
Dapat menumbuhkan kesadaran berbahasa atau
kebanggaan berbahasa karena kemampuan menghasilkan yang baik dan benar.
BAB 3
DISKUSI KELOMPOK : SALAH SATU RAGAM KEGIATAN BERBICARA
3.1 MANFAAT, MACAM-MACAM,
DAN KEUNGGULAN DISKUSI KELOMPOK
3.1.1 Manfaat dan Macam-Macam Diskusi
Diskusi
pada dasarnya suatu bentuk tukar pikiran yang teratur dan terarah, baik dalam
kelompok kecil atau besar, dengan tujuan untuk mendapatkan suatu pengertian,
kesepakatan, dan keputusan bersama mengenai suatu masalah. D engan demikian
bertukar pikiran baru dapat dikatakan berdiskusi apabila :
a. Ada
masalah yang dibicarakan
b. Ada
seseorang yang bertindak sebagai pemimpin diskusi
c. Ada
peserta sebagai anggota diskusi
d. Setiap
anggota mengemukakan pendapatnya dengan teratur
e. Kalau
ada kesimpulan atau keputusan hal itu disetujui semua anggota
1. Diskusi Panel
Diskusi
panel pada prinsipnya melibatkan beberapa penelis yang mempunyai keahlian dalam
bidang masing-masing dan berkesepakatan mengutarakan pendapat dan pandangannya
mengenai suatu masalah untuk kepentingan pendengar. Panel dipimpin oleh seorang
moderator. Berhasil atau tidaknya panel sangat tergantung kepaa kelincahan
moderator.
2. Simposium
Simposium
hampir sama dengan panel, hanya lebih bersifat formal. Pemrasaran harus
menyampaikan makalah mengenai suatu masalah yng disorot dari sudut keahlian
masing-masing. Para peserta/pendengarlah yang lebih aktif berpartisipasi. Dalam
simposium tidak diambil suatu keputusan, tetapi hanya untuk mendapat perbandingan
tentang suatu masalah.
3. Seminar
Seminar
merupakan suatu pertemuan untuk membahas suatu masalah tertentu dengan prasaran
dan tanggapan melalui suatu diskusi untuk mendapatkan suatu keputusan bersama
mengenai masalah tersebut. Seminar harus diakhiri dengan kesimpulan atau
keputusan-keputusan baik berbentuk usul, saran, resolusi, atau rekomendasi.
Secara
garis besarnya, seminar dilaksanakan sebagai berikut :
a. Dimualai
dengan mendengarkan pandangan umum tentang suatu masalah
b. Peserta
dibagi menjadi beberapa kelompok
c. Kelompok-kelompok
bersidang kembali untuk mensahakan kesimpulan komisi (sidang pleno)
d. Hasil
dirumuskan dalam bentuk usul, saran, resolusi, dan sebagainya yang dianggap
perlu
4. Lokakarya
Biasanya
lokakarya ini diikuti oleh sekelompok orang yang bergerak dalam lingkungan kera
yang sejenis atau seprofesi. Lokakarya biasanya diadkan bila :
a. Ingin
mengevaluasi suatu proyek yang sudah dilaksnakan
b. Ingin
mengadakan pembaharuan sesuai dengan kebutuhan dsn tuntutan masyarakat
c. Untuk
bertukar pengalaman dengan tujuan lebih meningkatkan kemampuan kerja
5. Brainstroming
Brainstroming
adalah aktivitas dari sekelompok orang yang memptoduksi/menciptakan gagasan
yang baru sebanyak-banyaknya. Brainstroming ini dipakai apabila :
a. Ingin
menentukan informasi macam apa yang diperlukan dan bagaimana mendapatkan
informasi tersebut
b. Ingin
menentukan kriteria yang tept untuk menguji tepat tidaknya sebuah gagasan
c. Ingin
menentukan gagasan yang mana yang mungkin dilakukan
d. Ingin
mengetahui bagaimana keputusan setepat-tepatnya.
Dalam hal ini
dibutuhkan keterampilan moderator. Karena brainstroming mengundang pemecahan
masala dengan banyak kemungkinan, dalam bentuk ini diperlukan pula seorang
notulis untuk merekam jalannya diskusi dan mencatat gagasan-gagasan yang
timbul.
3.1.2 Keunggulan Diskusi Kelompok
Selain
untuk mencapai efektifitas berbicara, diskusi kelompok juga dpat menghilangkan
kejenuhan yang diakibatkan oleh suasana yang terus-menerus sama dalam ata
pelajaran lain, sehingga bentuk ini dapat menumbuhkan motivasi, seperti sudah
dijelaskan sebelumya.
Diskusi
kelompok dapat pula memancing kreatifitas beripiki siswa/mahasiswa. Dengan
diskusi kelompok dapat pula diciptakan iklim yang memudahkan penerimaan bahan
pelajaran serta dapat meningkatkan taraf berpikir siswa/mahasiswa.
Peserta
diskusi dapat menguji rgumentasi yang melandasi gagasan sendiri tau gagasan
orang lain. Peserta dapat bertukar pikiran secara konstruktif dan kolektif
untuk menganalisis data yang fundamental. Dengan demikian diskusi merupakan
wadah keunggulan bersama.
Berdasarkan
uraian di atas, sebagai latihan permulaan dalam berbicara diskusi memiliki
banyak keunggulan, antara lain :
a. Diskusi
lebih banyak melatih siswa/mahasiswa berpikir secara logis, karena dalam
diskusi ada proses adu argumentasi
b. Argumentasi
yang diekmukakan mendapat penilaian dari anggota lain, sehingga hal ini dapat
meningkatkan kemampuan berpikir dalam memecakan suatu masalah
c. Umpan
balik dapat diterima secara langsung, sehingga hal ini dapat memperbaiki cara
berbicara si pembicara, baik yang menyangkut faktor kebahasaan ataupun
nonkebahasaan
d. Peserta
yang pasif dapat dirangsang supaya aktif berbicara oleh modertor atau peserta
yang lain
e. Para
peserta diskusi turut memberika saham, turut mempertimbangkan gagasan yang
berbeda-beda dan turut merumuskan
persetujuan bersam tanpa emosi untuk menang sendiri
3.2 PERSIAPAN DISKUSI
KELOMPOK
Jumlah
anggota setiap kelompok jangan terlalu besar, cukup tujuh atau sembilan orang.
Dengan demikian kesempatan berbicara bagi setiap individu lebih banyak. Jangan
hendakny satu kelompok itu hanya terdiri dai siswa/mahasiswa yang pemalu atau
yang belum bisa mengemukakan pendapat, tetapi jangan pula sebaliknya terdiri
dari siswa/mahasiswa yang suka berbicara.
3.2.1 Memilih Topik untuk Diskusi
Setelah
kelompok terbentuk barulah dilakukan persiapan-persiapan berikut :
1. Setiap
kelompok menunjuk salah seorang anggotanya menjadi pemimpin diskusi atau
moderator dan seorang lagi sebagai notulis.
2. Menentukan
topik yang akan didiskusikan. Dalam hal ini ada dua kemungkinan. Yang pertama,
dalam diskusi spontan yang tidak memerlukan persiapan, topil pembicaraan
biasanya hal-hal yang sedang hangat dibicarakan dalm masyarakat. Kedua diskusi
yang memerluka persiapn. Dalam memilih topik, harus diperhatikan syarat-syarat
sebuah topik, syarat-syarat sebuah topik :
a.
Tidak terlalu asing bagi peserta diskusi, rtinya
sudah diketahui serba sedikit dan ada kemungkinan untuk memperoleh bahan.
b.
Menarik untuk didiskusikan. Topik yang menarik apabila :
ü
Merupakan masalah yang menyangkut persoalan
bersama
ü
Merupakan jalan keluar dari suatu persoalan yang
tengah dihadapi
ü
Mengandung konflik pendapat
ü
Tidak melampaui daya tangkap pendengar,
sebaliknya tidak terlalu mudah untuk daya tangkap intelektual pendengar
ü
Masalah yang dibicarakan hendaknya dapat
diselesaikan dalam waktu yang disediakan
c.
Topik jangan terlalu luas.
d.
Topik hendaknya bermanfaat untuk didiskusikan
sehingga dapat menumbukan minat para peserta.
e.
Kemudian topik yang dipiih disetujui oleh semua
anggota diskusi. Dalam hal ini sebaiknya dimusyawarahkan.
3. Merumuskan
tujuan yabg hendak dicapai sesuai dengan topik yang dipilih. Penentuan tujuan
ini sangat penting karena akan menentukan bahan yang dibutuhkan dan bagaimana
pula kerangkanya.
4. Langkah
selanjutnya adalah pengumpulan bahan. Setiap anggota harus aktif mencari bahan.
5. Langkah
selanjutnya adalah menyusun kerangka. Kerangka merupakan topik yang dipecah
menjadi subtopik.
Selain posisi tempat duduk, dalam
berdiskusi penerangan juga hendaknya diperhatikan. Begitu pula masalah kebersihan,
pengaturan udara, sehingga peserta merasa aman dan nyaman berdiskusi.
3.2.3 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Berdiskusi
Suksesnya
sebuah diskusi sangat tergantung kepada kemimpinan moderator. Tugas seorang
pemimpin diskusi tau moderator ialah :
1. Menjelaskan
tujuan dan maksud diskusi.
2. Menjamin
kelangsungan diskusi secara teratur dan tertib.
3. Memberikan
stimulasi anjuran, ajakan, agar setiap peserta betul-betul mengambil bagian
dalam diskusi tersebut.
4. Menyimpulkan
dan merumuskan setiap pembicaraan dan kemudian membuat kesimpulan atas
persetujuan dan kesepakatan bersama.
5. Menyiapkan
laporan.
Moderator atau
pemimpin diskusi dituntut hal-hal berikut :
1. Mempunyai
perhatian yang penuh terhadap topik diskusi;
2. Mempunyai
pengetahuan yang luas tentang topik diskusi;
3. Seorang
pemimpin diskusi hendaknya berwibawa dan tidak memihak.
4. Pemimpin
diskusi harus dapat memberikan pengarahan dengan tepat dan berpegang teguh
kepada metode-metode dan teknik-teknik diskusi.
5. Seorang
pemimpin diskusi harus bersikap demokratis, artinya tidak memihak dan dapat
menumbuhkan gairah peserta untuk menyelesaikan diskusi.
6. Seorang
pemimpin diskusi harus mempunyai pandangan yang tajam tentang topik pembicaraan
sehingga mengetahui kemana arah pembicaraan.
7. Harus
dapat merangsang diskusi jika terjadi kemacetan.
8. Pemimpin
diskusi yang baik akan menghindari sifat mengkritik dan berusaha membantu
anggotanya untuk mengatasi rasa takut dengan memberikan sugesti atau
penghargaan, jika perlu menumbuhkan kebanggaan egonya.
9. Seorang
pemimpin diskusi dapat memperingatkan anggotanya jika menyimpang dari pokok
persoalan.
10. Membatasi
anggotanya yang terlalu banyak berbicara dan memberikan sugesti kepada anggota
yang tidak mau berbicara.
Untuk dapat
melaksanakan tugas tersebut, seorang pemimpin diskusi dituntut :
a. Berkepribadian
b. Mempunyai
sensitifitas/kepekaan yang tinggi
c. Bersimpati
kepada orang lain
d. Tidak
memihak
e. Mempunyai
rasa humor
f.
Berkemampuan mengambil keputusan dan intelegen
g. Mempunyai
bakat bicara dan mendengarkan
h. Bersikap
ramah, sopan, dan terbuka
![]() |
![]() |
|||||||
![]() |
|||

Untuk dapat
menjadi peserta yang baik harus diperhatikan hal-hal berikut :
1. Menguasai
masalah yang didiskusikan.
2. Mendengarkan
setiap pembicaraan dengan penuh perhatian.
3. Menunjukkan
solidaritas dan partisipasi yang tinggi. Sikap emosional dan berprasangka tidak
baik harus dihindari.
4. Dapat
menangkap dan mencatat gagasan utama dan gagasan penunjang dari si pembicara.
5. Dapat
membuat beberapa usul dan sugesti, dan meminta pendapat dan informasi sebanyak
mungkin.
6. Mengajukan
keberataan terhadap pendapat orang lain dengan mengemukakan argumentasi yang
lebih menyakinkan.
7. Ikut
menyimpulkan hasil diskusi.
Untuk dapat
menjadi pembicara yang baik, harus pula memperhatikan hal-hal berikut :
1. Siswa/mahasiswa
dibagi dalam kelompok-kelompok dan setiap kelompok melakukan persiapan diskusi.
2. Kelompok
tertentu berdiskusi dalam waktu tertentu (10 atau 15 menit)
3. Guru
menentukan komponen-komponen yang diamati atau yang dikomentari.
4. Kelompok
tertentu berdiskusi selama 10 atau 15 menit dan kelompok yang lain dan guru
aktif mengamati komponen-komponen yang telah disepakati.
5. Selesai
berdiskusi, para pengamat menyampaikan komentarnya. Dalam hal ini dapat
dilakukan dengan dua cara :
a.
Tiap kelompok mengemukakan komentarnya tentang
pembicara yang dimatinya melalui juru bicaranya. Anggota yang ain dapat
melengkapinya. Guru berperan membetulkan komentar tiap kelompok ini, karena
belum tentu komentar mereka tepat.
b.
Setiap anggota (peserta) diskusi bergabung ke
dalam kelompok pengamatnya. Mereka pun asyik berdiskusi tentang cara berbicara
pembicara atau diskusi yan diamati.
6. Peserta
diskusi bergabung dengan para pengamatnya. Para pengamat memberika umpan balik
tentang cara berbicara temannya. Dalam kelompok ini para siswa pun berlatih
mengemukakan pendapat
7. Kalau
semua kelompok telah mendapatkan giliran berdiskusi dengan cara yang sama, maka
dilanjutkan dengan kesempatan berdiskusi yang kedua. Supaya siswa/mahasiswa
tidak bosan, carilah variasi yang lain dari bentuk diskusi yang pertama.
8. Hasil
pengamatan siswa/mahasiswa yang dibuat dalam tabel penilaian sebaiknya
dikumpulkan guru/dosen dan kemudian diperiksa (diniai)
BAB 4
PIDATO DAN CERAMAH
4.1 PIDATO
Pidato
merupakan suatu hal yang sangat penting dan baik pada waktu sekarang maupun
pada waktu yang akan datang, karena pidato merupakan penyampaian dan penanaman
pikiran, informasi, atau gagasan dari pembicara kepada khalayak ramai. Agar
dapat berpidato dengan baik ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, antara
lain
1. Mempunyai
tekad dan keyakinan bahwa si pembicara mampu meyakinkan orang lain. Dengan
demikian tekad yang bulat akan tumbuh keberanian dan sikap pecaya dii sehingga
ia tidak akan ragu-ragu mengucapkan pidatonya;
2. Memiliki
pengetahuan yang luas, sehingga si pembicara dapat menguasai materi dengan
baik. Untik ini si pembicara sebaiknya banyak membaca dan mendengarkan
pembicaraan yang baik;
3. Memiliki
perbendaharaan yang luas, sehingga si pembicara mampu mengungkapkan pidato
dengan lancar dan meyakinkan;
4. Melakukan
latihan yang intensif. Berpidato memerlukan latihan, apalagi dihadapan massa.
4.1.1 Tata Krama Berpidato
Berhasil
atau tidaknya pidato ini juga ditentukan oleh tata krama dalam berpidato.
Perhatikanlah tata krama berpidato di bawah ini :
1. Jika
berpidato di hadapan umum, hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a.
Berpakaianlah yang rapi dan bersih, tetapi tidak
bergaya pamee dengan memakai perhiasan atau pakaian yang berlebihan.
b.
Gunakanlah kata-kata yang sopan dan jangan
memperlihatkan keangkihan, atau kepongahan, tetapi dengan rendah hati.
c.
Jika pidato panjang, agar tidak membosankan
pendengar hendaknya diselingi humor, namun humor itu harus sopan.
2. Jika
berpidato di depan wanita atau sebagian besar wanita dan yang berpidato pria,
perhatikanlah kata-kata yang digunakan, hendaknya jangan sampai menyinggung
perasaan.
3. Jika
berpidato di hadapan orang-orang terkemuka, hendaknya mempersiapkan diri dengan
sempurna; dengan demikian keyakinan kita akan tumbuh; selain itu kita tidak
perlu merasa renda diri.
4. Jika
berpidat di hadapan sesama golongan, kita harus terbuka dan terus terang dan
dapat agak santai, namun jangan melupakan tata krama.
5. ;jika
yang mendengarkan pidato kita itu pelajar atau mahasiswa, kita harus meyakinkan
mereka dengan argumentasi-argumentasi yang logis.
6. Jika
berpidato di depan pemeluk suatu agama, kita harus menjaga jangan sampai ada
satu ucapan pun yang menyinggung martabat suatu agama.
7. Jika
yang mendengarkan pidato kita itu masyarakat desa, gunakanlah kata-kata atau
kaimat yang sederhana, sehingga pidato kita itu mudah dimengerti.
4.1.2 Posisi Berpidato
Komunikasi
akan lebih efektif jika si pembicara dapat dilihat oleh pendengar. Usahakan
berdiri pada tempt tertentu, sehingga dapat dilihat oleh seluruh pendengar. Ada
juga pidato yang diucapkan di hadapan pendengar yang sama-sama duduk di lantai,
misalnya pertemuan-pertemuan di desa. Yang berpidato harus dapat menyesuaikan
diri dengan situasi.
4.1.3 Sistematika Berpidato
Secara
gatis besar sistematika berpidato adalah sebagai berikut :
1. Mengucapkan
salam pembuka dan menyapa para hadirin ;
2. Menyampaikan
pendhuluan yang biasanya dilahirkan dalam bentuk ucapan terima kasih, atau
ungkapan kegembiraan, atau rasa syukur ;
3. Menyampaikan
isi pidato, yang diucapkan dengan jelas dengan menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar dan degan gaya bahasa yang menarik ;
4. Menyampaikan
kesimpulan dari isi pidato, supaya mudah diingat oleh pendengar ;
5. Menyampaikan
harapan yang berisi anjuran atau ajakan kepada pendengar untuk melaksanakan isi
pidato ;
6. Menyampaikan
salam penutup.
4.1.4 Faktor Penunjang Keefektifan Berpidato
Agar
pidato sukses, di samping dapat menguasai masa, masih diperlukan hal-hal
berikut :
1. Pembicara
dituntut seseorang yang bermoral. Jika pembicara tidak bermoral dengan baik dan
diketahui oleh pendengar, maka pendengar akan mencemooh. Pe,bicara yang
bermoral baik dan jujur akan sangat berkesan bagi pendengar.
2. Pembicara
hendaknya sehat jasmani dan rohani, sehingga penampilannya dapat bersemangat,
gagah, dn simpatik.
3. Sarana
yang diperlukan endaknya cukup menunjang, misalnya publikasi; jika pidato
disampaika di hadapan massa, pengeras suara yang memadai, waktu da tempat yang
sesuai.
4. Jika
berpidato di hadapan masa, harus diperhatikan: volume suara, tingkat
pengetahuan massa, keadaan sosial, kebiasaan, adat-istiadat, dan agama, wktu
berbicara yang tidak begitu lama, pembicara arus bersabar dan menyesuaikan
gayanya dengan massa.
4.1.5 Persiapan Pidato
Menurut
Dr. Gorys Keraf ada tujuh langkah yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan
pidato yang baik, yaitu:
1. Menentukan
topik dan tujuan;
2. Menganalisis
pendengar dan situasi
3. Memilih
dan menyempitkan topik;
4. Mengumpulkan
bahan;
5. Membuat
kerangka uraian;
6. Menguraikan
secara mendetail;
7. Melatih
dengan suara nyaring.
Ketujuh
langkah tersebut dapat diringkas menjadi tiga langkah yang tetap, yaitu:
meneliti masalah (1, 2, dan 3), menyusun uraian (4, 5, dan 6), dan mengadakan
latihan (7).
4.1.5.1 Menentukan Topik dan Tujuan
Dalam
hal penentuan pokok atau topik pembicaraan yang akan disampaikan dalam pidato
perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Topik
yang dipilih hendaknya serba sedikit sudah diketahui, dan ada kemungkinan untuk
memperoleh lebih banyak keterangan atau informasi untuk melengkapinya.
2. Persoalan
yang disampaikan hendaknya menarik perhatian bagi para pembicara sendiri.
3. Persoalan
yang dibicarakan hendaknya juga menarik perhatian pendengar. Suatu topik dapat
menarik perhatian pendengar, karen:
a.
;topik itu mengenai persoalan para penddengar
sendiri;
b.
Merupakan suatu jalan keluar dari suatu
persoalan yang tengah dihadapi;
c.
Merupakan persoalan yang tengah ramai
dibicarakan dalam masyarakat, atau persoalan yang jarang terjadi;
d.
Persoalan yang dibawakan merupakan konflik
pendapat.
4. Tingkat
kesulitan persoalan yang akan dibahas hendaknya disesuaikan dengan tingkat
kemampuan pendengar.
5. Persoalan
yang disampaikan hendaknya dapat diselesaikan dalam waktu yang disediakan.
Selain topik,
perlu diperhatikan pula judul pidato. Judul adalah semacam slogan yang
menampilkan topik dalam bentuk yang menarik. Judul yang baik hendaknya bersifat
relevan, provokatif, dan singkat.
Tujuan Pembicaraan
Tujuan
pembicaraan tergantung dari keadaan dan keinginan pembicara. Tujuan pembicaraan
tersebut dapat dibedakan atas tujuan umum
dan tujuan khusus.
Tujuan Umum
Tujuan umum beserta reaksi-reaksi
umum yang terdapat dalam suatu uraian dapat dibedakan atas:
|
Tujuan Umum
|
Reaksi yang diinginkan
|
Sifat dan Jenis Uraian
|
|
1.
Mendorong
|
Membangkitkan emosi; inspirasi
|
Persuasif
|
|
2.
Meyakinkan
|
Persesuaian pendapat, intelektual,
keyakinan
|
Persuasif
|
|
3.
Bertindak/berbuat
|
Tindakan atau pebuatan tertentu dari
pendengar
|
Persuasif
|
|
4.
Memberitahukan
|
Pengertian yang tepat mengenai suatu
hal
|
Instruktif
|
|
5.
Menyenangkan
|
Minat dan kegembiraan
|
Reaktif
|
Tujuan Khusus
Tujuan
khusus dapat diartikan sebagai suatu tanggapan khusus yang diharapkan dari para
pendengar setelah pembicara selesai menyampaikan suatu uraian. Misalnya seorang
pembicara akan menyampaikan suatu uraian dengan topik “Cara Belajar yang
Efektif”, maka dapatlah dibuat tujuan umum dan tujuan kusus debagai berikut:
Topik : “Cara
Belajar Efektif”
Tujuan Umum : Mendorong
Tujuan Khusus : Untuk
menarik sebanyak mungkin agar para pendengar tertarik untuk melaksanakan cara
belajar yang efektif.
7.1.5.2 Menganalisis Situasi dan Pendengar
Menganalisis
situasi dan pendengar terlebih dulu jauh sebelum memberikan pidato perlu
dilakukan agar pembicaraan dapat mencapai tujuannya.
Menganalisis Situasi
Dalam
menganalisis situasi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Maksud
pengunjung mendengarkan uraian;
2. Adat
kebiasaan atau tata cara kehidupan pendengar;
3. Susunan
acara;
4. Tempat
pembicaraan berlangsung.
Menganalisis Pendengar
Ada beberapa
hal yang dapat dipakai untuk menganalisis pendengar yang akan dihadapi:
a.
Data-data
Umum
Yang perlu diperhatikan dalam data-data
umum ini adalah: jumlah pendengar, usia, pekerjaan, pendidikan, dan keanggotaan
sosial atau politik.
b.
Data-data
Khusus
Data-data khusu
yang perlu mendapat perhatian meliputi:
1.
Pengetahuan pendengar mengenai topik yang
dibawakan
2.
Minat dan keinginan pendengar
3.
Sikap pendengar
7.1.5.3 Memilih dan Menyempitkan Topik
Pemilihan
topik hendaknya disesuaikan dengan sifat pertemuan serta data dan informasi
tentang situasi pendengar yang akan hadir dalam pertemuan. Persoalan atau topik
yang akan disajikan jangan terlalu luas, melainkan harus disempitkan atau
dibatasi, disesuaikan dengan waktu yang disediakan.
Contoh
Topik luas : Pengajaran Bahasa Indonesia di SMA
Topik sempit (terbatas) : Masalah Pelaksanaan Pengajaran Mengarang di Sma DKI Jaya
4.1.5.4 Mengumpulkan Bahan
Lebih
banyak dan lebih lengkap bahan yang diperleh akan memperlancar pembicara dalam
menyusun suatu naskah. Bahan itu dapat diperoleh dari buku, majalah, da surat
kabar. Selain itu bahan dapat pula diperoleh dari wawancara dengan orang yang
dapat memberi informasi sehubungan dengan persoalan atau topik yang akan
dibahas, hasil observasi, penelitian, dan angket.
4.1.5.5 Membuat Kerangka Uraian
Kerangka
uraian yang dibuat itu sebaiknya terperinci dan tersusun baik. Dalam kerangka
tersebut persoalan atau topik yang akan dibahas dibag menjadi beberapa bagian
atau sub-topik.
4.1.5.6 Menguraikan Secara Detail
Dalam
penyusunan naskah hendaknya dipergunakan kata-kata yang tepat, penggunaan
kalimat yang efektif pemakaian istilah-istilah dan gaya bahasa yang dikehendaki
sehingga dapat memperjelas uraian.
Teknik
penyusuna askha dibawah ini dapat menjadi pediman:
1. Dalam
pengantar uraian perlu disampaikan suatu orientasi mengenai apa yang akan
diuraikan, serta bagaimana usaha untuk menjelaskan tiap bagian itu.
2. Dalam
memasuki materi uraian, pembicara tiap kali harus menekankan bagian-bagian yang
penting sebagai sudah dikemukakan pada awal orientasinya.
3. Padda
akhir uraian, pembicara sekali lagi menyampaikan ikhtisar seluruh uraiannya
itu, agar para pendengar dapat memperoleh gambaran secara bulat sekali lagi
mengenai seluruh persoalan yang baru saja dibicarakan.
4.1.5.7 Melatih dengan Suara Nyaring
Sebelum
menyampaikan suatu uraian di hadapan umum hendaknya pembicara terlebih dahulu
melakukan latihan membaca naskah, agar pada waktunya nanti dapat melakukan
pidato dengan lancar. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berbicara
di hadapan umu, baik berbicara di hadapan suatu kelompok kecil, maupun dalam
kelompok besar.
Pembicaraan pada kelompok kecil
1.
Gerak-gerik
2.
Teknik
Bicara
3.
Transisi
4.
Alat
Peraga
Pembicaraan pada Kelompok Besar
1.
Pembukaan
2.
Kecepatan
Berbicara
3.
Artikulasi
4.1.6 Metode Berpidato
Persiapan
yang dilakukan pada waktu menyusun sebuah naskah untuk disampaikan secara lisan
dalam bentuk pidato pada umumnya sama dengan persiapan sebuah karangan menulis.
Perbedaannya terletak dalam dua hal, yaitu (1) dalam menyampaikan lisan seperti
pidato perlu diperhatikan gerak-gerik, sikap, hubungan langsung dengan
pendengar, sedangkan dalam karangan tertulis hal itu sama sekali tidak
diperhitungkan., (2) dalam penyampaian lisan seperti pidato yidak ada kebebasan
bagi pendengar untuk memili mana yang harus didahulukan dan mana yang dapat diabaikan,
melainkan pendengar harus memperhatikan seluruh uraian itu, sedangkan dalam
karangan tertuis pembaca bebas memilih mana yang dianggapnya paling menarik dan
dbacanya terlebih dahulu dan bagian lain dapat dibaca kemudian atau ditunda.
Ada
empat macam metode penyampaian lisan seperti pidato yang perlu diketahui,
yaitu:
1. Metode
Impromptu (serta-merta)
Pembicara
sebelum berbicara tidak melakukan persiapan sama sekali, melainkan secara
serta-merta berbicara berdasarkan pengetahuannya dan kemampuannya. Kesanggupan
dan kemampuan penyampaian lisan seperti pidato menurut metode ini sangat
berguna dalam keadaan terdesak atau terpaksa, namun kegunaannya terbatas pada
waktu yang tidak terduga itu saja
2. Metode
Menghafal
Penyampaian
seperti pidato yang disajikan dengan metode ini dipersiapkan dan ditulis secara
lengkap lebih dulu, kemudian dihafal kata demi kata. Meodi ini juga sering
menyulitkan pembicara untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan reaksi-reaksi
pendengar ketika menyampaikan uraiannya.
3. Metode
Naskah
Metode ini
sifatnya agak kaku, sebab bila tidak atau kurang melakukan latihan yang cukup,
terjadi seolah-olah tidak ada hubungan antara pembicara dengan pendengar.
Pembicara harus dapat memberi tekanan dan variasi suara untuk menghidupkan
pembicaraannya.
4. Metode
Ekstemporan (tanpa persiapan naskah)
Suatu
variasi dari metode ekstemporan ialah pembicara menyiapka sebuah naskah yang
lengkap untuk menyampaikan lisan atau pidato, namun dalam pelaksanaan
penyampaian lisan atau pidato itu naskah trsebut tidak dibacakan, melainkan
hanya berfungsi sebagai catatan. Namun catatan yang sangat banyak atau
terinci akan selalu menggoda pembicara
untuk setiap kali ingin melihat catatan-catatan tersebut. Jika terjadi hal
demikian, maka ada dua kesan yang dapat disimpulkan, yaitu: (1) pembicara tidak
menguasai bahan dan (2) komunikasi langsung dengan para pendengar akan selalu
terganggu.
4.2 CERAMAH
Ceramah
adalah suatu cara penyampaian suatu keterangan atau informasi atau uraian
tentang suatu pokok persoalan atau masalah secara lisan. Dalam ceramah ada
beberapa hal yang merupakan ciri khas, yaitu:
1. Ada
sesuatu yang dijelaskan atau diinformasikan untuk memperluasn pengetahuan para
pendengar, biasanya disampaikan ileh seseorang yang memiliki keahlian atau
dianggap ahi dalam bidang atau disiplin ilmu tertentu;
2. Terdapat
komunikasi dua arah antara pembicara dan pedengar, yaitu berupa dialog, tanya
jawab, diskusi, dan sebagainya;
3. Dapat
digunakan alat bantu untuk memperjelas uraian, seperti Over Head Projector
(OHP), lembar peragaan, gambar, dan sebagainya.
BAB 5
SEMINAR: SALAH SATU RAGAM BERBICARA ILMIAH
5.1 PENGERTIAN SEMINAR
Seminar
adalah suatu pertemuan yang bersifat ilmiah yang membahas suatu masaah tertentu
dengan prasaran serta tnggapan melalui suatu diskusi untuk mendapatkan sutu
keputusan bersama mengenai masalah tersebut. Tujuan utamanya adalah untuk
mencari jalan pemecahan dari suatu masalah. Oleh sebab itu, seminar harus
diakhiri dengan kesimpulan atau keputusan-keputusan, baik berupa usul, saran,
solusi, maupun rekomendasi.
Di
Perguruan tinggi, khususnya Perguruan Tinggi Negeri dikenal suatu bentuk
seminar yang disebut seminar akademik mahasiswa. Seminar akademik mahasiswa
aalah pertemuan para mahasiswa untuk mengkomunikasikan dan mendiskusikan hal
penelitian institusional atau hasil studi mereka dan mediskusikan
masalah-masalah yang hendak diteliti pada penelitian berikutnya.
Seminar
akademik mahasiswa itu secara garis besar memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Saling
memberikan andil pertemun yang diperoleh dari penelitian institusiona, dan
mengkaitkan dengan pembinaan dan pengembangan institusi.
2. Melalui
pertukaran pengalaman, mengidentifikasi masalah-masalah kelembagaan yang
dijumpai dalam penelitian institusi dan mengkajinya dalam kaitannya dengan
penelitian dan pengembangan institusi berikutnya.
3. Mengembangkan
rencana dan metodologi penelitian institusional baru, khusunya yang sesuai
dengan lingkungan dan kondisi masing-masing institusi.
4. Mempertimbangkan
cara-cara dan sarana-sarana dengan mana pertemuan penelitian istitusional dapat
dijadikan masukan dalam usaha pembinaan dan pengembangan institusi
Format Laporan Seminar
i.
Judul Seminar
ii.
Tema Seminar
iii.
Tujuan Seminar
iv.
Topik atau pokok-pokok permasalahan yang dibahas
v.
Waktu penyelenggaraan
vi.
Penyelenggaraan:
(Perguruan Tinggi/Unit Organisasi, Susunan
Panitia Pengarah, dan Panitia Penyelenggara)
vii.
Jumlah Peserta dan Asal Lembaga:
(Daftar Peserta Terlampir)
viii.
Jadwal Acara:
(Terlampir)
ix.
Sumber Biaya
(Jumlah biaya keseluruhan dan sumber biaya)
x.
Hasil-hasil/Kesimpulan dan Rekomendasi
(Terlampir semua makalah dan sambutan penting
jika ada)
5.2 PERSIAPAN SEMINAR
Sebagai
pedoman dapat diikuti mekanisme berikut:
1. Penentuan
Topik dan Tujuan
Dalam penentuan
topik atau tema tersebut perlu diperhatikan hal-hal sebagai beikut:
a.
Topik hendaknya menari perhatian peserta;
b.
Topik dapat merangsang masyarakat untuk ingin
mengetahui sesuatu.
2. Penentuan
Waktu dan Tempat
Waktu seminar
sebaiknya dikaitkan dengan perostswa-peristiwa sejarah atau nasioal. Jika
seminar itu lebih kecil, penentuan waktu perlu diperhatikan, sehinggan dapat
dihadiri oleh para peserta. Mengenai penentuan tempat hendaknya perlu
diperhatikan masalah transportasi, kapasitas, dan biaya.
3. Persiapan
Fasilitas
Segala kebutuhan
atau fasilitas bagi kelancaran seminar hendaknya dipersiapkan sebaik-baiknya,
seperti:
a.
Tempat duduk yang memadai;
b.
Cahaya yang cukup terang dan sirkulasi udara
yang menyegarkan alam ruangan;
c.
Alat-alat peraga (visual, audio visual) yang
diperlukan;
d.
Ublikasi
Penyelenggaraan
seminar tersebut perlu diinformasikan kepada masyarakat atau peserta, terutama
mengeai:
a.
Tujuan seminar diselenggarakan;
b.
Tema atau topik masalah yang akan diseminarkan;
c.
Persyaratan para peserta;
d.
Pendaftaran peserta, dan
e.
Peserta yang bersedia menjadi pemrasaran.
5.3 PELAKSANAAN SEMINAR
Di
bawah ini akan diuraikan peranan para fungsionaris:
1. Perana
Pemimpin Seminar (Diskusi)
Gaya
kepeminpinan yang mungki akan timbul:
a.
Otoriter
Pemimpin seminar mendominasi seluruh proses diskusi.
b.
Jliberal
Pemimpin seminar membiarkan para peserta mengeluarkan
pendapatnya sebebas-bebasnya.
c.
Demokratis
Pemimpin seminar memberikan kesempatan sebanyak mugkin
kepada para peserta untuk mengemukakan pendapat-pendapatnya dalam batas-batas
tertentu.
d.
Manipulasi diplomasi
Pemimpi diskusi memaksakan secara halu pendapat-pendapatnya
untuk disetujui oleh para peserta.
Dalam
memipin seminar, pemimpin seminar mempunyai tugas sebagai berikut:
a.
Menjeaskan tujuan dan maksud semibar (diskusi);
b.
Menjamin kelansungan seminar secara teratur dan
tertib;
c.
Memberikan stimula, anjuran, ajakan, agar setiap
peserta betul-betul berperanserta dalam diskusi tersebut;
d.
Menyimpulkan dan merumuskan setiap pembicaraan
dan kemudian membuat kesimpulan atas persetujuan dan kesepakatan bersama;
e.
Menyiapkan laporan
Pemimpin
seminar seminar yang baik adalah yang memiliki kriteria sebagai berikut:
a.
Mampu berpikir jelas dan cepat
b.
Bersikap tidak kaku (luwes)
c.
Mempunyai kesanggupan menganalisis
d.
Berpandangan onjektif
e.
Tidak boleh berprasangka
f.
Bersikap sabar
g.
Cerdik dalam menangani masalag yang timbul pada
peserta
h.
Mempunyai keseimbangan dan pengendalian diri
i.
Mempunyai rasa humor
2. Peranan
Seketaris
Seketaris
seminar mempunyai tugas:
a.
Mencatat hasil-hasil seminar yang dicpai;
b.
Mencatat proses atau prosedur seminar yang
berlangsung;
c.
Membantu pemimpin seminar menyimpulkan dan
merumuska hasil seminar.
3. Peranan
Peserta
Untuk dapat
menjai peserta yang baik hendaknya diperhatikan hal-hal berikut:
a.
Menguasai masalah yang diseminarkan
b.
Mendengarkan pembicaraan dengan penuh perhatian
c.
Menunjukkan rasa solidaritas dan partisipasi
d.
Sapat menangkap gagasan utama dan memahami
gagasan penunjang pembicaraan seseorang.
e.
Dapat membuat usul dan sugesti.
f.
Dapat meminta pendapat dan informasi sebanyak
mungkin.
g.
Dapat mengajukan pertnyataan dan dapat meminta
dasar pendirian seseorang.
h.
Jika mengajukan keberatan dapat mengajukan
contoh dan argumentasi.
i.
Ikut menyimpulkan hasil seminar.
BAB 6
PENILAIAN KEMAMPUAN BERBICARA
6.1 FAKTOR-FAKTOR YANG
DINILAI
Faktor-faktor
yang dinilai dalam keefektifan berbicara:
1.
Faktor kebahasaan, yang mencakup:
a.
Pengucapan vokal
b.
Pengucapan konsonan
c.
Penempatan tekanan
d.
Penempatan persendian
e.
Penggunaan nada/irama
f.
Piliham kata
g.
Pilihan ungkapan
h.
Variasi kata
i.
Tata bentukan
j.
Struktur kalimat
k.
Ragam kalimat
2.
Faktor nonkebahasaan mencakup:
a.
Keberanian dan semangat
b.
Kelancaran
c.
Pandangan mata
d.
Gerak-gerik dan mimik
e.
Keterbukaan
f.
Penalaran
g.
Penguasaan topik
|
FAKTOR NONKEBAHASAAN
|
Penguasaan topik
|
|
|
|
Penalaran
|
|
||
|
Keterbukaan
|
|
||
|
Gerak-gerik
|
|
||
|
Pandangan
|
|
||
|
Kenyaringan suara
|
|
||
|
Kelancaran
|
|
||
|
Keberanian/semangat
|
|
||
|
FAKTOR KEBAHASAAN
|
Ragam kalimat
|
|
|
|
Struktur kalimat
|
|
||
|
Tata bentuk
|
|
||
|
Variasi kata
|
|
||
|
pilihan
|
Ungka-pan
|
|
|
|
Kata
|
|
||
|
Nada/iraama
|
|
||
|
Penempatan
|
Persendian
|
|
|
|
Tekanan
|
|
||
|
Pengucapan
|
Konsonan
|
|
|
|
Vokal
|
|
||
|
Nama
|
|
||
|
No.
|
|
||
6.2 CARA PENILAIAN
1. Pengisian
kolom-kolom pada tabel penilaian tidak perlu dilakukan sekaligus, tetapi
bertahap. Dengan latihan yang berulang-ulang akhirnya semua komponen dalam
tabel akan terisi.
2. Mulailah
dengan faktor yang lebih mudah. Misalnya faktor keberanian. Kalau faktor
keberanian sudah dimiliki, kita agak mudah melatih faktor-faktor yang lain.
3. Sewaktu
seseorang atau sekelompok siswa/mahasiswa berbicara, yang lain diberi tugas
sebagai pengamat.
4. Setelah
siswa/mahasoswa selesai berbicara, siswa/mahasiswa yang bertugas sebagai
pengamat mengemukakan komentarnya. Tentu saja guru sangat berperan karena
komentar dari siswa/mahasiswa belum tentu tepat. Dalam hal ini yang harus
diperhatikan guru/dosen adalah:
a.
Kalau siswa berbicara sebagai individual, yang
lain berperan sebagai pengamat.
b.
Kalau siswa/mahasiswa berbicara dalam kelompok,
siswa/mahasiswa yang lain dapat melakukan pengamatan secara individual.
Caranya:
-
Sekelompok siswa/mahasiswa berdiskusi
-
Siswa/mahasiswa yang lain juga dibagi dalam
kelompok-kelompok sebanyak siswa yang berdiskusi. Tiap kelompok mengamati
seorang pembicara, sehingga seorang pembicara mendapat umpan balik dari
beberapa orang.
-
Selesai berbicara pengamat mengemukakan
komentarnya.
Keterangan
gambar:
c.
Tiap kelompok pengamat menunjuka salah seorang
anggotanya untuk mengmukakan komentarnya. Anggota ain dapat melengkapi
kekurangannya. Guru berperan menilai ketepatan komentar setiap kelompok.
d.
Selesai berbicara, setiap pembicara bergabung
dengan kelompok pengamatnya. Mereka berdiskusi tentang cara berbicara
pembicara. Pengamat memberikan informasi bergantian dan pembicara mendengarkan
dengan baik. Perhatika gambar di bawah ini
![]() |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Keterangan
gambar:
Secara
garis besarnya pelaksanaan penilaian ini dapat digambarkan seperti berikut:
1.
Guru/dosen memberi tugas kepada siswa/mahasiswa
untuk melakukan kegiatan berbicara, dalam waktu tertentu.
2.
Guru/dosen menentukan faktor-faktor yang dinilai
atau diamati.
3.
Siswa/mahasiswa yang tidak mendapat giliran
berbicara, diberikan tugas mengamati berdasarkan pedoman penilaian, baik secara
individual maupun kelompok.
4.
Guru/dosen dan siswa/mahasiswa aktif mengamati
dan mengisi tabel penilaian dengan komentar.
5.
Selesai kegiatan berbicara, para pengamat
mengemukakan komentarnya. Dalam hal ini guru/dosen memperhatikan komentar
siswa/mahasiswa dan membetulkam komentar yang kurang tepat.
6.
Setelah itu kegiatan berbicara diulang kembali
untuk melihat perubahan berbicara pembicara setelah mendapat umpan balik.







Terima kasih info nya
BalasHapuspembicara wanita
syukron syukron...smg bermanfaat .amin
BalasHapus